BerandaEdukasiMenjaga Tradisi Ilmu, Berkarya, dan Menjadi Teladan "Guru Pembelajar"

Menjaga Tradisi Ilmu, Berkarya, dan Menjadi Teladan “Guru Pembelajar”

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Guru Pesantren sebagai Ulul Albab: Mengintegrasikan Akal, Hati, Ilmu, Hikmah, dan Amal

PALONTARAQ.ID – Ada satu pertanyaan yang sesekali penulis ajukan kepada diri sendiri: sebenarnya, seperti apa guru yang layak disebut teladan? Apakah guru teladan adalah guru yang paling lama mengajar? Apakah yang paling banyak sertifikat dan penghargaannya? Apakah berstatus kepala sekolah dan menjadi yang paling sering didengar suaranya? Ataukah guru yang dikenal luas, akrab dan dipanggil “tuan guru” oleh masyarakat?

Semua itu mungkin bagian dari refresentasi persepsi terhadap sosok seorang guru. Tetapi bagi saya, keteladanan seorang guru tidak berhenti pada pencapaian yang terlihat. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, salah satunya yaitu, “Apakah seorang guru masih memiliki kegairahan untuk belajar setelah bertahun-tahun mengajar?”

Pertanyaan itulah yang terus penulis bawa dalam perjalanan sebagai guru dan pengasuh di lingkungan pesantren. Penulis semakin menyadari bahwa menjadi guru berarti bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ketika berada di depan kelas, ya memang berdiri sebagai guru. Tetapi ketika berhadapan dengan kitab, guru yang lebih senior, majelis ilmu, forum ilmiah, seminar, dauroh, atau diskusi, seorang guru harus menjadi “pembelajar”, dan kembali menjadi seorang murid.

Di situlah penulis menemukan makna lain dari profesi pendidik. Bahwa seorang guru adalah yang tidak pernah benar-benar selesai belajar. Pekerjaan mengajar sejatinya adalah amanah yang menuntut seorang guru untuk terus bertumbuh. Mengajar di lingkungan Pondok Pesantren memberi penulis pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Pondok Pesantren adalah ruang pendidikan yang mempertemukan ilmu, adab, kedisiplinan, organisasi, kepemimpinan, kehidupan bersama, dan pembentukan karakter. Di sana, guru tidak hanya mengajar mata pelajaran. Guru juga menjadi orang yang dilihat dan dipandang sebagai “teladan” oleh santri dalam kesehariannya.

Cara guru berbicara diperhatikan. Cara guru menyelesaikan persoalan diperhatikan. Cara guru memperlakukan orang lain diperhatikan. Bahkan bagaimana guru menyikapi kesalahan, menghadapi kesulitan, membaca buku, dan menggunakan waktunya pun secara tidak langsung menjadi pembelajaran.

Karena itu penulis sering berpikir, barangkali pelajaran paling kuat yang diberikan seorang guru dalam lingkungan Pondok Pesantren bukanlah apa yang ditulisnya di papan tulis, melainkan apa yang diperlihatkan melalui kehidupannya. Jika meminta santri rajin membaca, sementara guru jarang membaca, pesan yang sampai kepada mereka menjadi lemah.

Jika kita meminta santri gemar menulis, sementara gurunya sendiri tidak pernah berkarya, keteladanan itu menjadi kurang sempurna. Jika kita meminta santri aktif mengikuti kegiatan keilmuan, sementara gurunya merasa cukup dengan ilmu yang telah dimiliki, ada kontradiksi yang sulit dihindari. Karena itu, penulis berusaha menjadikan aktivitas belajar sebagai bagian dari kehidupan seorang guru.

***

Salah satu bentuk ikhtiar penulis untuk terus belajar adalah menulis, ngeblog, menjadi guru go blog. Ya, mengajar dari Ruang Kelas ke Ruang Digital: Menulis dan Ngeblog. Penulis telah lama mengakrabi dan sangat menikmati dunia blogging, bukan sekadar aktivitas untuk menelorkan esai, puisi, cerpen atau artikel, tetapi lebih kepada media untuk berbicara dengan diri sendiri. Setelah membaca sesuatu, saya mencoba menuliskannya.

Setelah menemukan gagasan, mencoba mengembangkannya. Setelah mendapatkan pengalaman baru dan unik dari kelas, organisasi santri, kegiatan pesantren, atau interaksi sosial, mencoba merefleksikannya dalam tulisan. Dengan menulis, seorang guru tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga berusaha menjadi produsen pengetahuan, sekurang-kurangnya dalam bentuk gagasan dan pengalaman yang terdokumentasikan.

Blog bagi penulis kemudian menjadi semacam ruang kelas yang tidak memiliki dinding. Jika dalam ruang kelas memungkinkan berbicara kepada santri dalam waktu tertentu, maka tulisan memungkinkan gagasan tersebut berjalan lebih jauh. Ia dapat dibaca kembali, dibagikan, dikritisi, dan dikembangkan oleh orang lain.

Karena itu, produktivitas menulis tidak semata dipahami sebagai upaya mengejar jumlah tulisan. Yang lebih penting adalah menjaga agar pengalaman dan pengetahuan tidak hilang begitu saja. Percayalah, bahwa guru yang menulis adalah guru yang sedang meninggalkan jejak intelektual bagi murid-muridnya.

Begitu pula ketika penulis diminta menjadi pemateri dalam kegiatan kepenulisan, organisasi kesiswaan, maupun latihan dasar kepemimpinan juga menjadi bagian penting dari perjalanan sebagai seorang guru.  Menjadi pembicara ternyata bukan hanya tentang berbicara kepada orang lain. Ia juga memaksa kita untuk kembali belajar.

Sebelum menyampaikan materi, maka harus membaca. Sebelum berdiskusi, maka harus mempersiapkan diri. Sebelum menjawab pertanyaan peserta, maka harus memastikan bahwa apa yang disampaikan memiliki dasar logika, relevansi, informasi dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, setiap kesempatan menjadi pemateri sesungguhnya adalah kesempatan untuk belajar kembali.

Penulis juga belajar bahwa berbicara kepada santri membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan berbicara kepada orang dewasa. Bahasa harus disederhanakan tanpa menyederhanakan substansi. Gagasan harus dibuat dekat dengan pengalaman mereka. Teori harus dihubungkan dengan kehidupan nyata.

Dalam kegiatan kepenulisan, misalnya, penulis ingin menanamkan kepada santri bahwa mereka tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Tulislah apa yang dilihat, apa yang dibaca, apa yang dialami dan dirasakan, dan apa yang dipikirkan. Sementara dalam kegiatan organisasi dan latihan dasar kepemimpinan, penulis menanamkan kesadaran bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi paling tinggi, melainkan tentang tanggung jawab paling besar.

Santri perlu belajar bahwa seorang pemimpin harus mampu mendengar, bekerja sama, mengambil keputusan, menerima kritik, mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab terhadap amanah. Ya, Organisasi Santri adalah Laboratorium Kepemimpinan. Di dalam organisasi, santri belajar sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan melalui buku teks.

Mereka belajar mengadakan kegiatan, menyusun kepanitiaan, membagi tugas, mengelola waktu, berkomunikasi, menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, dan mempertanggungjawabkan amanah. Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai pembimbing, bukan sebagai penguasa seluruh keputusan. Ada kalanya santri harus dibiarkan mencoba. Ada kalanya mereka melakukan kesalahan. Ada kalanya kegiatan tidak berjalan sesuai rencana.

Tetapi dari sanalah pendidikan berlangsung. Kita harus percaya bahwa kesalahan yang dibimbing dengan baik dapat menjadi guru yang sangat berharga. Karena itu, mendampingi organisasi santri bukanlah pekerjaan tambahan. Ia merupakan bagian dari proses pendidikan karakter dan kepemimpinan.

***

Sebagai seorang guru, apalagi sebagai pengasuh dalam lingkungan Pondok Pesantren, sangat penting untuk selalu menghadiri Majelis Ilmu. Kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat baik untuk menjaga kerendahan hati Seorang Guru. Di luar aktivitas mengajar dan membina santri, penulis berusaha menjaga hubungan dengan majelis-majelis ilmu, baik langsung maupun online. 

Penulis banyak menghadiri kajian, dauroh, seminar ilmiah, webinar, diskusi, dan berbagai forum pembelajaran yang memungkinkan penulis memperoleh perspektif baru. Mengapa seorang guru masih perlu menghadiri majelis ilmu? Karena guru juga membutuhkan guru.

Seorang guru yang terlalu lama berada di depan kelas dapat tanpa sadar merasa dirinya sudah mengetahui banyak hal. Padahal semakin luas ilmu yang dipelajari, semakin terlihat betapa luas pula wilayah yang belum diketahui. Majelis ilmu mengingatkan guru untuk tetap menjadi murid.

Di sana penulis kembali mendengar. Kembali mencatat. Kembali bertanya. Kembali mengoreksi pemahaman. Dan yang paling penting, kembali belajar tentang adab terhadap ilmu dan orang-orang berilmu. Menghadiri majelis ilmu, yang paling utama adalah mengejar pemahaman, bukan mengejar ijazah sanad, lebih dari itu juga, untuk menjaga interaksi keilmuan dengan “para pencari ilmu”, serta menjaga mata rantai keilmuan dengan para guru.

Salah satu perjalanan yang memiliki makna tersendiri bagi penulis adalah ikhtiar mendalami khazanah sanad keilmuan dan sanad kutub turots.  Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad bukan sekadar daftar nama guru. Ia merupakan kesadaran bahwa ilmu memiliki mata rantai transmisi.

Ada guru yang mengajarkan kepada murid. Murid belajar, memahami, mengamalkan, kemudian mengajarkannya kembali. Tradisi ini memberikan pelajaran penting bahwa ilmu tidak semestinya dipisahkan dari adab dan otoritas keilmuan. Di tengah zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh melalui internet dan media sosial, penulis justru semakin merasakan pentingnya hubungan langsung dengan guru.

Mesin pencari Google dapat menemukan informasi. Media sosial dapat mempercepat penyebaran pengetahuan. Kecerdasan buatan dapat membantu mengolah informasi. Tetapi hubungan guru dan murid tetap memiliki dimensi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi: keteladanan, adab, koreksi, bimbingan, dan tanggung jawab keilmuan.

Karena itu, mengejar sanad keilmuan guru bukan perlombaan mengumpulkan ijazah. Ia adalah perjalanan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa ilmu bukan milik kita sepenuhnya. Kita hanya menerima amanah untuk mempelajarinya, menjaganya, dan menyampaikannya dengan benar.

***

Dalam perjalanan sebagai guru, tentu ada berbagai pencapaian yang patut disyukuri. Ada karya yang lahir, kegiatan yang berhasil dilaksanakan, forum ilmiah yang diikuti, materi yang disampaikan, tulisan yang dipublikasikan, dan berbagai aktivitas produktif lainnya. Namun, penulis berusaha untuk tidak menjadikan prestasi dan pencapaian sebagai tujuan akhir.

Prestasi adalah buah. Sedangkan akar dari semuanya adalah proses belajar, bekerja, berdisiplin, dan memberikan manfaat. Penulis juga semakin memahami bahwa produktivitas guru tidak harus selalu diukur melalui penghargaan formal. Ada prestasi yang mungkin tidak pernah mendapatkan piagam. Misalnya, ketika menyaksikan seorang santri yang pemalu akhirnya berani berbicara di depan umum, itu adalah prestasi.

Ketika seorang santri mulai gemar membaca, itu prestasi. Ketika seorang santri berani menulis, itu prestasi. Ketika seorang santri mampu memimpin teman-temannya dengan baik, itu prestasi. Dan ketika seorang mantan santri kembali suatu hari nanti lalu berkata, “Ustaz, ada satu nasihat yang dulu pernah Ustaz sampaikan dan sampai sekarang masih saya ingat,” mungkin itulah salah satu bentuk penghargaan paling bermakna bagi seorang guru.

Penulis idak ingin menempatkan diri sebagai guru yang sudah selesai dan sempurna. Justru dengan semakin banyak belajar, harus  semakin menyadari banyaknya kekurangan. Masih banyak buku yang belum dibaca. Masih banyak kitab yang belum dipahami. Masih banyak tulisan yang belum selesai. Masih banyak kompetensi yang harus diperbaiki. Masih banyak kesempatan belajar yang harus dimanfaatkan.

Karena itu, menjadi guru teladan bukan berarti menjadi guru tanpa kekurangan. Menjadi teladan berarti menunjukkan kepada peserta didik bagaimana seseorang menghadapi kekurangan dengan terus belajar dan memperbaiki diri.

Penulis ingin santri melihat bahwa gurunya juga membaca. Bahwa gurunya juga belajar. Bahwa gurunya juga menghadiri majelis ilmu. Bahwa gurunya juga mengikuti seminar dan dauroh. Bahwa gurunya juga menulis. Bahwa gurunya juga berdiskusi. Bahwa gurunya juga mau menerima nasihat. Dan bahwa gurunya tidak pernah merasa terlalu tua, terlalu senior, atau terlalu berpengalaman untuk kembali menjadi murid.

Pada akhirnya, perjalanan penulis sebagai guru membawa pada satu kesimpulan sederhana: mengajar dan belajar adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Guru harus tetap mengajar agar ilmu dapat bermanfaat dan berberkah, tetap belajar agar apa yang diajarkan tidak berhenti pada pengetahuan lama, tetap menulis agar pengalaman dan gagasan tidak hilang, tetap menjadi pemateri agar dapat berbagi sekaligus belajar dari peserta.

Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu cita-cita: menjadi pendidik yang terus bertumbuh agar mampu membantu generasi berikutnya tumbuh lebih baik. Sebab guru bukanlah manusia yang telah selesai belajar. Guru adalah manusia yang memilih untuk tidak berhenti belajar.

Dan mungkin, keteladanan yang paling sederhana yang dapat diwariskan kepada para santri bukanlah daftar panjang aktivitas atau pencapaian yang pernah dilakukan, melainkan satu pesan yang dapat mereka lihat melalui kehidupan gurunya, “JANGAN PERNAH MERASA SELESAI DENGAN ILMU. TERUSLAH MEMBACA, TERUSLAH BELAJAR, TERUSLAH BERKARYA, TERUSLAH BERGURU, DAN TERUSLAH MEMBERI MANFAAT”.

Sebab ilmu yang berhenti pada diri sendiri akan menjadi pengetahuan. Tetapi ilmu yang dipelajari, diamalkan, dituliskan, diwariskan, dan digunakan untuk membentuk manusia lain menjadi lebih baik—itulah ilmu yang hidup. Dan sebagai seorang guru, penulis ingin terus berada dalam perjalanan menghidupkan ilmu itu. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Blogger

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT