Belajar dari Pembangunan Papua

by Penulis Palontaraq | Rabu, Okt 9, 2019 | 38 views
Dokumen Pembangunan Papua. (foto: dok.wimpoli/*)

Dokumen Pembangunan Papua/Nimboran. (foto: dok.wimpoli/*)

Oleh: WIM Poli

Related Post:  Inikah Awal Ethnic Cleansing di Papua?

PALONTARAQ.ID – Judul di atas dibatasi pada pembangunan Papua di masa lalu lewat pemikiran Dr. Jan van Baal, seorang pamong praja Belanda di Papua, ahli antropologi, yang kemudian menjadi Gubernur Papua, 1953-1958.

Pemikiran van Baal dituangkan dalam sebuah dokumen yang berjudul “The Nimboran Community Development Project” (1953), yang disepakati “South Pacific Commission.”

Jika ada satu saja pelajaran yang ditarik dari proyek ini, yang masih relevan berlaku sekarang – bukan hanya untuk Papua – pelajaran itu adalah: setiap keberhasilan pembangunan mengandung bibit kegagalan yang seyogianya diantisipasi sedini mungkin.

Apa keberhasilan dan kegagalan proyek pembangunan Nimboran?

1. Keberhasilan

Keberhasilannya berasal dari tiga pemikiran dasar berikut:

Pertama, pembangunan didasarkan pada apa yang sudah ada di dalam masyarakat, sebagai modal awal, bukan didatangkan dari luar.

Transformasi apa yang ada, bukan transplantasi sesuatu yang baru dari luar. Modal awalnya ialah: sebuah koperasi yang diprakarsai berdirinya oleh sejumlah masyarakat setempat di Nimboran.

Pemerintah membantunya lewat penerapan mekanisasi pertanian, manajemen pembukuan dan usaha mencapai status sebagai badan hukum.

Kedua, didalilkan bahwa: ketidak-sempurnaan hasil kerja masyarakat lebih baik ketimbang hasil kerja yang paling sempurna yang dicapai Kepala Pemerintahan Distrik.

Ketiga, tujuan proyek ialah: tercapainya kemandirian masyarakat setempat, tanpa kehilangan jatidiri dalam lingkungan yang berubah.

Berdasarkan ketiga pikiran pokok di atas proyek ini mencapai berbagai keberhasilan yang terlihat dan terukur, misalnya: mekanisasi pertanian yang meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat, dan meningkatnya jumlah anggota koperasi.

Begitu pula dengan meningkatnya partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan; pengenalan masyarakat terhadap produk baru pertanian yang mendatangkan pendapatan; transaksi koperasi lewat perbankan; ekspor cokelat ke luar negeri yang mendatangkan devisa.

Menakjubkan. Lalu, apa kegagalannya?

Lihat pula:  Nama Papua – Irian

2. Kegagalan

Sebagaimana setiap proyek, proyek Nimboran terikat pada jumlah dana tertentu, yang dibelanjakan selama waktu tertentu, yaitu 3 tahun. Menjelang waktu akhir usia proyek, mulai muncul masalah yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Berbeda dari dalil yang ditetapkan sedari awal, campur tangan pemerintah kian meningkat, karena kian banyak yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan proyek, dalam sisa waktu yang kian pendek.

Kian banyak yang dikerjakan pemerintah, kian masyarakat merasa bahwa proyek ini adalah “kereta” milik pemerintah, dan mereka adalah “penumpang,” bukan pemilik “kereta” tersebut.

Pola pikir ini adalah hambatan pembangunan, yang pasti tidak dapat diubah dalam kurun waktu proyek yang terbatas. Pemerintah mengalami kebingungan yang tidak diantisipasi sebelumnya.

3. Pelajaran

Kata pengusaha kawakan Jack Welch: “Jika Anda tidak bingung, sesungguhnya Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Jack Welch tidak sendirian dengan pendapatnya.

Robert K. Merton (1910-2003), ahli sosiologi kawakan Abad XX, mengatakan bahwa di bidang ilmu-ilmu sosial, tindakan yang baik tujuannya dapat berakibat konsekuensi yang tidak dimaksudkan atau yang tidak terduga sebelumnya (“unintended consequences or unforeseen consequences”).

Membingungkan!

Renungan: Kebingungan adalah gejala yang pasti ada dalam pembangunan masyarakat sebagai sebuah sistem yang rumit, hidup, dan berubah-ubah, dengan variabel yang sangat banyak, sangkut-menyangkut, yang sukar terduga sebelumnya.

Maka, perubahan kebijakan pembangunan seyogianya tidak digoreng menjadi gorengan politik yang menggaduhkan. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response