Prabowo, yang dicinta yang difitnah

Prabowo Subianto (foto: makassar.tribunnews)

Prabowo Subianto (foto: makassar.tribunnews)

 

Prabowo Subianto Djojohadikusumo (lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951) adalah seorang pengusaha, politisi, dan mantan perwira TNI Angkatan Darat. Ia menempuh pendidikan dan jenjang karier militer selama 28 tahun sebelum berkecimpung dalam bisnis dan politik. Lahir di Jakarta, masa kecil Prabowo sebagai putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo banyak dilewatkan di luar negeri bersama orangtuanya.

Prabowo yang Dicinta

Prabowo menempuh pendidikan SD-SMA di Luar Negeri dikarenakan harus mengikut sama orang tuanya. SD di  Hongkong, SMP di Victoria Institution (Malaysia) dan International School (Swiss), SMA di American School In London, United Kingdom. Baru setelah itu pulang ke Indonesia dan menunjukkan ketertarikannya masuk Akabri Darat di Magelang, Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD.

Minatnya pada dunia militer dipengaruhi figur paman Soebianto Djojohadikusumo yang gugur dalam Pertempuran Lengkong 1946. Masuk Akademi Militer Magelang pada tahun 1970 dan lulus pada tahun 1974 sebagai letnan dua. Prabowo mencatatkan diri sebagai komandan termuda saat mengikuti operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Kursus dan Pelatihan Kemiliteran yang pernah diikuti Prabowo, antara lain: Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974), Kursus Para Komando (1975), Jump Master (1977), Kursus Perwira Penyelidik (1977), Free Fall (1981), Counter Terorist Course GSG-9 Germany (1981), Special Forces Officer Course, Fort Benning USA (1981). Kariernya melejit setelah menjabat Wakil Detasemen Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1983.

Prabowo Subianto bersama pasukannya. (foto: semangat patriot)

Prabowo Subianto bersama pasukannya. (foto: semangat patriot)

Merengkuh jabatan Komandan Kopassus pada 1995, selang setahun ia dipromosikan sebagai Komandan Jenderal Kopasus, memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Terakhir, Prabowo  bertugas sebagai Panglima Kostrad dua bulan sampai kejatuhan Presiden Soeharto pada Mei 1998.  Penghargaan yang diperoleh Prabowo selama dinas kemiliteran, antara lain: Bintang Kartika Eka Paksi Naraya,  Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun,  Satya Lencana Seroja Ulangan-III,  Satya Lencana Raksaka Dharma,  Satya Lencana Dwija Sistha,  Satya Lencana Wira Karya,  The First Class The Padin Medal Ops Honor dari Pemerintah Kamboja,  Bintang Yudha Dharma Naraya

Setelah tidak aktif dalam dinas militer, Prabowo menghabiskan waktu di Yordania dan beberapa negera Eropa. Ia menekuni dunia bisnis, mengikuti adiknya Hashim Djojohadikusumo yang pengusaha minyak. Bisnis Prabowo meliputi sedikitnya 27 perusahaan yang bergerak di sektor berbeda.  Kembali ke Tanah Air, ia berkecimpung dalam politik. Pada 2008, mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Lewat jalur perhimpunan, Prabowo merangkul petani, pedagang pasar tradisional, dan kegiatan pencak silat Indonesia. Selama dua periode, ia memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak 2004.

Diantara Prestasi Prabowo ialah berhasil menembak mati Presiden Fretilin Timor-Timur, Nicolau Lobato, dalam operasi penangkapan pada tanggal 31 Desember 1978 (Waktu itu, Prabowo Subianto bertindak sebagai kapten yang memimpin 28 pasukan Kopassus). Pada akhir Tahun 1992, berhasil menangkap Tokoh Pemberontak Timtim, Xanana Gusmao, juga berhasil menyelamatkan 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz 95 yang disekap oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma pada tahun 1996 (Waktu itu, Prabowo Subianto bertindak sebagai kapten mempimpin pasukan Kopassus).

Prabowo juga pernah mencatatkan kesuksesan mengibarkan bendara Merah Putih di puncak tertinggi dunia, gunung Everest, di kawasan Himalaya pada tanggal 26 April 1997. (Waktu itu, Prabowo Subianto bertindak sebagai pemrakarsa yang memimpin tim yang terdiri dari Anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI untuk mendaki Puncak Everest. Maka, Indonesia berhasil menjadi negara pertama di kawasan tropis sekaligus negara pertama di Asia Tenggara yang mencatat sukses menggapai puncak Everest).

Prabowo Subianto (foto: jitunews)

Prabowo Subianto (foto: jitunews)

Prabowo yang difitnah 

Sangat banyak sekali fitnah yang dialamatkan kepada Prabowo. Beliau dikabarkan sebagai pembenci Kristen dan Tiongkok.  Faktanya,  justru Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) yang beragama Kristen dan berasal dari etnis Tiongkok terpilih sebagai Wakil Gubernur Jakarta periode 2012-2017 atas usungan Partai yang didirikan oleh Prabowo Subianto, yaitu Partai Gerindra.  Fitnah lainnya adalah berita yang menyebutkan bahwa Letjen (Purn) Prabowo Subianto dipecat, padahal faktanya diberhentikan secara terhormat pada 22 Mei 1998 oleh Panglima ABRI, Wiranto atas permintaan Presiden BJ. Habibie (1997-1998).

Fitnah lainnya yang banyak dilancarkan media bayaran adalah Prabowo pelanggar HAM dan berkewarganegaraan ganda. Kenyataannya jika Prabowo adalah pelanggar HAM maka pastilah dia dihukum dan tak akan bisa lolos dari KPU untuk menjadi Capres dan Cawapres sejak Tahun 2004 dalam Bursa Capres Partai Golkar. Pada Pilpres 2009. Prabowo pernah menjadi Cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Fitnah lainnya adalah disebutkan bahwa Prabowo punya hutang senilai Rp. 14.31 Triliun, padahal kenyataannya sejak 2002, Prabowo Subianto memiliki beberapa saham di perusahaan  PT. Kiani Kertas, nama lama perusahaan yang dimiliki oleh Bob Hasan lalu dibeli oleh Prabowo karena Bob Hasan tak mampu lagi mengelola perusahaannya sehingga perusahaan tersebut dililit hutang. Jika Prabowo punya hutang sebesar Rp. 14.31 Triliun maka pastilah pula KPU tak akan meloloskan namanya untuk mengikuti pencalonan presiden dan wakilnya pada 2009 dan 2014.

Prabowo Subianto bersama Pius Lustrilanang, Aktivis '98. Foto ini unik karena difoto ini ada seorang korban penculikan yang menjadi ketua relawan pembela Prabowo Subianto, orang yang oleh lawan politiknya diisukan sebagai dalang pelaku penculikan.(foto: IG suryoprabowo)

Prabowo Subianto bersama Pius Lustrilanang, Aktivis ’98. Foto ini unik karena difoto ini ada seorang korban penculikan yang menjadi ketua relawan pembela Prabowo Subianto, orang yang oleh lawan politiknya diisukan sebagai dalang pelaku penculikan.(foto: IG suryoprabowo2011)

Fitnah kejam lainnya adalah berasal dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara,  AM Hendropriyono yang  menuduh Prabowo sebagai sosok psikopat dalam acara diskusi bertajuk “Siapa Capres/Cawapres yang paling Potensial Melakukan Kampanye Hitam?” di Posko Kawan Jokowi, Jakarta Selatan pada Selasa, 3 Juni 2014. Akibat dari tuduhannya, AM Hendropriyono dilaporkan ke kepolisian oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Flores, Sumba, Timor, dan Alor Institute (FLOBAMORA) pada Rabu, 4 Juni 2014 karena AM Hendropriyono melanggar Pasal 310 dan 311 KUHP. Jika Prabowo adalah seorang psikopat pastilah para dokter KPU yang memeriksanya tak akan meloloskannya sebagai Capres mendampingi Hatta Rajasa ketika itu, sekaligus ini merupakan bentuk penghinaan terhadap Lembaga TNI yang pernah mendidik Prabowo.

Begitu pula tuduhan dan fitnah terhadap Prabowo Subianto sebagai dalang kerusuhan Mei 1998, padahal ketika itu Wiranto-lah pemegang tongkat komando tertinggi di ABRI/TNI. Sebenarnya masih banyak fitnah lainnya yang ditujukan  kepada Prabowo Subianto seiring semakin kuatnya dukungan terhadap Prabowo Subianto menuju kursi kepemimpinan nasional Pilpres 2019.(*)

 

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response