Berita Daerah Belajar dari Pembangunan Papua

Belajar dari Pembangunan Papua

-

- Advertisment -

Dokumen Pembangunan Papua. (foto: dok.wimpoli/*)
Dokumen Pembangunan Papua/Nimboran. (foto: dok.wimpoli/*)

Oleh: WIM Poli

Related Post:  Inikah Awal Ethnic Cleansing di Papua?

PALONTARAQ.ID – Judul di atas dibatasi pada pembangunan Papua di masa lalu lewat pemikiran Dr. Jan van Baal, seorang pamong praja Belanda di Papua, ahli antropologi, yang kemudian menjadi Gubernur Papua, 1953-1958.

Pemikiran van Baal dituangkan dalam sebuah dokumen yang berjudul “The Nimboran Community Development Project” (1953), yang disepakati “South Pacific Commission.”

Jika ada satu saja pelajaran yang ditarik dari proyek ini, yang masih relevan berlaku sekarang – bukan hanya untuk Papua – pelajaran itu adalah: setiap keberhasilan pembangunan mengandung bibit kegagalan yang seyogianya diantisipasi sedini mungkin.

Apa keberhasilan dan kegagalan proyek pembangunan Nimboran?

1. Keberhasilan

Keberhasilannya berasal dari tiga pemikiran dasar berikut:

Pertama, pembangunan didasarkan pada apa yang sudah ada di dalam masyarakat, sebagai modal awal, bukan didatangkan dari luar.

Transformasi apa yang ada, bukan transplantasi sesuatu yang baru dari luar. Modal awalnya ialah: sebuah koperasi yang diprakarsai berdirinya oleh sejumlah masyarakat setempat di Nimboran.

Pemerintah membantunya lewat penerapan mekanisasi pertanian, manajemen pembukuan dan usaha mencapai status sebagai badan hukum.

Kedua, didalilkan bahwa: ketidak-sempurnaan hasil kerja masyarakat lebih baik ketimbang hasil kerja yang paling sempurna yang dicapai Kepala Pemerintahan Distrik.

Ketiga, tujuan proyek ialah: tercapainya kemandirian masyarakat setempat, tanpa kehilangan jatidiri dalam lingkungan yang berubah.

Berdasarkan ketiga pikiran pokok di atas proyek ini mencapai berbagai keberhasilan yang terlihat dan terukur, misalnya: mekanisasi pertanian yang meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat, dan meningkatnya jumlah anggota koperasi.

Begitu pula dengan meningkatnya partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan; pengenalan masyarakat terhadap produk baru pertanian yang mendatangkan pendapatan; transaksi koperasi lewat perbankan; ekspor cokelat ke luar negeri yang mendatangkan devisa.

Menakjubkan. Lalu, apa kegagalannya?

Lihat pula:  Nama Papua – Irian

2. Kegagalan

Sebagaimana setiap proyek, proyek Nimboran terikat pada jumlah dana tertentu, yang dibelanjakan selama waktu tertentu, yaitu 3 tahun. Menjelang waktu akhir usia proyek, mulai muncul masalah yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Berbeda dari dalil yang ditetapkan sedari awal, campur tangan pemerintah kian meningkat, karena kian banyak yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan proyek, dalam sisa waktu yang kian pendek.

Kian banyak yang dikerjakan pemerintah, kian masyarakat merasa bahwa proyek ini adalah “kereta” milik pemerintah, dan mereka adalah “penumpang,” bukan pemilik “kereta” tersebut.

Pola pikir ini adalah hambatan pembangunan, yang pasti tidak dapat diubah dalam kurun waktu proyek yang terbatas. Pemerintah mengalami kebingungan yang tidak diantisipasi sebelumnya.

3. Pelajaran

Kata pengusaha kawakan Jack Welch: “Jika Anda tidak bingung, sesungguhnya Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Jack Welch tidak sendirian dengan pendapatnya.

Robert K. Merton (1910-2003), ahli sosiologi kawakan Abad XX, mengatakan bahwa di bidang ilmu-ilmu sosial, tindakan yang baik tujuannya dapat berakibat konsekuensi yang tidak dimaksudkan atau yang tidak terduga sebelumnya (“unintended consequences or unforeseen consequences”).

Membingungkan!

Renungan: Kebingungan adalah gejala yang pasti ada dalam pembangunan masyarakat sebagai sebuah sistem yang rumit, hidup, dan berubah-ubah, dengan variabel yang sangat banyak, sangkut-menyangkut, yang sukar terduga sebelumnya.

Maka, perubahan kebijakan pembangunan seyogianya tidak digoreng menjadi gorengan politik yang menggaduhkan. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you