Beranda Feature Pledoi untuk UAS

Pledoi untuk UAS

Ustadz Abdul Somad (UAS)
Ustadz Abdul Somad (UAS)

Oleh: Nasrudin Joha

Related Post: Please, Jangan Bermain-main dengan Isu Ustadz Abdul Somad

PALONTARAQ.ID – Sudah, tidak usah basah basih, kasus Ustadz Abdul Somad (UAS) demi hukum harus dihentikan.!! Kalau tidak, silahkan saja jika sudah berani menuai badai perlawanan umat Islam. Karena kasus UAS adalah kasus umat Islam, bukan kasus pribadi UAS.

Yang disampaikan UAS itu ajaran Islam, disampaikan untuk kalangan Islam, dalam forum terbatas di masjid yang merupakan tempat ibadah umat Islam. Jadi penganut agama lain tidak perlu baper.

Sederhana saja, unsur utama pasal 156a KUHP tentang penodaan agama, itu adalah ada tidaknya unsur ‘penodaan agama’ terhadap agama Kristen atau Katolik. Karenanya, yang punya wewenang dan otoritas untuk membuat tafsir ada tidaknya penodaan agama Kristen atau katholik itu adalah lembaga resmi representasi Kristen atau Katolik. Bukan yang lain.

Ringkasnya, yang memiliki otoritas untuk memberikan tafsir ‘ada tidaknya penodaan terhadap agama Kristen atau katholik’ adalah Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Sekali lagi, yang memiliki otoritas dan legalitas itu PGI dan KWI, bukan Ade Armando atau Abu Janda.

Tokoh-tokoh PGI dan KWI telah menyatakan ceramah UAS tidak menodai agama Kristen dan katholik. Kalau polisi belum yakin, panggil saja PGI dan KWI, minta ‘fatwa’ mereka secara resmi terhadap kasus video UAS ini, segera. Agar kasus ini tidak melebar menjadi isu SARA.

Ingat, sekali lagi saya ingatkan polisi. Yang dipanggil itu PWI dan KWI, jangan sampai salah malah memanggil Abu Janda dan Ade Armando.

Kepada umat Kristen dan katholik, UAS tidak salah, UAS ulama kami berdakwah menggunakan ilmu dalam ajaran agama Islam. Jadi, tidak ada hak bagi siapapun untuk meminta UAS menyatakan permohonan maaf, atas alasan dan tujuan apapun.

Sama halnya, kami juga tidak pernah menyayangkan Khutbah agamawan gereja yang menyebut umat Islam sebagai domba yang tersesat. Terserah saja. Kami juga, tidak pernah menuntut gereja atau pendetanya meminta maaf kepada umat Islam atas terma ‘domba yang tersesat’.

Itu hak umat Kristen maupun katholik untuk menyebut kami apa, sesuai ajaran yang diyakini Kristen atau katholik. Sebagaimana kami, menyebut ahli kitab baik Nasrani maupun Yahudi sebagai kafir. Dalam urusan ini, kami cukup berpegang teguh pada ajaran dari wahyu ilahi ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’, “Lakum diinukum waliyadin”.

Kepada Bani Jamban sisa-sisa pendukung Ahok, mundurlah. Akhiri persoalan ini. Jangan bermimpi UAS mau ‘di Ahok-kan’ karena kasus UAS dan Ahok itu beda jauh:

Pertama, UAS berceramah atas kapasitas ulama, pemuka agama Islam yang memiliki kewajiban menyampaikan ajaran Islam. Sedangkan Ahok, bukan ulama bukan pula muslim, jadi tak punya hak berkomentar ngawur terhadap ayat suci Al quran agama Islam. Kalau Ahok mau berkomentar ngawur terhadap Injil, yang merupakan kitab agama Ahok, terserah saja.

Kedua, apa yang disampaikan UAS itu kepada umat Islam dan dalam ruang privat, di masjid. Sementara Ahok, menistakan surat Al Maidah di depan kalangan muslim dan ditempat yang terbuka untuk umum.

Ketiga, motif UAS berceramah hanya untuk menyampaikan ajaran dan keyakinan dalam pandangan akidah Islam. Sementara Ahok, motifnya politik. Ahok khawatir keok Pilkada DKI Jakarta karena khawatir tidak dipilih umat Islam yang meyakini haram memilih pemimpin kafir, akhirnya Ahok menyerang Qur’an Surah Al-Maidah.

Terakhir, jangan juga menjadikan kasus UAS ini menjadi Triger atau dalih untuk menghapus pasal penodaan agama. Karena UAS tidak menodai agama. UAS hanya berdakwah, berceramah.

Jangan menyelam dalam air keruh, mau menangguk benefit politik untuk menghapus pasal ini. Ada pasal penodaan agama saja penistaan agama oleh Abu Janda, Victor Laiskodat, Ade Armando, Busukma, dan gerombolan lainnya masih begitu masif. Apalagi jika pasal ini dihapus ?

Sekali lagi, segera hentikan kasus ini. Sebab jika tidak, kami umat Islam siap untuk demo dan aksi bela ulama berjilid-jilid untuk membela UAS. Dalam beberapa waktu Kedepan, kami akan tunjukkan betapa kami sangat mencintai UAS.  (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Sudah Saatnya dibentuk Kementerian Penangkapan Aktivis

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Salah satu fokus utama Amerika Serikat (AS) setelah kemerdekaannya (4 Juli 1776) adalah pembangunan kekuatan militer. Ini dibuktikan ketika presiden pertama...

Omnibus Law Itu Strategi Jokowi untuk Menyingkirkan Oligarki Cukong

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Bergegas saya ke laptop. Khawatir inspirasi hilang. Inspirasi itu datang ketika sedang olahraga kecil di belakang rumah. Senam rutin itu...

Pesan Dakwah: Manisnya Madu

  Lihat pula: Khasiat Madu saat Dicampur Kayu Manis Oleh: Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Penjualan madu di Indonesia meningkat selama Pandemi Covid-19. Walaupun meningkat,...

Di IMMIM Pangkep, Upacara Hari Santri Nasional digelar dengan Protokol Kesehatan

  Laporan: Dra Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri IMMIM Pangkep yang sejak 9 dan 11 Agustus lalu telah memasukkan santriwati baru ke sekolah dan...