Narasi Sejarah Riwayat Raja Bone (16): La Patau Matanna Tikka

Riwayat Raja Bone (16): La Patau Matanna Tikka

-

- Advertisment -

Taman Patung Arung Palakka (sumber: plukme!)
Taman Patung Arung Palakka (sumber: plukme!)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya:  Riwayat Raja Bone (15): La Tenri Tatta Arung Palakka

PALONTARAQ.ID – PADA tanggal 3 Nopember 1672, We Mappolo Bombang Maddanreng Palakka melahirkan anak laki-laki dinamai La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenri Bali MalaE Sanrang (Ligtvoet 1880 : 134, 136). Anak ini lahir dari perkawinannya dengan La PakokoE Toangkone Arung Timurung.

Atas kelahiran La Patau Matanna Tikka membuat Raja Bone XV, La Tenri Tatta Arung Palakka Petta To RisompaE sangat gembira. Karena menurut pikirannya, sudah ada putra mahkota yang bisa melanjutkan akkarungeng (takhta) Bone.

Arung Palakka yang tidak memiliki anak, menganggap bahwa anak dari adik perempuannya itulah yang menjadi ana’ pattola (putra mahkota).

Sebelumnya ayah La Patau, La PakokoE Toangkone Arung Timurung merasa lebih pantas menjadi Arumpone dibanding Arung Palakka jika dilihat dari garis silsilah. Arung Timurung adalah putera Arumpone La Maddaremmeng dan cucu langsung lewat garis ayah dari Arumpone La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng.

Disisi lain, Arung Palakka hanya berhubungan dengan istana Bone lewat kakeknya dari pihak Ibu, Arumpone La Tenrirua Matinroe ri Bantaeng.

Arung Palakka menyadari hal ini, itulah sebabnya Petta Torisompae’ ini mengawinkan saudara perempuannya, We Mappolo Bombang Maddanreng Palakka dengan La Pakokoe Toangkone Arung Timurung. Hasil perkawinan adiknya itulah yang kemudian menjadi putera mahkota Arung Palakka. (Kasim, 2002 ; Andaya, 2006: 306).

Dengan demikian Arung Palakka telah mengambil takhta Bone ke garis keturunan Arung Timurung.

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa Arung Palakka sebelum meninggal telah mewariskan tahta Bone kepada kemenakannya, La Patau Matanna Tikka.

Pewarisan takhta itu dipersaksikan kepada seluruh orang Bone, Hadat Bone dan Lili Passeyajingeng Bone.

“Dengarkanlah wahai seluruh orang Bone dan juga seluruh daerah passeyajingeng Tanah Bone, termasuk passeyajingeng keturunan MappajungE.”

“Besok atau lusa datang panggilan Allah kepadaku, hanyalah kemanakan saya yang dua bisa mewarisi milikku. Yang saya tidak berikan adalah harta yang masih dimiliki oleh isteriku I Mangkawani Daeng Talele.”

“Sebab saya dengan istriku I Mangkawani Daeng Talele tidak memiliki keturunan.”

“Adapun kemanakanku La Patau Matanna Tikka, anak dari Maddanreng Palakka, saya berikan akkarungeng ri Bone.”

“Sedangkan kemanakanku yang satu anak Datu Mario Riwawo, saya wariskan harta bendaku, kecuali yang masih ada pada isteriku I Mangkawani Daeng Talele”.

La Patau Matanna Tikka berkata:

“Saya telah mendengarkan pesan pamanku Petta To RisompaE bahwa saya diharapkan untuk menggantikannya kelak sebagai Mangkau’ di Bone. Namun saya sampaikan kepada orang banyak bahwa sebelum saya menggantikan Puatta selaku Arumpone, apakah merupakan kesepakatan orang banyak dan bersedia berjanji denganku ?”.

Seluruh anggota Hadat dan orang banyak berkata, “Katakanlah untuk didengarkan oleh orang banyak”.

Berkata lagi La Patau Matanna Tikka,

“Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang dikatakan oleh Puatta To RisompaE, apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa tidak akan ada lagi Mangkau’ ri Bone (Raja di Bone) kalau bukan keturunanku dan bahwa keturunanku adalah anak cucu MappajungE tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan LiliE.

“Begitulah yang saya sampaikan kepada orang banyak”. Seluruh orang banyak berkata, ”Angikko Puang kiraukkaju Riyao miri riyakeng mutappalireng – muwawa ri peri nyameng”

(Baginda angin dan kami semua dedaunan kayu, dimana Baginda berhembus disanalah kami terbawa-menempuh kesulitan dan kesenangan). (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).

Arumpone La Patau merasa belum kuat kedudukannya karena masih ada putra mahkota lainnya yang berpeluang untuk diangkat sebagai Arung Mangkaue’ ri Bone.

Putra mahkota ancaman itu adalah La Pasompereng Petta I Teko anak dari La Poledatu ri Jeppe’ dari perkawinannya dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Sengngeng.

Sebenarnya memang ada keinginan La Pasompereng Petta I Teko ini untuk merebut tahta Bone selain karena dirinya juga anak pattola, dirinya juga menganggap diperlakukan tidak adil.

Saat Arung Palakka sebagai Arumpone, La Pasompereng tidak berada di Tanah Ugi karena diutus untuk membantu Kompeni Belanda dalam memerangi orang Timor.

Setelah Arumpone Petta To RisompaE meninggal dunia, barulah La Pasompereng kembali ke Bone.  Awalnya La Patau tidak mengetahui kalau La Pasompereng cacat dimata Kompeni Belanda, namun setelah adanya surat Belanda yang menjelaskan perbuatan La Pasompereng di Timor, barulah La Patau yakin kedudukannya sebagai Raja Bone telah aman.

La Pasompereng jelas tidak didukung Belanda untuk merebut tahta Bone, apalagi Datu Soppeng La Tenri Bali yang bisa mendukungnya juga telah meninggal dunia (MatinroE ri Datunna) dan tidak lagi digantikan oleh anaknya. Orang Soppeng pergi ke Bone minta La Patau Matanna Tikka agar juga menjadi Datu Soppeng. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).

Permintaan orang Soppeng itu tidak diiyakan Arumpone karena ia harus menghadapi dua musuh besar yaitu La Pasompereng Arung Teko dan Daeng Mabbani Sule DatuE ri Soppeng. Arumpone La Patau menyarankan We Yadda saudara Datu Soppeng ditunjuk menjadi Datu Soppeng. Apalagi semasa hidupnya Petta To RisompaE pernah kawin dengan sepupunya yang bernama We Yadda itu. (Lontara’ Akkarungeng ri Bone).

Sebagai Ranreng Towa Wajo, La Patau Matanna Tikka sekali sebulan harus ke Makassar untuk melihat orang Wajo di Makassar. Untuk membantunya, diangkatlah Amanna Gappa sebagai Matowa Wajo yang menggantikan dirinya bila kembali ke Bone.

Setiap datang dari Bone, La Patau selalu mengadakan Duppa Sawungeng (penyabungan ayam) di Malimongeng. Semua arung Celebes Selatan yang datang ke Makassar untuk menemui Pembesar Kompeni Belanda, mereka datang lagi apabila La Patau ada.

La Patau selanjutnya menempati posisi strategis, selain sebagai pembuktian jalur suksesi paska Arung Palakka dengan politik kawin mawinnya yang menyatukan kembali Bone, Gowa dan Luwu, suatu politik pengamanan kekuasaan dan memberi warna berbeda dari hubungan kerajaan lokal di nusantara dengan Belanda, bahkan jauh sesudah Arung Palakka tidur dengan tenang di Bontoala. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

  1. Keturunan Raja Bone XV di Kerajaan Tanete Kabupaten Barru dapat dibaca dalam silsilah perkawinan La Maddusila Raja Tanete XII dengan We Tenri Seno Dt. Citta, dalam perkawinannya melahirkan La Patau Raja Tanete XIII, St. Halija dan Latowagga Mette. Lapatau menikah dengan I Pacu PT. Mabbol Jene’e, melahirkan anak La Panaongi To Pasanrangi Slt. Abd.Karim/A. Beddu Baso Mattapiae Arung Tompo Bulu Matajang. Ia digelar Baso Mattappie, karena baginya mewarisi dua wilayah kerajaan sekaligus,yaitu Tompo Bulu atau Alekale/lajoanging di Tanete, juga wilayah di Kerajaan Barru disebut Barru Riaja. Semuanya merupakan warisan diterima dari kedua org tuanya.
    Penulis adalah salah seorang ahli warisnya, lahir di Mangkoso Kota Santri, Selasa 19 April 1957, ia adalah keluarga mabbulo sibatang mattulu tellue temmalara Arung Tompo Bulu Matajang Tanete Berru, dan keluarga wija Mattanete Lampe Matowa ri Kiru-Kiru dan Ponggawa ri Ajjakkang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you