Oleh: M. Farid W Makkulau
Tulisan Sebelumnya: Menemukan Foto Soekarno dalam Buku Tiongkok 1957
PALONTARAQ.ID – Pernah mendengar nama Profesor Kadirun Yahya? Tak terlalu dikenal tentunya oleh generasi milenial saat ini karena beliau adalah seorang Angkatan ’45. Lengkapnya bernama Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc, seorang sufi, sekaligus ahli fisika dan metafisika. Beliau pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Panca Budi, Medan, Sumatera Utara.
Dalam suatu pertemuan dengan Presiden Soekarno, Profesor Kadirun Yahya berada dalam suatu rombongan ilmuwan yang diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, dan Duta Besar Belanda.
“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor,” kelakar Presiden Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya. Presiden Soekarno lalu mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk. “Profesor Kadirun Yahya, silakan duduk dekat saya,” – pinta Presiden Soekarno, terkesan khusus.
“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen,” tanya Presiden Soekarno.
(Artinya: Saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu).
“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden?” – sambut Profesor Kadirun Yahya
Untuk memudahkan memahami dialog ini, untuk selanjutnya Presiden Soekarno, selanjutnya disingkat S dan Profesor Kadirun Yahya disingkat K. Latar belakang pendidikan tinggi keduanya adalah sama-sama eksakta. Presiden Soekarno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.
Soekarno (S): “Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun lalu, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”
Profesor Kadirun Yahya (KY): “Lantas soalnya apa bapak Presiden?”
S: “Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya.”
KY: “Baik Presiden.”
S: “Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?”
KY : “Sorga”
S : “Accoord (setuju).”
S : “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara Pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?”
KY : “Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana.”
S : “Accoord. Nu heb ik je te pakken Professor (Sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor).”
Tampak muka Presiden Soekarno cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah.
S : “Saya cerita sedikit dulu.”
KY : “Silakan Bapak Presiden”.
S : “Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.”
“Lantas saya ketemu dengan satu hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut: Rasulullah SAW berkata: Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.
“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?”
Lihat pula: Menulis ala Buya Hamka
Profesor Kadirun Yahya tidak langsung menjawab. Hening sejenak, lantas berdiri dan meminta kertas.
KY: “Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien,”
(Artinya: Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat. Mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan)
Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.
KY : “10/10 = 1.”
S : “Ya”
KY : “10/100 = 1/10.”
S : “Ya”
KY : “10/1000` = 1/100.”
S : “Ya”
KY : “10/10.000 = 1/1000.”
S : “Ya”
KY : “10 / ∞ (tak terhingga) = 0.”
S : “Ya”
KY : “1000.000 … / ∞ = 0 .”
S : “Ya”
KY : “(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0 .”
S : “Ya”
KY : “Dosa / ∞ = 0 .”
S : “Ya”
KY: “Nah…, 1 x ∞ = ∞ .”
S : “Ya”
KY : “½ x ∞ = ∞ ”
S : “Ya”
KY : 1 zarah x ∞ = ∞ ”
S : “Ya.”
KY : “… Ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar. Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0. Ziedaar hetantwoord, Presiden. Itulah dia jawabannya Presiden.”
Presiden Soekarno terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
S : “Geweldig (hebat).”
Presiden Soekarno terlihat puas, meski begitu masih mengajukan pertanyaan.
S : “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?”
KY : “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati.”
S : “Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan?”
KY : “Melalui isi dada Rasulullah. Dalam Hadits Qudsi yang berbunyi, yang artinya: Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a).”
“Begitu juga dalam Qs. al-Hijr ayat 29 disebutkan Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya.”
“Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT.”
“Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!
“Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanya pun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat.”
“Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens).”
“Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Ilahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”
Lihat pula: Asal Usul Istilah “Halal bihalal” di Indonesia
S : “Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?”
KY : “Memperbanyak shalawat atas Nabi. Hanya dengan bershalawat, baru bisa dan akan mendapatkan frekuensi beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.”
– Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan An-Nasay).
Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih: “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.
Sontak Presiden Soekarno berdiri.
S : “You are wonderful” teriaknya.
Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presiden Soekarno pun bermohon, “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum dibelakang hari nanti”.
Demikianlah dialog antara Presiden Ir. Soekarno dengan Profesor Kadirun Yahya (dikutip dari berbagai sumber). Sekarang, kita dapat memahami mengapa dalam banyak majelis ilmu, ceramah keagamaan dan pengajian, seorang muslim senantiasa dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah, Muhammad SAW.
Billahit Taufiq wal hidayah. Barakallahu fiikum. (*)


