Tentang Lelaki Hina

by Penulis Palontaraq | Rabu, Okt 9, 2019 | 30 views
Ninoy Karundeng

Ninoy Karundeng. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Setiawan Budi (Sumber terbuka: DISINI)

Related Post:  Polisi tetapkan 8 Tersangka ‘Penculikan’ Ninoy Karundeng

PALONTARAQ.ID – Awalnya dia memanfaatkan situasi. Aksi mahasiswa di akhir september, membuat dirinya ingin mengabadikan moment yang nantinya akan dia sebarkan sebagai bahan baru pemuas nafsu.

Berangkatlah ia bersama temannya dengan sepeda motor. Dia mencari lokasi strategis agar kamera yang dibawanya bisa merekam moment yang dia cari. Apa moment itu?

Saat aksi menampilkan keberingasan dan tanda ada yang mendalangi. Asyik dirinya merekam, lalu sekelompok massa melihat geraknya yang mencurigakan. Didatangi dan diperiksa identitas diri. Ada kartu relawan jokowi, diperiksa HP-nya, banyak konten yang telah ia buat mendiskreditkan aksi.

Massa tidak terima atas apa yang dia lakukan, terlebih ia pendukung (Buzzer) Jokowi. Terjadi tindakan main hakim sendiri, dirinya ditendang, ditampar dan dipukul hingga wajahnya sudah tak bersegi. Ia memohon ampun, ia berteriak meminta tolong.

Muncul sekelompok orang sekitar yang lagi sweeping mencari korban kekerasan aksi. Dia diselamatkan, dibawa ke sebuah masjid di mana masjid itu menjadi pusat pengobatan sementara dari korban kekerasan aparat.

Dirinya diobati, diberikan air minum dan diperlakukan sama dengan korban lainnya. Seklompok orang yang mengelilinginya melakukan interogasi dengan kamera video. Meminta pengakuan dirinya atas aktifitas yang dilakukan.

Diperiksa akun sosial medianya dan ditemukan bahwa dirinya sangat hina kala menghujat dan mengumbar kebencian pada umat.

Terjadi kemarahan umat pada dirinya, diminta mengaku berasal dari mana dan berapa dirinya dibayar untuk memproduksi ujaran kebencian. Pernyataannya direkam sebuah kamera HP

Dia sendiri mengaku, selama ini dibayar 3,2juta. Dia pun meminta maaf atas kerja hina yang pernah ia lakukan. Rekaman pengakuannya disebar untuk memberi tahu publik bahwa benar buzzer penguasa dibayar. Konten-konten kebencian yang mereka sebarkan adalah bagian dari kerja itu.

Ninoy Karundeng adalah relawan (Buzzer) Jokowi. (foto: ist/palontaraq)

Ninoy Karundeng adalah Anggota Relawan Jokowi. (foto: ist/palontaraq)

Beredarnya video itu membuat kelompok buzzer resah, viralnya video itu semakin memperburuk citra mereka di samping jokowi. Mereka gak terima, mereka menuntut temannya dibebaskan karena diculik.

Kata penculikan mereka viralkan melawan pengakuan si pria hina dalam video. Polisi bergerak, namun belum berhasil menemukan.

Di sebuah masjid, lelaki hina dalam video tidak mengalami pemukulan. Ketegasan kata-kata dalam video bermaksud agar dia mengakui bekerja untuk siapa dan berapa bayarannya.

Selesai diobati, diberikan makan dan minum. Lelaki hina ini diberikan alas untuk tempat tidur. Dia terlelap walau masih menahan sakit di mukanya. Tidurnya mungkin tidak nyenyak, namun perlakuan yang ia terima adalah bukti bahwa dirinya masih dilayani dengan baik.

Keesokan hari, dirinya masih dijamu sarapan dan air minum pagi. Petugas masjid dan sekelompok relawan masjid membantu dirinya untuk pulang.

Kondisinya yang masih lemah tidak memungkinkan untuk membawa sepeda motor. Dipesankan mobil angkutan untuk membawa dirinya dan sepeda motor kesayangan.

Dalam proses pulang ke rumah, dirinya menundukkan badan meminta maaf pada umat yang selama ini dia sakiti. Satu persatu ia datangi dan menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Dirinya terlihat bersalah, mengucap maaf dan berterima kasih atas pengobatan yang diterimanya.

Pesan umat yang menolongnya, “bertobat…jangan ulangi lagi perbuatan hina itu.”  Dirinya pulang dengan diantar oleh jemaah masjid.

Sesampai dirumahnya, jemaah masjid yang mengantarnya masih membantu menurunkan sepeda motornya. Sekali lagi, ia meminta maaf dan berucap terima kasih pada jemaah yang menolongnya.

Semuanya berjalan normal hingga keesokan harinya muncul pemberitaan bahwa ada penculikan, dari pengembangan kasus ada dua orang yang dijadikan tersangka.

Jemaah masjid dan pengurus masjid tempat lelaki hina itu dirawat kaget. Pelayanan yang mereka lakukan, ternyata dianggap penganiayaan. Ada tuduhan penculikan, padahal mereka membawa ke lokasi untuk merawat luka seperti korban lainnya.

Lelaki hina itu telah diberikan pilihan, kembali menjadi manusia benar atau menjadi manusia hina yang paling dalam. Dan ia telah memilih menjadi lebih hina dari sebelumnya.

Jemaah masjid tempat lelaki itu dirawat, meminta dipertemukan dengan dirinya. Jemaah masjid ingin menatap wajah si pria hina ini kala berkata ada penculikan. Mereka ingin menatap wajah orang yang ditolong, lalu melakukan tuduhan pada orang yang menolongnya.

Jika penculikan, mengapa ia harus dikembalikan dan diantar ke rumah? Belum ada sejarah seorang penculik mengembalikan korbannya dengan selamat tanpa ada tuntutan apapun. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response