Parade Tauhid di Bulan Muharram, Momentum Menyambut Islam Kaffah

Parade Tauhid Muslimah Banten di Bulan Muharram. (foto: ist/palontaraq)

Parade Tauhid Muslimah Banten di Bulan Muharram. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya: Pledoi untuk UAS

PALONTARAQ.ID – Saya tidak akan cerita, saya sedang berada dimana. Yang jelas, saya berada diantara kaum muslimin disalah satu sudut bumi yang dirahmati Allah SWT. Kata kelunya, saya disini menikmati duku Palembang tetapi bukan di kota Palembang.

Saya berada ditengah barisan panji-panji Islam, Al Liwa dan Ar Roya yang dikibarkan dengan bangga oleh kaum muslimin, yang berderet mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat.

Bahkan, ada juga yang mengendarai roda tiga, bukan bemo bukan bajai bukan pula bencak. Kendaraan apakah itu ? Tunggu, bukan ini subtansi ulasan yang akan kita bahas.

Kita akan membahas parade tauhid, parade Al Liwa dan Ar Roya, parade bendera umat Islam, yang dikibarkan dengan bangga oleh emak-emak, bapak-bapak, anak-anak, tua muda, dalam agenda menyambut tahun baru Islam di bulan Muharam 1441 H.

Meskipun matahari bersinar terik, namun kondisi itu tidak mengurangi Ghiroh peserta parade yang begitu antusias. Ah, diantara barisan emak itu ada adik-adik kecil yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.

Ada juga barisan remaja muslimah, yang begitu bersemangat meneriakkan yel-yel Islam sambil menumpang kendaraan roda empat yang berbentuk persegi memanjang. Orang kampung biasanya menyebut ‘odong-odong’.

Lihat pula: Ayo Mengkaji Khilafah

Dalam hati saya bergumam, inilah generasi Islam, masa depan Islam, generasi yang kelak akan menggantikan generasi penopang sistem sekuler yang terlihat sudah sangat ringkih.

Mereka, semoga kelak yang akan mengibarkan panji-panji Islam sebagai warga negara Daulah Khilafah. Antrian panjang parade tauhid itu, berujung disebuah tanah lapang, didepan kantor aparat penegak hukum.

Secara bergantian, para orator memompa semangat para peserta, meneriakan yel-yel khilafah! Khilafah! Khilafah! Padahal, mereka berada dibawah terik matahari yang begitu panas.

Ibu-ibu muslimah, menatap serius para orator memperhatikan pembicaraan, dan ikut terbuai dalam agitasi takbir secara berulang. Saya mencoba, berselancar di sosial media.

Ternyata, di laman Facebook bertebaran acara serupa, di sejumlah kota-kota se Indonesia. Kibaran bendera tauhid, begitu meriah memenuhi sudut jalanan kota bersama riuh ramainya suara peserta.

Ada juga, nyanyian dan Mars syahdu perjuangan Islam yang dinyanyikan secara bersamaan. Semua menampakan betapa umat ini mencintai agama dan syiar simbol agama Islam.

Namun ada juga kisah pedih, di Gresik sejumlah peserta parade tauhid dipersoalkan oleh aparat polisi. Alasan macam-macam. Heran, begitu bencinya aparat pada syiar bendera tauhid.

Namun, begitu bendera OPM berkibar di bibir istana, aparat bungkam. Tak ada tindakan untuk menghalangi apalagi menyita atau menangkap para pendemo yang membawa bendera OPM.

Di Gresik, peserta parade Muharam dipersoalkan, dikerjai aparat tanpa jelas pasal apa yang dilanggar. Subhanallah ! Rezim zalim ini begitu membenci terhadap syiar agama tauhid.

Sementara, Papua membara, pengibaran bendera OPM dan parade sparatisme dipertontonkan secara telanjang. Aparat polisi diam, bungkam, tidak segarang pada pengibaran mendera umat Islam.

Naudzubillah. ‘Ala kulli hal, secara umum potret Ghiroh yang mampu dicerap adalah betapa bersemangatnya umat ini pada Islam.

Semangat menyongsong era kebangkitan Islam. Semangat menyongsong Nasrulloh dan tegaknya khilafah melalui parade bendera tauhid. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response