BerandaEdukasiGuru Substansi

Guru Substansi

foto: dok. pribadi La Oddang Tosessungriu
Mengajar (foto: dok. pribadi La Oddang Tosessungriu)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – Apakah subtansi itu? Definisi kata yang terhimpun pada kalimat, justru mengaburkan makna “subtansi” itu sendiri, kilah Si Fakir Akademik ini.

Syahdan, Mullah Nashruddin Hoja kedatangan tamu dari negeri yang jauh. Maksud kedatangannya, tak lain untuk “berguru” kepada Sang Mullah yang tersohor itu.

Ikhtiar baik itupun diterima Nashruddin dengan tangan terbuka. Si Murid baru itu dipersilahkan untuk tinggal di rumah gurunya yang amat sangat sederhana.

Bahwa setelah kematian istrinya, Nashruddin hidup sendiri dan berdiam di rumah yang sederhana. Alhasil, beliau kini bersuka cita mendapati murid yang mau tinggal bersamanya, sehingga ia tak kesepian lagi.

Malam telah tiba, Nashruddin sibuk di depan tungku, memasak bubur untuk makan malam. Si Murid memperhatikan sosok gurunya yang “minimalis” itu, sibuk meniup api yang melalap kayu bakar di tungku. “Kenapa apinya DITIUP, guru?” – tanyanya heran.

Sambil menyeka matanya yang pedis terkena semburan asap dengan ujung sorbannya, Nashruddin menjawab sekenanya: “Agar buburnya cepat PANAS”.

Bubur didalam belanga tanah itupun telah masak. Nashruddin menyendok bubur panas yang mengepul itu kedalam dua mangkok, untuk murid dan dirinya sendiri.

Tibalah waktunya makan, Nashruddin menyendok buburnya, lalu ditiup-tiupnya terlebih dahulu. Melihat tingkah gurunya, Si Murid bertanya kemudian, “Kenapa buburnya DITIUP lagi, guru?”

“Agar buburnya cepat DINGIN”, sahut Nashruddin.

Seketika itu, si murid meletakkan mangkuk buburnya, beranjak meraih buntalannya. “Saya tidak jadi berguru padamu,  karena anda tidak konsekuen,”  – katanya sambil melangkah keluar dari rumah Nashruddin, pergi tengah malam dengan amat kecewa.

Bahwa apakah segala sesuatu yang dilakukan, mesti memiliki subtansi menurut tujuannya? Nashruddin Hoja adalah seorang guru yang tidak terlalu pusing dengan subtansi yang terdefinisi oleh kata, termasuk oleh etika normatif.

Pada suatu ketika, beliau berjalan beriringan dengan para Mullah lainnya menuju Mesjid. Tadinya beliau berjalan pada iringan paling belakang.

Kesederhanaan wataknya berkata, “Tidakkah semestinya engkau yang terdepan, mengingat engkau yang tersenior diantara mereka?”  Beliau memacu keledai tunggangannya, hingga pada jajaran terdepan.

Namun kebijaksanaan wataknya berkata pula, “Bukankah anda merasa terlalu tinggi hingga membelakangi iring-iringan?”

Dengan menghela nafas panjang, “Baiklah….,” katanya. Lalu beliau memutar arah duduknya di pelana. Nashruddin menunggang keledai dengan arah duduk menghadap kebelakang!

Alkisah pada lain ketika, merupakan suatu kehormatan besar, didudukkan panitia Maudu’ Lompoa pada kursi terdepan menghadap panggung pertunjukan.

Betapa beruntungnya menonton pertunjukan Tari PEpE-PEpEka Ri Makka yang dibawakan oleh Sang “Anrong Guru-nya” sendiri. “PEpE-pEpEka ri Makka, LentEraiyya ri Madinah, Yaa Allah Paroba sai, Nataka’bErE’ dunia, …”, demikian lagu itu dinyanyikan tak terputus mengiringi atraksi tarian Sang Master dengan pengiringnya.

Namun keasyikan menonton itu buyar seketika ketika protokol memanggil namaku untuk “naik” ambil bagian dalam atraksi itu. “Imbas efek samping kursi terdepan…”, gerutu hatiku seraya beranjak naik dengan “cemas”.

Jadilah lengan dan tubuhku disulut kiri kanan oleh obor menyala-nyala dari sumbu kompor itu.

“Apakah anda cemas terbakar?”, andai ada yang bertanya. ” Saya tidak cemas, kuyakin jika Sang Anrong Guru dengan izin Allah melunakkan sifat api terhadap kulitku.

Namun yang kucemaskan adalah bajuku. Ini baju baru pemberian Andi Muawiyah Ramly Opu To Tenrirua..”, pasti demikian jawabanku.

Apa hubungan pengalaman anda dengan kisah Mullah Nashruddin? – tanya nuraniku kini. Subtansi api dan posisi terdepan, itulah hubungannya.

Segala apapun, pasti ada konsekwensinya. Jikalau konsekwensi dipahami sebagai “akibat”, efeknya tergantung dari kekuatan niat yang bernama : keyakinan.

Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)

Berita sebelumyaWapres latah!
Berita berikutnyaMilenial dalam Obsesi Jokowi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT