Headline Prabowo-Mega bertemu Hari Ini?

Prabowo-Mega bertemu Hari Ini?

-

- Advertisment -

Prabowo-Megawati bertemu. Akankah koalisi Partai Gerindra dengan PDIP? (foto: merdeka.com)
Prabowo-Megawati bertemu. Akankah koalisi Partai Gerindra dengan PDIP? (foto: merdeka.com)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan Sebelumnya:  Teruntuk Prabowo: “Ini Kelewatan, Ini sangat Menyakitkan!”

PALONTARAQ.ID – Lupakan narasi pidato berapi-api, mengumbar komitmen untuk timbul dan tenggelam bersama rakyat. Lupakan, onggokan kata yang menyeru hidup mulia atau mati Syahid. Saya tegaskan, semua itu dusta belaka.

Tak ada macan Asia, yang ada hanya seekor kucing yang saat ini telah menghinakan diri untuk dapat remah ikan asin. Yang dibagi, bukan daging empuk. Hanya ikan asin.

Untuk kucing, yang gayanya mengaum seperti macan padahal meong-meong, cukup dikasih ikan asin kekuasan. Jadi, pemimpin model begini memang tak layak memimpin, tak layak memanggul amanat besar dari umat Islam.

Jangankan bertarung dengan asing dan aseng, dengan rezim curang saja tunduk. Apalagi, diharapkan mau menanggung beban untuk melindungi segenap kaum muslimin, membebaskan Palestina, menolong saudara muslim di Uighur, ah sudahlah tidak usah berkhayal.

Kemarin, petugas partai kabarnya akan ikut pertemuan. Tapi hari ini (24/7), dikonfirmasi petugas partai tidak ikut pertemuan elit politik. Petugas partai menunggu mandat dari Ketum saja, tidak usah ikut rewel.

Pertemuan hari ini, akan diklaim sebagai bagian dari rekonsiliasi, mengurangi ketegangan, mengkonsolidasi bangsa untuk tujuan pembangunan. Pertemuan ini, adalah tindak lanjut tragedi Lebak Bulus, pertemuan lanjutan pasca diumumkan secara resmi era cebong kampret, dan dimulainya era mutan kecompret.

Mereka akan membangun narasi perdamaian, persatuan, melakukan rekonsiliasi, mengambil bersikap sebagai negarawan untuk membangun masa depan bangsa. Faktanya, pertemuan ini adalah transaksi kekuasan, transaksi yang dibangun diatas bangkai penderitaan umat.

Transaksi yang dibangun dengan senyum sumringah, diatas kekecewaan massa yang merasa dicurangi, diatas kegetiran orang tua Reyhan, orang tua Harun, serta kerabat korban 21-22 Mei. Transaksi diatas misteri matinya 700 lebih anggota KPPS.

Peristiwa ini, membuka mata kita bahwa para politisi culas itu tidak pernah berjuang bersama umat, tidak pernah serius memikirkan umat. Mereka hanya peduli dan sibuk untuk mencari jabatan dan kekuasaan.

Diantara kemungkinan materi yang ditransaksikan : ketua MPR RI, beberapa alat kelengkapan dewan, sejumlah menteri, bahkan konsesi untuk tidak saling mengungkit borok borok kekuasaan. Itu biasa, karena politik itu siapa berperan apa dan dapat bagian apa.

Para penjilat dari kaum yang mengaku oposisi, telah kelihatan batang hidungnya. Mulai memuja muja dan cari muka dengan panggilan Kang Mas, padahal sebelumya mengkritik habis rezim Jokowi.

Wahai umat Islam, tidakkah hidangan memuakan ini menjadi bukti bahwa demokrasi bukanlah jalan kebangkitan kalian ? Tidakkah, seluruh pengkhianatan dan duka yang kalian alami, menjadi dasar yang cukup untuk meninggalkan demokrasi ?

Tidakkah, kalian segera meninggalkan parit parit perjuangan yang membela tokoh-tokoh, dan memalingkannya untuk segera berdiri tegap hanya untuk membela Islam ? Tidakah, apa yang kalian lihat dan rasakan, cukup untuk menjadi dasar kalian mengubah methode perjuangan ?

Sungguh ! Nasrudin Joha tidak akan pernah merasa lelah mengingatkan kalian, juga membongkar aib kekuadaan zalim. Nasjo sangat menyayangi kalian, dan menginginkan kalian memperoleh kemuliaan.

Karena itu wahai umat, berjuanglah hanya untuk Islam. Tolonglah agama Allah SWT, yang dengan itu Allah SWT akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.

Ya Allah, saksikanlah ! Hamba telah menyampaikan. [*].

Berita sebelumyaHajj Journey – 05
Berita berikutnyaPertemuan Mega-Prabowo
Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you