Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Berikut ini kumpulan catatan Harian Ego, hari pertama sampai hari kelima, yang sebelumnya terpublikasi di Note Facebook, dari Tanggal 9 September 2012 s.d. 13 September 2022.
EGO (1): Seharusnya akhir pekan, Ahad pagi ini aku bersama istri rekreasi ke Leang Kassi. Menikmati udara pegunungan dan terapi ikan sambil mengasup nasi kuning, menurutku sungguh suatu hal yang asyik, namun rencana ini gagal dan berujung saling menyalahkan. Kunci sepeda motor tak ditemukan. Aku lupa menaruhnya dimana? Di meja makan, aku memilih mengasup nasi kuning sendiri sementara istri dan anakku sibuk mencari kunci motor. Aku tak peduli!
Catatan Ego (1) Etta Adil, Pangkep, 9 September 2012.

EGO (2): Akhir pekan kemarin kuhabiskan dengan membaca lima buku pemberian seorang kawan, menerima tamu, dan belajar main kecapi. Semuanya terasa asyik sampai datang adik bungsuku dari Soppeng, hanya duduk lima menit di ruang tamu bersama istrinya lalu cium tangan dan pamitan mau melanjutkan perjalanan ke Makassar.
“Daeng, moterepa kusengka”, ujarnya. Nampaknya adik polisiku ini sibuk sekali. Ingin sekali menahannya lebih lama di rumah, mendengarnya bercerita tentang pekerjaannya, mengajaknya makan dan cerita tentang polobessi kegemarannya.
Malam beranjak larut, sambil menghabiskan camilan di teras rumah, aku masih menunggu adik akan datang bertamu. Sempat tebersit amarah dan dongkol di hati sampai akhirnya kutersadar, “Aku menuntut terlalu banyak untuk selalu dikunjungi sementara aku tak pernah menyempatkan waktu mengunjunginya ke Soppeng. Sekalipun tidak pernah”.
Catatan Ego (2) Etta Adil, Pangkep, Senin, 10 September 2012.

EGO (3): “Etta mauki mengajar SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)?” – tanya istriku menawarkan jam mengajar di sekolah tempatnya menjabat sebagai kepala sekolah kepesantrenan. “Akh aku tidak mau”, jawabku singkat.
Sepuluh tahun lalu aku memilih keluar dari sekolah yang sama karena tidak mau dipimpin oleh Direktur Pendidikan sekolah itu yang perempuan, sekalipun perempuan itu bergelar Doktor lulusan Mesir.
Sekarang aku malah ditawarkan untuk kembali mengajar dan itu berarti berada dibawah kepemimpinan isteriku di sekolah itu. Bagiku, perempuan boleh memilih pekerjaan apa saja yang baik tetapi tidak dalam hal kepemimpinan, apalagi memimpin diriku.
Catatan Ego (3) Etta Adil, Pangkep, 11 September 2012.
EGO (4): Beberapa koran harian nasional selama sepekan terhampar diatas meja. Aku mengambil salah satunya dan serius membaca. Istri mendekat dan ikut membaca koran setelah menyuguhkan teh dan setoples kue kering.
“Hebat betul ini orang. Sukses sebagai artis, setiap hari muncul di televisi, punya usaha restoran dan café, suaminya gagah dan pengusaha besar pula”, ujarnya saat memelototi profil seorang artis ibukota.
Aku bergeming dan tak menanggapi. “Sungguh beruntung hidupnya, punya mobil dan rumah mewah, dikaruniai anak-anak yang cantik dan lucu pula. Bagaimana menurutta, Etta?”, tanyanya mengganggu.
Aku seakan dipaksa menjawab pertanyaan yang tidak penting. “Ummi lebih beruntung dari artis terkenal itu. Kamu memiliki suami yang hidupnya sudah pas-pasan, pas mau pas ada. Rajin sembahyang dan mengaji, sehat pula! Apa itu tidak cukup buatmu?”- jawabku.
Istriku cengengesan tak menjawab dan tak lama setelahnya, meninggalkanku sendiri membaca koran. Kuanggap dia membenarkan jawabanku.
Catatan Ego (4) Etta Adil, Pangkep, 12 September 2012.
EGO (5): “Banyak racun di kampung itu, Etta. Lebih baik tidak usah memenuhi undangan itu,” ujar istri melarangku pergi ke pesta perkawinan teman.
“Bukankah memenuhi undangan itu bagian dari silaturahim. Nah, silaturahim itu memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Kan, Ummi yang mengajarkan hal itu kepadaku,” jawabku yang ditanggapinya diam.
Aku tahu istri mengkhawatirkanku, apalagi ia tahu kalau aku jika sudah lihat makanan enak biasa ‘lupa diri’.
“Kampung racun itu sudah jadi mitos. Tak ada lagi orang berbuat seperti itu. Pokoknya aku tidak bisa dilarang. Dilarangpun aku tetap akan pergi,” jawabku.
Istriku pasrah.
Ia menyarankanku agar berhati-hati setelah memberitahu ciri-ciri makanan yang disentuh racun. Ditengah perjalanan aku menelepon seorang teman yang juga akan ke undangan perkawinan di kampung tersebut agar segera menemuiku.
“Tolong saya titip undanganku. Aku tidak bisa pergi ke undangan perkawinan. Ada urusan mendadak. Sampaikan salamku padanya. Selamat berbahagia!” – ujarku kepada teman itu.
Motor kemudian saya lajukan ke arah sebuah gazebo di samping Taman Musafir Pangkajene. Disitu ada banyak kuliner dijajakan. Disana aku memesan dan mengasup nasi goreng ayam, bakso dan jus sirsak, tanpa memedulikan sms isteri yang masuk bertubi-tubi di ponselku, “Hati-hatiki, Etta”, “Minum air kemasan saja”.
Catatan Ego (5) Etta Adil, Pangkep, 13 September 2012.


