UINSA Surabaya ‘terpapar’ Dungu Akut?

by Penulis Palontaraq | Kamis, Agu 22, 2019 | 90 views
Spanduk Kegiatan IKA UINSA. (foto: ist/palontaraq)

Spanduk Kegiatan IKA UINSA. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Aduhai, bagaimana mungkin lingkungan akademik yang terbiasa berfikir dengan nalar kritis membiarkan ‘postulat liar’ mengkontaminasi kebajikan ilmu dan etika juga moral? 

Aduhai, apakah sivitas akademika UINSA Surabaya telah ‘terpapar kedunguan akut’ sehingga secara sadar, membiarkan spanduk liar yang tak mewakili nalar intelektual, tak meresapi makna ilmu dan norma etika dibiarkan terpampang sombong didepan gerbang UINSA Surabaya?

Telah datang kabar kepadaku, foto spanduk yang terpajang sombong didepan UINSA Surabaya dengan redaksi tulisan, “Selamat Datang Di Kampus NKRI. Jangan biarkan HTI dan sejenisnya meracuni kampus UINSA tercinta”.

Spanduk yang dipajang dengan foto ketua Umum IKA UINSA, Imam Nahrawi yang narsis. Tidak diketahui, prestasinya apa kecuali memasang spanduk liar ini. Yang jelas, Imam Nahrawi terbelit kasus di KPK.

Redaksi spanduk ini penuh dengan nada kebencian dan permusuhan berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Dengan mengklaim kampus NKRI, apakah pembuat spanduk mengklaim hanya UINSA yang NKRI, bagaimana dengan UI, Unpad? IPB? UGM? Undip? Apakah mereka tidak NKRI? Apakah semua kampus diluar UINSA itu radikalis?

Menyebut HTI racun secara bahasa maupun maknawi juga bias. Jenis racun itu jelas, misalnya saja jika itu racun serangga bisa berbentuk Insektisida organik sintetik yang banyak dipakai yang dibagi-bagi lagi menjadi beberapa golongan besar.

Insektisida golongan ini biasanya dibuat dari molekul organik dengan penambahan fosfat. Insektisida sintetik yang masuk dalam golongan ini adalah Chlorpyrifos, Chlorpyrifos-methyl, Diazinon, Dichlorvos, Pirimphos-methyl, Fenitrothion, dan Malathion.

Nah, adakah bahan insektisida atau racun serangga yang terbuat dari HTI?

Kalau ‘racun’ itu ditafsirkan secara maknawi, sekarang apa dampak ‘racun HTI’? Apakah HTI korupsi? HTI memberontak? HTI mengedarkan narkoba?

Justru yang jelas menjadi penyakit dan racun bangsa ini adalah korupsi. Korupsi adalah racun paling akut yang merusak kesehatan berbangsa dan bernegara.

Kasus korupsi Romi dan Lukman Hakim Syaifudin itu bukan kader HTI. Keduanya kader PPP, korupsinya dilingkungan kemenag, diantaranya terkait jual beli jabatan rektor UIN se Indonesia. Termasuk kasus yang membelit Imam Nahrawi. Hayo loh?

Yang memberontak itu OPM, yang mengedarkan narkoba itu kader Nasdem. Kenapa tidak menyebut racun OPM dan racun Nasdem?

Lagi pula, jika makna yang dirujuk adalah makna hukum, secara hukum putusan pengadilan tata usaha negara hanya mengokohkan pencabutan SK BHP HTI. Tidak ada amar putusan pengadilan yang menyebut HTI terlarang, apalagi menyebut HTI racun.

Aktivitas HTI juga dikenal luas berdakwah mengajarkan syariat Islam, dengan pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. Lantas, apa kemudian mau menuding syariah Islam itu racun?

UINSA Surabaya wajib menertibkan spanduk liar ini, biar tidak terpapar nalar dungu dalam memahami isu hukum. UINSA juga wajib menjaga Marwah dan wibawa kampus, agar tidak dianggap publik terasosiasi dengan pemasang spanduk ini.

Jika tidak dilakukan, kalau nanti tiba-tiba KPK mencokok rektor UINSA, kan bisa malu ? Masak, kampus paling NKRI terciduk KPK kasus korupsi ? [*]

Like it? Share it!

Leave A Response