Nasehat Ulama kepada Khalifah Abu Ja’far al-Mansur

Khalifah Abu Ja'far al-Mansur. (ilustrasi: ist/*)

Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. (ilustrasi: ist/*)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID –  Seorang ulama bernama Muqatil bin Sulaiman masuk menemui Khalifah Ja’far Al Mansur pada hari beliau dilantik sebagai khalifah. (Khalifah kedua Bani Abbasiyah), menggantikan saudaranya Abu Abbas As-Saffah.

Nama lengkap khalifah adalah Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al-Mansur (712-775 M), dilahirkan di al-Humaymah, kampung halaman kelurga abbasiyah setelah bermigrasi dari Hijaz pada Tahun 687-688.

Ayahnya bernama Muhammad bin Ali bin Abdullah ibn Abbas bin Abdul Muthalib, yang juga saudara kandung Ibrahim Al-Imam dan Abu Abbas As-Saffah. Ketiganya merupakan pendiri Bani Abbasiyah. Sedang Ibunya Salamah al-Barbariyah, wanita dari Suku Barbar yang dahulunya seorang budak.

Abu Ja’far selalu mendapat anugerah kemenangan dalam setiap peperangan melawan Bani Umayyah dan pada setiap kerusuhan kaum pemberontak di dalam negri dan dalam menekan imperium Bizantium. Oleh karena itu ia diberi gelar “al-Mansur” (orang yang mendapat pertolongan Allah)

Khalifah pertama, Abu Abbas  as-Saffah hanya memerintah dalam kurun waktu 4 tahun.  Dikenal dalam sejarah sebagai pembasmi Dinasti Umayyah, dan berpulang dalam Tahun 754 M.  Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur naik menjadi  khalifah menggantikan kakaknya dan dialah sebenarnya yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Abassiyah.

Khalifah Abu Ja’far al-Mansur  tetap melanjutkan kebijaksanaan Al-Saffah, menindak tegas penentang kekuasaannya, sekalipun  dari kalangan keluarganya sendiri.

Sifat dan watak Al-Mansur dikenal sebagai khalifah yang cerdas, pemberani, dan  memperhatikan kepentingan rakyat. Selama kurang lebih 20 tahun kekuasannya, khalifah al-Mansur berhasil meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu.

Berikut dialog seorang ulama, Muqatil bin Sulaiman pada saat Khalifah Abu Ja’far al-Mansur dilantik.

Khalifah: “Ya Muqatil, tolong nasehati aku!”

Muqatil: “Aku nasehati kamu dari apa yang pernah aku lihat atau apa yang pernah aku dengar?”

Khalifah: “Dari apa yang pernah kamu lihat”.

Muqatil: “Wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz punya 11 anak. Saat wafat, beliau meninggalkan warisan hanya 18 dinar. Dibelikan kain kafan 5 dinar, biaya penguburannya 4 dinar, sisanya dibagikan pada anaknya!

Sedangkan Hisyam bin Abdul Malik (khalifah yang lalu) juga punya 11 anak, dan meninggalkan warisan bagi setiap anaknya masing masing 1 juta dinar!

Demi Allah! Wahai Khalifah. Sungguh aku dapati pada satu hari, dimana salah seorang putra Umar bin Abdul Aziz berinfak dengan 100 ekor kuda untuk jihad fi sabilillah, sedang pada hari yang sama, aku dapati putra Hisyam menjadi pengemis di pasar.

Menjelang kematian Umar bin Abdul Aziz beliau ditanya,  “Warisan apa yang engkau tinggalkan buat anak-anakmu?”

Beliau menjawab: “Aku meninggalkan Taqwa pada mereka! Kalau mereka Shaleh, maka Allah SWT yang melindungi Orang-orang shaleh. Tapi jika mereka tidak shaleh, maka aku tidak meninggalkan sesuatu yang dapat menolong mereka untuk tidak durhaka pada Allah!”

***

Maka renungkanlah …

Bukan banyaknya harta yang menentukan kesuksesan,  tapi seberapa ‘berkah’ usaha dan keluarga kita. Demikian pesan yang ingin disampaikan dari nasehat ulama, Muqatil bin Sulaiman kepada Khalifah Abu Ja’far al-Mansur, pendiri Kota Baghdad, Iraq tersebut.

Kebanyakan manusia bekerja keras dan banting tulang untuk memberi jaminan masa depan anak mereka, dengan keyakinan bahwa harta yang ditinggalkannya akan membuat anak-anak mereka ‘aman’. Namun banyak yang lupa akan ‘aman’ hakiki yang difirmankan Allah dalam QS.  An Nisa:  9.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Semoga Allah mengaruniakan kepada  kita anak shaleh yang bertaqwa kepada Allah SWT. Semoga Allah menjadikan anak anak kita generasi yg kuat agamanya dan mulia akhlaknya.

Semoga kita dikaruniai anak anak yang senantiasa dan terus akan mendoakan kita. Semoga Allah mengumpulkan kita semua bersama keluarga kita di surga nanti.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response