Fiksi Film Joker dan Pembenaran terhadap Kejahatan

Film Joker dan Pembenaran terhadap Kejahatan

-

- Advertisment -

Film Joker di Studio XXI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Film Joker di Studio XXI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Santri dalam “The Santri”? 

PALONTARAQ.ID –  Film Joker menjadi heboh.  Ternyata film yang telah rilis di Bioskop-bioskop seluruh dunia sejak Hari Rabu (2/10/2019) lalu ini menuai banyak kontroversi.

Film yang diperankan oleh Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck atau Joker ini menceritakan tentang badut pinggiran yang mengamuk dan melakukan pembunuhan, termasuk ibunya sendiri dibunuhnya.

Kondisi Arthur ‘Joker’ yang menjadi komedian,  yang menjadi frustrasi karena mendapatkan pelecehan dan ejekan, baik terhadap profesinya, maupun terhadap kegagalannya melucu, perlahan-lahan kondisi mentalnya menurun,  hingga akhirnya menjadi gila.

Obsesinya untuk tetap tampil sebagai “The Joker” membawanya kepada suatu acara televisi, yang mana pembawa acaranya pernah pula melecehkan komedinya, hingga membuat semua penonton saat mengakui bahwa dirinya yang melakukan penembakan tiga remaja tanggung di stasiun kereta api.

Pada akhirnya pembawa acara televisi itu juga dibunuhnya dengan cara yang sangat sadis, menembak kepalanya.  Joker di satu sisi ada yang menyetujui pendapatnya, alasannya menyebabkan pembunuhan, hingga pada akhirnya menyebabkan kekacauan di Kota Gotham. Di sisi lain, banyak pula masyarakat kota yang tidak setuju dengan tingkah gilanya tersebut.

The Joker. (foto: ist/palontaraq)
The Joker. (foto: ist/palontaraq)

Film Joker ini memiliki kritikan yang beragam dari berbagai penonton dan kritikus. Beberapa mengatakan jika Film Joker ini terlalu menakutkan, sementara yang lain menyebutkan bahwa film tersebut memiliki penggambaran yang sangat baik.

Dikutip dari Daily Mail, meski Film Joker memecahkan rekor Box Office di hari penayangan, tidak semua orang menyukai film besutan Warner Bros ini.

On fan menulis di Twitter: ‘Secara harfiah baru saja keluar dari pemutaran film Joker. Terlalu mengerikan untuk berada di sana dengan semua yang terjadi saat film ini mengagungkan kekerasan senjata dan masalah kesehatan mental.’

Sementara yang lainnya menyerukan agar Film Joker dilarang tayang di Bioskop dikarenakan mempromosikan kekerasan bahkan dapat menginspirasi penembakan massal.

Dikutip dari CNN.com, sebelum Film Joker ini dirilis, Warner Bros sempat menghadapi protes dari keluarga korban penembakan massal yang merasa khawatir akan film ini.

Film Joker ini sebagaimana yang sempat penulis saksikan adalah sangat tidak layak tonton, khususnya bagi anak dan remaja yang belum memiliki kematangan emosional. Secara psikologis, film ini justru mengajarkan pembenaran untuk melakukan kejahatan jika merasa diri didzalimi atau direndahkan.

Film ini tentang seseorang yang menyebut dirinya “the Joker”, komedian, yang merasa didzalimi, merasa gagal, tetapi ketika dia membunuh orang dia merasa ada kelapangan hati. Hal ini dilakukannya sebagai balasan atas dirinya yang dihina, dizalimi, direndahkan dan dilecehkan.

Pada akhirnya, ia ‘the Joker’ ini semakin mendapatkan pembenaran ditengah kondisi emosionalitasnya yang tidak stabis untuk terus membunuh, bahkan ibunya sendiri juga dibunuh.

Da’i Kondang, Aa Gymn sendiri mengomentari atas penceritaan film ini sebagai film yang tak layak tonton, karena melakukan pembenaran atas kejahatan yang dilakukannya.

“Karena ini dibuatnya bukan orang beriman kepada Allah, standarnya bukan orang yang beriman kepada Allah, maka standarnya adalah standar yang berbeda. Kalau ada orang yang mengatakan begitu, bahwa orang jahat itu adalah orang yang baik yang didzalimi. Jahat ya jahat saja! Kalau orang yang baik didzalimi, akan menolak keburukan dengan cara yang lebih baik,” ujar Aa Gym. (*)

 

Tentang Penulis:

Etta Adil, seorang Penulis dan Pengasuh Rumah Baca Palontaraq. Karya bukunya meliputi berbagai bidang dan tema, Biografi, Sejarah, Sosial Budaya, Pendidikan, dan Fiksi. Beberapa karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Pemkab Pangkep, 2007), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015),  Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015).

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

  1. sayapun agak kurang setuju dengan value yang dibawa sama film ini. karena menurut saya, tidak pernah ada alasan yang bisa membenarkan seseorang dalam melakukan keburukan, semuanya kembali kepada kita mau bagaimanapun masa lalu yang dimiliki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you