Kisah Ukasyah, Sahabat yang Ingin Mencambuk Nabi SAW

by Penulis Palontaraq | Selasa, Mei 14, 2019 | 158 views
Allahumma shalli 'ala Muhammad. (foto: ist/palontaraq)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. (foto: ist/palontaraq)

 

Oleh: Ummu ‘Adil

PALONTARAQ.ID – Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat. Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga keadaan beliau sangat lemah.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua Sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para Sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sahabat-sahabatku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah?”

Semua Sahabat menjawab dengan suara bersemangat, “Benar wahai Rasulullah. Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada umatku.”

Rasulullah SAW lalu bersabda lagi, dan setiap apa yang disabdakan Rasulullah SAW selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah pada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah SWT, dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan umatku. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan berhutang dengan manusia.”

Ketika itu semua para sahabat diam, dan dalam hati masing-masing berkata, “Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah”.

Lihat juga: 40 Fadhilah Shalawat

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali, sampai tiba-tiba bangun seorang lelaki yang bernama Ukasyah, seorang sahabat, mantan preman jahiliyah sebelum masuk Islam.

Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah… Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa”.

Rasulullah SAW berkata, “Sampaikanlah wahai Ukasyah”.

Maka Ukasyahpun mulai bercerita, “Aku masih ingat ketika Perang Uhud dahulu, suatu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Tetapi cemeti tersebyut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru mengenai dadaku. Karena ketika itu aku berdiri dibelakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah”.

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dahulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

Nampak para sahabat yang lain mulai gelisah dan geram dengan kelancangan Ukasyah. Dengan mata berkaca-kaca, para sahabat memikirkan begitu teganya Ukasyah berkata demikian saat Rasulullah SAW lemah dan sakit.

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata, “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Para sahabat tambah gelisah. Diantara mereka setengah berteriak kepada Ukasyah.

“Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit!?”

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah, anaknya.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya, “Untuk apa Rasulullah SAW meminta cambuk ini wahai Bilal?”

Bilal menjawab dengan nada sedih, “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah.”

Terperanjat dan menangislah Fatimah, seraya berkata, “Kenapa Ukasyah hendak memukul Rasulullah, ayahku, ya Bilal? Ayahku sedang sakit, ya Bilal. Kalau mau memukul, pukullah aku anaknya”.

Bilal menjawab, “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikannya kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk itu, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba-tiba, Abu Bakar dengan menahan geram berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, “Ukasyah… kalau kamu hendak memukul, pukullah aku..!! Aku adalah orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku!”

Rasulullah SAW bersabda, “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah SAW. Kemudian Umar bin Khattab juga dengan menahan amarah berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, “Ukasyah… Kalau engkau mau mukul, pukullah aku.”

“Dahulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya. Itu dahulu. Sekarang, tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Muhammad Rasulullah SAW. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku, ya Ukasyah..!!” ujar Umar bin Khattab.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, “Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, dan tiba-tiba berdirilah Ali bin Abu Talib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Sambil menahan geram, Ali bin Abi Thalib menghalangi Ukasyah sambil berkata, “Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, “Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon, “Wahai Paman, pukullah kami Paman, Kakek kami sedang sakit, Pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah SAW. Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan menyakiti Kakek kami, wahai Paman.”

Lalu Rasulullah SAW berkata, “Wahai Cucu-cucu kesayanganku, duduklah kalian.  Ini urusan kakek dengan Paman Ukasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata, “Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini!”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah SAW didudukkan pada sebuah kursi.

Tak sampai disitu, dengan suara lantang Ukasyah berkata lagi, “Dahulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah.”

Lihat juga: Shalawat Penyembuh Penyakit

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Semuanya tegang menahan amarah. Beberapa diantaranya menunduk tak tahan melihat perlakuan tidak sepantasnya dari Ukasyah.

Tanpa berlama-lama, Rasulullah SAW yang dalam keadaan lemah, berusaha membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Wahai Ukasyah, segeralah cambuk aku dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah SWT akan murka padamu.”

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW. Cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya sambil menangis sejadi-jadinya.

Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah, Ampuni aku! Maafkan aku! Mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena Engkau pernah mengatakan, “Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya.”

“Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah!”

Muhammad SAW

Muhammad SAW (foto: ist/palontaraq)

Rasulullah SAW dengan tersenyum berkata, “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Syurga, maka lihatlah Ukasyah!”

Semua sahabat menitikkan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Semoga dengan membaca ini, bila ada air mata,  maka semoga itu adalah air mata kecintaan kita kepada Kekasih Allah SWT, Muhammad SAW.

اللّٰهم صَلِّ عَلَی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدﷺ❤

“Allahumma’sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad. Allahumma sholli ‘alayhi wassalam.”

Semoga Allah SWT selalu meridhai kita semua. Aamiin!

Like it? Share it!

Leave A Response