BerandaLiterasiPuisi: I‘rab Kehidupan Sang Penjaga Ilmu

Puisi: I‘rab Kehidupan Sang Penjaga Ilmu

Oleh: Etta Adil *)

Related Post: Mengenal Puisi Akrostik dan Proses Kreatifnya

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai memakai nama “Muhammad Farid Wajdi” ini bukan sekadar potret personal, tapi manifesto hidup keilmuan dan kebudayaan. Ya, inilah “I‘rab Kehidupan Sang Penjaga Ilmu” menyatukan nahwu–shorof sebagai metafora hidup.

Puisi ini membawa beberapa pesan utama, yaitu bahwa Ilmu Harus Berakar pada Niat. Dengan metafora mubtada’, puisi menegaskan, “hidup yang benar selalu dimulai dari niat dan ilmu yang lurus”. Tanpa niat, kalimat kehidupan tak akan utuh. Bahwa Belajar Adalah Fi‘il Mudhari‘, Ilmu digambarkan sebagai kata kerja yang terus berlangsung: belajar tidak pernah lampau, tidak pernah berhenti. Gelar hanyalah bentuk shighat, hakikatnya adalah proses tanpa akhir.

I‘rab Kehidupan Sang Penjaga Ilmu

(1)

Mubtada’ hidupnya adalah ilmu, niat lurus yang menjadi awal setiap kalimat pengabdian.
Uslub tulisannya fasih dan hidup, kata-kata mengalir seperti fi‘il mudhari‘—terus bergerak.
Huruf demi huruf ia rawat dengan makna, rajin menulis, menjadikan pena sebagai saksi zaman.
Amil ‘ilmu ia jalani tanpa pamrih, mengakrabi seluruh khazanah keilmuan Islam.
Ma‘rifah tumbuh dari sanad ke sanad, pengejar mata rantai ulama, bukan sekadar gelar.
Majzum dari riya’, ikhlas adalah tanda baca dalam setiap amalnya.
Ahlak menjadi i‘rab paling kuat, membuatnya dicintai siswi dan santri.
Dhobit dalam mendidik, di tangannya aturan hape dan laptop menjadi maslahat.

Fa‘il dalam banyak organisasi keagamaan, tumbuh aktif, namun tak silau oleh jabatan.
Akan tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai budayawan—khabar yang melekat kuat.
Riwayat akademiknya berlapis seperti shighat: S1 Hukum Islam,
S2 Manajemen Sumber Daya Manusia, dan kini S2 lagi—Sejarah Peradaban Islam.
I‘lal hidupnya adalah belajar tanpa henti, mengubah letih menjadi hikmah.
Dan Jalan Surga baginya adalah Menuntut Ilmu sepanjang hayat

Wazan penelitiannya kini tertuju pada sumbangsih orang Melayu dalam proses Islamisasi Kerajaan Siang.
Artikel dan risetnya menjadi na‘at, menjelaskan sejarah dengan teliti dan cinta.
Jika seni dipanggil, ia menjadi sutradara sekaligus narator sendratari, menyatukan gerak, suara, dan makna.
Dalam kepenyairan, ribuan baitnya bertebaran, blog menjadi diwan, kata menjadi zikir.
I‘lan karya puisinya tertulis jelas: Penjara Suci dan Menjawab Waktu—jawaban sunyi atas kegelisahan zaman.

(2)

Mubtada’ segala langkah, memulai hari dengan tinta yang tak pernah kering
Untaian katanya adalah Isim Fai’l, aktif bergerak membangun peradaban santri
Hukum Islam menjadi fondasi (Ashl), Manajemen Manusia menjadi Wazan penggerak
Auran laptop dan gawai di tangannya, laksana Amil Jazm—tegas menjaga disiplin hati
Masdar keikhlasan terpancar, tulus bekerja tanpa mengharap I’rab pujian dunia
Melayu dan Kerajaan Siang ia teliti, mencari Dhamir sejarah yang lama tersembunyi
Antologi “Penjara Suci” dan “Menjawab Waktu”, bukti ia adalah Sighat Mubalaghah dalam berkarya
Di panggung sendratari, ia adalah Fail—sutradara sekaligus narator yang menghidupkan makna.

Fokus mengejar sanad ulama, laksana Fi’il Mudhari’ yang tak henti mencari sumber asali
Akrab dengan segala khazanah, mengumpulkan Jam’ taksir ilmu dalam satu wadah diri
Ribuan puisi di blog pribadinya adalah Na’at yang menyifatkan keindahan jiwa
Ikhlas dalam setiap khidmah, membuat namanya Marfu’ di hati siswi dan para santri
Dikenal sebagai budayawan santun, melunakkan kekakuan dengan sentuhan seni yang murni.

Wawasan luasnya adalah Maf’ul bih, merangkul organisasi namun tetap setia pada literasi
Arah studinya kini ke Sejarah Peradaban, mencari Illat kejayaan Islam di masa silam
Jalan hidupnya penuh semangat, mengejar rida Tuhan dengan cinta yang Muta’addi
Dalam setiap langkahnya, ia adalah muara ilmu yang menyejukkan dahaga santri
Istiqamah di jalan pena, Muhammad Farid Wajdi—sang penjaga sanad dan penjawab waktu.

***

Dalam puisi akrostik ini, Adab Menentukan Makna dalam penggunaan istilah i‘rab, majzum, marfu‘ memberi pesan kuat bahwa hidup yang kehilangan adab akan salah makna, seperti kalimat Arab yang salah i‘rab. Sosok Muhammad Farid Wajdi digambarkan hidup seperti kalimat sempurna: mubtada’-nya ilmu, khabar-nya pengabdian, dan i‘rab-nya dijaga oleh adab.

Pesan khas dalam puisi ini adalah bahwa Ilmu dan Budaya bukan Lawan atau berlawanan. Puisi ini menyatukan pesantren & panggung seni, riset sejarah & sendratari, sanad ulama dan blog puisi. Pesannya jelas, “ilmu Islam hidup dan bernapas dalam kebudayaan”. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 27 Januari 2026

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT