BerandaFiksiTadarrus Sastra

Tadarrus Sastra

Oleh: Etta Adil

*buat kakanda Asdar Muis RMS, Inisiator Tadarrus Sastra di Pangkep, 2 dan 11 Agustus 2012

Ramadanku bukan Ramadan biasa
Usai tarwih sampai jelang sahur
Aku membaca setiamu bersastra
Dalam pelukan malam diantara canda yang tak putus-putus
Membedah puisi ibu menjadi saksi lahirnya syair anak berbakti
Kasih ibu yang menghanyutkan rasa
Menghitung sepertiga siang, sore dan malam hidupnya
Dalam tahajud pengabdian dan cinta yang tak berkesudahan.

Ramadanku bukan ramadan biasa Usai tarwih sampai jelang sahur
Aku membaca setiamu berkesenian
Dalam semilir angin pulau menusuk tulang sumsum
Menyimak dentingan syair merdu kecapi dan irama gambus
Diantara monolog tapak sepatu yang menggugat rasa
Menghitung nilai-nilai luhur kebaikan yang dipidatokan
Pada jejak kaki kekuasaan para elit di tanah kemiskinan.

Ramadanku bukan ramadan biasa
Usai tarawih sampai jelang sahur
Aku membaca setiamu berbagi
Dalam bersastra dan berkesenian
Dari Labakkang sampai Pulau Karanrang
Menanam akar persahabatan Menguatkan tali persaudaraan
Bagi kita semua yang mencintai keindahan.

—

Puisi Etta Adil, Pangkajene, 11 Agustus 2012

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT