Sejarah Kalender Masehi

by Penulis Palontaraq | Minggu, Des 30, 2018 | 309 views
Kalender Masehi-2019 (foto: jadwalliburnasional)

Kalender Masehi-2019 (foto: jadwalliburnasional)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

TERNYATA, penanggalan tahun Masehi yang dipakai selama ini berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh para astronum penyembah dewa. Maka nama-nama bulanpun memakai nama dewa dan tokoh pencetus penanggalan kalender Masehi. Lantas bagaimanakah sejarah penanggalan kalender Masehi bermula?

Selama ini kita mengenal ada dua macam bentuk penanggalan yaitu lunar (mengacu pada bulan), solar (mengacu pada matahari), dan lunisolar (mengacu pada keduanya). Yang paling kita kenal di dunia ini adalah penanggalan Hijriyah dan Masehi. Kalender Hijriyah adalah kalender yang mengacu pada perputaran bulan. Sedangkan kalender Masehi mengacu pada perputaran matahari.

Kata Masehi digunakan oleh Umat Kristen awal untuk menetapkan hari kelahiran Yesus yang dalam bahasa latin disebut Anno Domini (AD) yang berarti “Tahun Tuhan Kita” atau Common Era/CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan Before Christ/BC (sebelum [kelahiran Kristus) atau Before Common Era/BCE (Sebelum Era Umum).

Lihat juga: Dalam Semenit, Menginjakkan Kaki di Tiga Kabupaten

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat sejak Abad ke-8.

Semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pada Tahun 527 M ditugaskan Pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus) untuk keperluan menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.

Awalnya penghitungan hari Orang Romawi terbagi dalam 10 bulan saja (kecuali Januari dan Februari). Persis dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi penghitungan hari Masehi ini ada kaitannya dengan Dewa Bangsa Romawi.

Bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama Dewa Juno, sedang nama-nama Quintrilis, Sextrilis, September, October, November dan December diambil berdasarkan angka urutan susunan bulan.

Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, September bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh. Aprilis diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di musim semi. Berdasarkan nama-nama tersebut, tampaklah¸bahwa di zaman dahulu permulaan penanggalan Masehi jatuh pada bulan Maret.

Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama Dewa Janus, Dewa berwajah dua, menghadap ke muka dan ke belakang, hingga dianggap dapat memandang masa lalu dan masa depan.

Karenanya Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih kampung atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Dengan ini Februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pada bulan Maret.

Lihat juga:  Tambara, Herba Pembangkit Kematian dari Tondongkura

Awalnya Bulan-bulan terdahulu letaknya di dalam penanggalan baru menjadi tergeser dua bulan, dan susunannya menjadi: Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan December.

Ketika Julius Caesar berkuasa, ia menerima anjuran para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December.

Setelah kembali ke Roma, Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinya dari Mesir.

Keputusannya kala itu, setahun berumur 365 hari karena beralasan, bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Kedua setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari, tapi 366 hari yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan tahun kabisat sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yang dalam 4 tahun menjadi 4×6=24 jam atau 1 hari.

Untuk menghargai jasa Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan penanggalan itu, maka penanggalan tersebut disebut penanggalan Julian. Dengan menganti nama bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio, yang kita kenal sebagai bulan Juli.

Lihat juga:  H. Puang Tompo: Pemerintah Islam DI/TII Pernah Terwujud di Tondongkura

Waktu terus berjalan, rupanya penanggalan Julian juga memperlihatkan kesalahan fatal juga. Apabila pada zaman Julis Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan. Guna meluruskannya, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma pada Tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan keputusan sebagai berikut:

Pertama, Angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dan seterusnya, bukan lagi sebagai tahun kabisat (catatan: jadi tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat).

Kedua, Untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada Bulan October, pada bulan Oktober 1582 itu, setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober pada tahun 1582 itu.

Ketiga, Sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Berarti pada perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi Isa as (Yesus dalam iman Kristiani) lahir pada tanggal 25, dan permulaan musim semi pada bulan Maret.

Perbedaan Kalender Masehi dan Hijriyah. (foto: ist/palontaraq)

Perbedaan Kalender Masehi dan Hijriyah. (foto: ist/palontaraq)

Demikianlah Penanggalan dan Kalender Masehi yang dikenal sampai sekarang. Bagi Umat Islam sendiri, punya penanggalan dan Kalender sendiri sebagaimana yang kita kenal dengan nama Kalender Hijriyah.

Jadi, kalau Umat Kristiani Katolik merayakan tahun baru pada tanggal 1 Januari, maka itu sudah betul, sedangkan Umat Islam seharusnya merayakan dan mensyukuri tahun baru pada tanggal 1 Muharram (Kalender Hijriyah). Bagaimana Sejarah Penanggalan dan Kalender Hijriyah? Akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response