Keutamaan Bulan Muharram

Keutamaan Bulan Muharram. (foto: ist/palontaraq)

Keutamaan Bulan Muharram. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Zulianto – Tentang Tulisan ini, lihat di akhir tulisan *)

Related Post:  Puasa di Bulan Muharram dan Asyura

PALONTARAQ.ID – Di dalam Kitab Nazaatul Majalis wa Muntakhobun Nafais karya Syekh Abdurohman al-Sofuri dan Kitab al-Nawadzir karya Syekh Sihabuddin bin Salamah al-Qolyubi, dijelaskan banyak hal tentang fadhilah Bulan Muharam, khususnya tanggal 10 Muharam atau 10 Syura.

Pada malam senin yang akan datang, sudah masuk hari tasu’a yaitu hari ke 9 bulan Muharam. Pada malam selasa-nya masuk pada hari al-Syuro yaitu tanggal 10 bulan Muharam. Pada dua tanggal itu, di sunahkan untuk berpuasa yang disebut puasa Tasu’a dan puasa al-Syura.

Tanggal 10 Muharam juga disebut hari “Asyura” karena diambil dari kata al-Asyir, yang berarti ke-10. Di dalam kitab Nazatul Majalis wa Muntakhobun Mawaidz juz 1 halaman 174, dijelaskan bahwa pada tanggal 10 Muharam Allah memuliakan 10 Nabinya, seperti peristiwa :

(1) Istofa Adama yang berarti Allah SWT memilih Nabi Adam. Bahwa Nabi Adam memiliki salah yang karena salahnya itu, Beliau diturunkan ke bumi. Ibu Hawa diturunkan di Jedah, sedangkan Nabi Adam di Srilangka. Atas kesalahan itu, Nabi Adam bertaubat dan diterima taubatnya oleh Allah pada 10 Muharam.

(2) Allah SWT mengangkat Nabi Idris ke langit pada pada tanggal 10 Muharam.

(3) Peristiwa berlabuhnya perahu Nabi Nuh yang mendarat di atas gunung Judd. Dimana air pada saat itu menggenangi bumi selama 150 hari. Air turun dari langit berwarna kuning, dan kekuar dari bumi berwarna merah. Pada peristiwa ini juga Kakbah roboh.

(4) Allah SWT mengangkat Nabi Ibrahim sebagai kholilullah atau kekasih Allah. Pada waktu itu Nabi Ibrahim dilemparkan oleh Raja Namrud ke api, akan tetapi api menjadi dingin karena pertolongan Allah pada tanggal 10 Muharam.

(5) Allah SWT mengampuni Nabi Daud pada tanggal 10 Muharam.

(6) Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman pada tanggal 10 Muharam. Dimana pada saat itu, Nabi Sulaiman pernah kehilangan kerajaannya.

Singkatnya Nabi Sulaiman memerangi raja kafir. Dan anak perempuan dari raja kafir itu di nikahi. Karena istrinya selalu rindu kepada ayahnya, istrinya memohon kepada Nabi Sulaiman untuk dibuatkan patung yang menyerupai ayahnya.

Lambat waktu ternyata istri Nabi Sulaiman ini, menyembah patung ayahnya di luar pengetahuan Nabi Sulaiman. Karena menyembah patung itu, istrinya kemudian diikuti oleh setan.

Suatu ketika pada saat Nabi Sulaiman wudlu, Nabi Sulaiman memiliki cincin sakti yang tidak boleh dibawa ke kamar mandi, sehingga dititipkan kepada istrinya.

Ternyata itu bukan istrinya melainkan setan yang menyamar sebagai istri Nabi Sulaiman. Oleh karena jimat Nabi Sulaiman adalah cincin, maka hilang sebagian kekuatannya.

Akhirnya setan yang menyerupai istri nabi itu, menyamar menjadi Nabi Sulaiman dan memberi fatwa hukum yang salah. Apa fatwa hukum yang diberikan setan yang menyamar Nabi Sulaiman kepada masyarakat?.

Bahwa wanita yang sedang haidl boleh untuk dikumpuli suaminya. Masyarakat yang mendengar fatwa hukum tersebut curiga dan protes, “Pasti itu bukan Nabi Sulaiman!”. Karena diprotes akhirnya setan itu pergi, dan cincin Nabi Sulaiman di buang ke laut.

Sampai 40 hari nabi sulaiman menjadi karyawan nelayan di laut karena kerajaannya hilang. Pada suatu hari Ia menangkap ikan yang menelan cincinya. Lalu beliau kembali ke kerajaannya dan menguasainya lagi, peristiwa ini bertepatan pada tanggal 10 Muharam.

Lihat pula:  Hukum Do’a Menyambut Tahun Baru 1 Muharram

(7) Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya, pada tanggal 10 Muharram

(8) Nabi Yunus selama 40 hari berada di perut ikan, kemudian keluar pada 10 Muharram.

(9) Berkumpulnya Yusuf dan Yakub, yaitu bertemunya Nabi Yusuf dan Ya’qub setelah berpisah 40 tahun.

Kesolehan anak itu, diperoleh dari ibu yang solehah. Apabila ibu sholehah tapi ayahnya tidak soleh, insyaAllah anak masih bisa baik. Oleh karena itu Nabi bersabda, “Al-Jannatu takhta aqdaamil umahat”.

Buktinya adalah Nabi Nuh yang menikah dua kali. Yang pertama istrinya bernama Sofuro, dan memiliki 6anak yaitu laki-laki 3 dan perempuan 3. Anaknya bagus dan baik karena istri pertamanya solehah.

Berbeda dengan istri yang kedua yaitu milkhah, orangnya cantik dan seksi tapi tidak solihah. Sehingga anak-anaknya pun tidak menjadi keturunan yang taat seperti Kan’aan, balus dan keturunannya ada yang menjadi musuh Nabi Ibrohim bernama Namrud.

Begitu juga Nabi Yakub yang memiliki dua istri. Istri pertama ibunya tidak solihah, dan punya 7 anak, yang kebanyakan semua Yahudi. Berbeda dengan istri yang kedua, yang solehah, lahirlah Nabi Yusuf dan Bunyamin.

Anak dari istri pertama iri dengan kecintaan Nabi Yakub dengan Nabi Yusuf, sehingga Nabi Yusuf dibuang ke sumur. Kemudian ditemukan pedagang dan di jual di Mesir.

Lama sekali tidak bertemu Antara Nabi Yusuf dan Nabi Yakub, ada yang mengatakan pisah selama 40 tahun ada yang mengatakan 80 tahun. Lalu bertmeu kembali pada 10 Muharam.

(10) Lahirnya Nabi Isa serta naiknya beliau ke langit.

Itulah 10 Nabi yang dimuliakan oleh Allah. Oleh karena itu tanggal 10 Muharam disebut “Yaumul al-Syuro”. Banyak sekali fadilah dari 10 Muharam termasuk sodaqah kepada 10 anak yaitum. Orang dulu apabila mau sodaqah tidak menunggu kaya. Terkadang pada 10 syuro.

Di dalam kitab Nazhatul Majalis wa Muntakhobun Nafais karya Syekh Abdurohman al-Sofuri Halaman 175 diceritakan, ada orang yang mlarat, yg hanya punya pakaian satu stel. Dia tidak memilki apa-apa kecuali hanya satu gamis tersebut.

Pada 10 Muharam, orang itu shalat berjamaah di Masjid Amr bin Asy (yaitu masjid dari salah satu sahabat nabi dan menjadi gubernur di zaman Umar bin Khatab ketika jadi khalifah). Sekarang masjid itu terletak di Kota Lama.

Di Masjid Jami’ Amr bin Asy ini, pada hari-hari biasa tidak boleh dimasuki oleh wanita, kecuali pada tanggal 10 Muharam.

Setelah laki-laki fakir dari Mesir ini salat subuh. Ia Keluar dari masjid dan di hadang oleh seorang wanita. Wanita itu mengatakan, “Beri aku sesuatu karena Allah, yang sesuatu itu, akan aku berikan kepada anak-anakku”.

Rupanya wanita itu adalah janda dan punya banyak anak. Sementara orang yang dimintai tidak lebih dari laki-laki miskin.

Akan tetapi laki-laki itu tahu bahwa hari itu adalah tanggal 10 Muharam sehingga, dengan mantab ia dijawab, “Iya, ayo ikut lah aku!”.

Lalu dia pulang, dan masuk rumahnya. Wanita itu, menunggu di luar rumah. Lalu pintu rumah di buka, dan pakaian yang tinggal satu stel itu diulurkan dari dalam rumah sehingga laki-laki miskin itu hanya tinggal memakai penutup aurat saja.

Perempuan itu pun menerima pemberian dari laki-laki miskin itu dan berkata, “Semoga Allah membalas pemberianmu ini, dengan perhiasan, dari perhiasan surga”.

Pada malamnya yaitu malam ke 11 Syuro, Laki-laki itu bermimpi bertemu perempuan yang sangat cantik yang sedang membawa apel.

Lalu Apel itu beraroma harum sekali. Kemudian apel itu dipecah, dan di dalam apel itu ada perhiasan surga. Laki laki itu pun bertanya, “Kamu ini siapa?”. Dia menjawab, “Nama Saya al-Syuro, besok saya akan menjadi istrimu di surga”.

Lalu ia bangun dan rumahnya tiba-tiba beraroma wangi sekali.

Akhirnya laki-laki itu, tidak sabar, kangen, karena telah melihat dan ingat dengan wanita yang bernama al-syuro tadi. Lalu ia ambil wudlu, dan berdoa, “Ya Allah, kalau memang benar perempuan yang ada dimimpiku itu adalah istriku di surga, maka cabutlah nyawaku”. Tidak lama Setelah ia berdoa, laki-laki itu pun meninggal.

Intinya, pada tanggal 10 Muharam, perbanyaklah bersedekah. Bersedekah itu jangan menunggu kaya. Seperti laki-laki tadi, yang sedekah kepada janda miskin yang punya anak banyak, walaupun dia sendiri membutuhkan.

Di dalam kitab Raudlatul Afkar, ada laki-laki yang ngaji di depan ulama. Ulama itu berkata, “Barangsiapa bersedekah 7 dirham pada tanggal 10 Muharam, maka akan diganti Allah 7000 dirham”.

Satu dirham kursnya adalah 200.000, maka apabila 7 dirham nilainya sebanding dengan 1.400.000. Nah, apabila mau sedekah 7 dirham maka akan diganti oleh Allah, 7000 dirham. Artinya setiap 1 dirham akan diganti oleh Allah dengan 1000 dirham.

Kemudian laki-laki yang ngaji itu bersedekah sebanyak 7 dirham. Setelah ia bersedekah, ia menunggu dan mengharap-harap imbalan dari Allah. Hari berganti hari, bulan pun berganti, lama sekali, sampai sepanjang tahun, tidak datang-datang imbalan itu.

Kemudian, laki-laki itu mengaji lagi kepada ulama yang lain. Ulama yang lain itu juga menerangkan, “Barangsiapa yang sedekah 1 dirham, akan diganti oleh Allah 1000 dirham”. Inti pengajiannya sama.

Setelah ulama itu selesai berkata itu, laki-laki yang pernah bersedekah 7 dirham ini membantah, “Hal itu tidak benar, aku sudah pernah bersedekah 7 dirham pada hari 10 Muharam tapi aku tidak mendapat apa-apa”.

Tampaknya laki-laki itu kecewa karena sudah sedekah 7 dirham, tapi tidak kunjung mendapat imbalan. Lalu, tepat pada 10 Muharam, ada laki-laki yang membawa uang 7000 dirham untuk diberikan kepada laki-laki yang pernah bersedekah 7 dirham.

Laki-laki itu berkata, “Hai laki-laki yang rugi, ini adalah uang 7000 dirham, imbalan dari sedekahmu 7 dirham yang lalu, seandainya kamu sabar, pasti kamu mendapat yang lebih baik, pada hari kiamat”.

Inti dari cerita ini adalah, apabila bersedekah, walaupun telah dijanjikan imbalan, tidak usah menunggu imbalan tersebut, karena besok pada hari kiamat imbalannya akan lebih utama.

Di dalam kitab al-Nawadzir halaman 150-152 yang ditulis oleh Syekh Sihabudin bin Salamah al Qaltubi, diceritakan ada seorang fakir yang memiliki banyak anak.

Orang fakir ini, memiliki saham di kas negara atau Baitul Mal. Pada saat itu, anak yaitim dan fakir miskin adalah tanggungan negara. Oleh karena itu ia memiliki saham di kas negara.

Tapi hak berupa saham itu tidak pernah diambil karena tidak butuh. Suatu ketika karena terdesak dan dia tidak punya apa-apa lagi, terpaksa lah dia harus datang ke Gubernur di provinsi “Roy” untuk meminta haknya di kas negara.

Karena terpaksa tidak ada lagi nafkah untuk diberkan kepada keluarga. Dia berangkat dari sebelum subuh dan sampai pada waktu subuh karena jarak antara rumahnya dan kota yang jauh.

Setelah sampai dan bertemu gubernur, laki-laki yang fakir ini berkata, “Sungguh aku adalah laki-laki yang fakir, aku datang kepdamu, untuk meminta sedekah demi fadhilah hari ini, berilah aku, 10 kati roti, 10 kati daging, dan uang 2 dirham untuk makan anak-anakku yang miskin, mudah-mudahan tuan qadli diberi balasan oleh Allah”.

Qadli pun berkata, “Ya saya akan beri, Ya tapi nanti pada waktu dhuhur”. Karena antara waktu subuh dan dhuhur, adalah waktu yang lama, maka laki-laki miskin ini pun pulang.

Sampai di rumah anak-anaknya yang sudah kelaparan dan menunggu, menjemputnya dan berteriak sambil bernyanyi-nyanyi dengan menepuk tangan, “Ayah datang, ayah datang, ayah datang”. Namun, karena tidak membawa apa-apa Ayahnya nelangsa sambil berkata, “Nak, nanti ya, kata Tuan Qadli, bekal makanannya akan diberian pada waktu dluhur”.

Sebelum waktu duhur tiba, anak-anaknya sudah merengek, “Bapak, pergilah sekarang kepada gubernur untuk mengambil makanannya”. Lalu berangkatlah laki-laki yang miskin itu ke kota untuk menagih janji gubernur.

Setelah sampai dan bertemu gubernur, Sang gubernur berkata, “Tidak sekarang tapi nanti Asar”.

Lalu si miskin pun kembali pulang, dan dijemput oleh anak-anaknya. Seperti ketika ia datang tadi pagi. Namun di tangannya kosong tidak membawa apa-apa. Ia berkata kepada anak-anaknya, “Kata Tuan Gubernur, bekal makanannya akan diberikan nanti Asar Nak!”. Anaknya pun nelangsa mendengar keterangan Sang Bapak.

Singkat cerita, ketika asar datang si miskin datang kepada qadli, akan tetapi dijawab oleh qadli, “Tidak sekarang, tapi nanti magrib”. Setelah magrib datang, si miskin menemu Qadli dan Qadli berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang bisa aku berikan kepadamu”.

Mendengar itu, laki-laki miskin ini nelangsa dan menangis, karena kasihan kepada anak-anaknya yang kelaparan dan telah mengharap kedatangannya dengan membawa bekal. Dia tidak kuat membayangkan bagimana kecewanya anaknya-anaknya nati ketika ia datang.

Lalu ia bermunajat, “Ya Allah, bagaimana aku kuat melihat kondisi anak-anakku, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan anak-anakku?, bagaimana telingaku bisa kuat mendengar tangisan anak-anakku?.”

Lalu, tanpa sengaja dia lewat di depan rumah orang nasrani yang bernama Saiduk, melihat ada seorang yang menangis, Saiduk bertanya, “Pak kenapa kamu menangis?”. Laki-laki itu menjawab, “Jangan memaksa aku untuk menjawab tentang kondisiku”. Jawaban itu Karena ia
tahu bahwa Saiduk adalah orang nasrani.

Saiduk pun terus bertanya sampai ia bersumpah demi nama tuhannya. Lalu, laki-laki miskin itu bercerita tentang kisahnya dengan Qadli, bahwa dari subuh sampai magrib ia meminta belas kasih dari Qadli berupa bahan-bahan makanan. Tapi Qadli tidak mengabulkan.

Saiduk pun bertanya, “Hari ini hari apa, di dalam agama Islam?”. Si Miskin menjawab, “Hari ini adalah hari asyura?. Lalu Saiduk bertanya lagi, “Hari Asyura itu bagaimana?”. Kemudian laki-laki miskin pun menyampaikan keutamaan hari al-Syura kepada Saiduk.

Saiduk kemudian berkata, “Pak aku akan memberimu lebih dari yang kamu minta kepada Qadli, kalau kamu miminta 2 dirham, aku akan beri engkau 20 dirham, kalau engkau meminta 10 kati daging, aku akan memberimu 100 kati daging,”

“Dan apabila engkau meminta 10 kati roti, aku akan memberimu 100 kati roti”. Setelah mengucapkan itu, Saiduk berkata lagi, “Pak, dengarkanlah, pemberianku Ini tidak hanya sekarang saja, tapi akan aku tanggung bebanmu itu setiap bulan”.

Kemudian fakir ini pun pulang dengan gembira. Anaknya pun bahagia. Dia dan anaknya lansung berdoa, “Ya Robi, orang yang menggembirakan kami, maka masukan lah kegembiraaan kepadanya, cepat-cepat ya Allah”.

Malamnya, Qadli itu bermimpi ada hatif mengatakan, “Angkat kepalamu, lihat ke atas”. Ternyata di atas ada dua rumah panggung (bak istana) yang terbuat dari perak dan emas. Di sana ada bidadari-bidadari cantik.

Ia bertanya, “Ya Robbi, rumah ini milik siapa?. Kemudian dijawab, “Semula dua rumah panggung ini aku ciptakan untukmu, jika kamu memberi kebutuhannya orang fakir”. Tapi ternyata kamu menolak, oleh karena itu, dua rumah panggung itu, aku berikan kepda orang nasrani yang bernama Saiduk.

Gubernur itu pun menangis sambil menyesal, “Ya Allah rusaklah aku, Ya Allah rusak lah aku”. Kemudian dia mencari orang nasrani yang bernama. Setelah bertemu dengan Saiduk, Langung Qadli itu bertanya, “Apa kebaikan yang kau perbuat hari ini?”. Saiduk balik bertanya, “Kenapa engkau bertanya seperti itu?”.

Lalu Qadli pun bercerita kepada nasrani tentang mimpinya. Oleh Qadli, nasrani itu akan diganti apa-apa yang telah diberikan kepada laki-laki miskin dan akan dilipat gandakan.

Qadli berkata, “Amalmu kepada fakir itu, akan saya ganti dengan 100.000 dirham”. Nasrani berkata, “Wahai Qadli, kalau amal itu, sudah diterima oleh Allah, maka tidak akan aku jual, meskipun engkau beli dengan sepenuh bumi uang emas”. Lalu Nasrani pun berkata, “Asyhadu an laa ilaaha illaAllah”.

Inilah barokah dari sedekah 10 Syura, orang nasrani bisa masuk Islam, Qadlinya malah tidak peduli. Nasrani itu kemudian menjadi baik, bertambah baik dan meninggal dengan khusnul khotimah.

Lebih utama lagi sedekah kepada Anak yatim. Seperti kisah ada seorang laki-laki yang hidupnya suka bermaksiat. Pada tanggal 10 Muharam dia bertemu anak yatim yang pakaiannya cimpang-camping. Akhirnya anak yatim itu diberi pakaian.

Pada malam harinya ia bermimpi, pada Kiaimat orang ahli maksiat ini diseret ke neraka oleh malaikat. Tiba-tiba anak yatim itu menghadang, dan berkata, “Hai malaikat, lepaskan orang ini!”.

Anak yatim itu berkata lagi, “Lepaskan lah karena dia sudah memberi pakaian kepadaku”. Lalu ada suara yang menyuruh malaikat itu, “Lepaskan lah karena dia seseorang yang memuliakan anak yaitim”. Dan pada Akhirnya dia tidak jadi masuk neraka. (Diceritakan dalam kitab Nazaatul Majalis juz 1 halaman 148-149).

Nabi bersabda, “Anak Yatim apabila menangis, Arsy goncang, lalu Allah bertanya, – Wahai malaikat, siapa yang membikin nangis anak yatim itu?-, Malaikat menjawab, “Ya Robby Engkau yang lebih mengetahui” Kemudian Allah berfirman, “Ya Malaikat, Barangsiapa yang menjadikan nangisnya anak yatim itu menjadi diam, dan siapa membikin anak yatim ini senang, aku akan meridlai orang itu”.

Dalam hadist lain Nabi bersabda, “Sebaik-baik rumah orang muslim menurut Allah adalah rumah yang ada anak yatimnya yang dimuliakan, baik anak yatim itu anaknya sendiri, maupun yatim dari orang lain, dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang ada anak yatimnya dan tidak dipergauli dengan baik”.

Di tanah bashrah, ada laki-laki yang ahli maksiat. Dimana laki laki itu setiap malam ada di lokalisasi. Sehingga warga mengenalnya sebagai ahli maksiat. Orang itu pun pada suatu hari meninggal, sehingga tidak ada warga dan masyarakat pun yang mau datang melayat. Terpaksa istrinya menyewa 4 orang negro untuk memandikan, mengkafani, mensalati dan memakamkan.

Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah pun diberangkatkan. Lalu diampirkan ke masjid, barangkali ada yang mau mensalati, di masjid, ternyata tetap tidak ada yang mensalati. Lalu jenazah pun diberangkatkan untuk dimakamkan.

Disebelah makam itu, ada gunung yang di puncaknya di huni oleh Al Imam al-Zahid yang ahli zuhud dan petapa. Kalau ada warga ingin ketemu dan sowan maka harus naik gunung terlebih dahulu.

Saat itu ada hatif yang mengatakan pada Imam Zahid, “Zahid turunlah, salatkan, orang yang meningggal yang tidak ada yang mau mengiringi, kecuali 4 orang dan 1 wanita”. Zahid pun penasaran.

Setelah bertemu dengan jenazah yang dimaksud, Zahid pun menyalati. Lalu masyarakat datang, dan berkata, “Wahai zahid, jenazah ini adalah jenazah orang ahli maksiat”. Tapi karena Zahid mensalati warga pun ikut mensalati.

Setelah salat wanita itu ditanya oleh Zang Zahid, “Wahai wanita, kenapa suaminu tidak ada yang mengiring?”. Wanita itu menjawab, “Ya Syekh, jenazah ini adalah jenazah suami saya, dia dikenal ahli maksiat dan suka minum-minuman keras”.

Zahid pun bertanya lagi, “Apa kebaikannya semasa hidup?”. Istrinya menjawab, “Ada 3 Syekh, yang pertama suami saya walaupun seperti itu, kalau subuh pasti mandi, dan jamaah salat subuh, kedua apabila di rumah ada anak yatim, ia memuliakan anak yatim itu melebihi memuliakan anaknya sendiri, dan yang ketiga kalau malam, suami saya pasti bangun dan bertahajud serta mohon ampun kepada Allah”.

Abi dardak berkata kepada nabi, “Ya Rasulullah, hatiku gelap!”. Nabi berkata, “Solusinya, sayangilah anak yatim, elus kepalanya, dan beri dia makan seperti yang kamu makan, nanti hatimu akan terang dan kamu mendapat apa yang menjadi khajatmu”.

Dalam hadist lain Nabi berkata, “Barangsiapa yang mengusap anak yatim dimana ia mengusap karena Allah Taala, maka setiap rambut satu yang diusap diganti Allah dengan 10 kebaikan, dan besok dia akan bersamaku di surga seperti jari telunjuk dan jari tengah”.

Di Sambong pada 10 Syura yaitu Selasa Malam Rabu diundur satu hari karena bertabrakan dengan malam selasa ngaji hikam, diadakan santunan kepada 1200 orang fuqara, dan 145 anak yatim.

Kepada para donatur dipersilakan untuk mendonasikan kelebihan hartanya pada acara tersebut. Acara tersebut telah berjalan setiap tahun dan sudah pada tahun ke 13. (*)

(* Disarikan dari ngaji rutin Malam Selasa oleh KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad, 02 September 2019

Like it? Share it!

Leave A Response