Unicorn pada StartUp

Unicorn di Indonesia

Unicorn terkemuka di Indonesia. (foto: ist/palontaraq)

Laporan:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – ISTILAH  unicorn tengah hangat dibahas saat ini, bahkan menjadi bahan candaan tatkala Capres Prabowo Subianto meluruskan pengucapan dan maksud dari pernyataan “Yunikon” oleh Capres Petahana, Joko Widodo (Jokowi) dalam Debat Capres kedua di Hotel Sultan, Ahad malam (17/2/2019) lalu.

Bagi orang awam, istilah unicorn mungkin terasa asing. Mengingat unicorn kerap identik dengan sosok kuda bertanduk satu yang kerap ada dalam cerita mitologi.

Istilah yang sama sejatinya juga disematkan pada perusahaan rintisan (startup) yang telah memperoleh valuasi lebih dari US$1 miliar. Penggunaan istilah unicorn pertama kali dilakukan oleh salah satu pemodal asal AS Aileen Lee pada 2013 lalu. Lee menggunakan istilah unicorn bagi perusahaan yang berorientasi pada konsumen.

Lihat juga: Ini Penyebab Sistem Keamanan Perusahaan Indonesia rentan dibobol

Dalam beberapa kasus, sekitar 90 persen pendiri startup memiliki kesamaan, salah satunya gelar sarjana yang sama dengan pendiri lainnya. Saat menuliskan istilah unicorn, perusahaan Lee mencatat saat itu cuma ada 39 perusahaan yang layak disebut sebagai startup unicorn club.

Disamping itu, Lee mengkategorikan unicorn berdasarkan kemampuan pendiri startup mengelola perusahaan dan telah memasuki usia 30-an. Lee memaparkan menurut data National Venture Capital Association (NVCA) 39 persen dari unicorn terhitung langka, karena hanya 0,07 persen dari startup teknologi yang muncul saat itu.

Baca juga: Perang Tagar #UninstallBukalapak vs #UninstallJokowi

Perusahaan yang masuk dalam startup unicorn club butuh waktu setidaknya delapan tahun untuk mendapat status unicorn. Sayangnya, unicorn tersebut kemudian harus menghadapi nasib likuiditas.

Padahal hingga 2015 tercatat lebih dari 16 ribu startup yang didirikan sejak 2003. Selain itu, Mattermark menunjukkan ada 12.291 startup mendapat pendanaan selama dua tahun terakhir sebelum 2015.

Data CVR mencatat 15 ribu startup baru muncul setiap tahunnya. CB Insight hingga Januari 2019 melaporkan di seluruh dunia saat ini ada lebih dari 300 startup. Sementara di Indonesia hingga saat ini baru ada empat unicorn terkemuka yakni Bukalapak, Gojek, Traveloka, dan Tokopedia.

Tantangan Startup 

Ketua Umum Asosiasi e-commerce Indonesia (iDEA), Ignatius Untung mengatakan, ada tantangan yang dihadapi startup jika ingin mendapat gelar unicorn. Salah satunya adalah tentang penetrasi pasar.

“Syarat untuk menjadi unicorn adalah startup tersebut harus memiliki transaksi yang besar, frekuensi transaksi yang cukup sering dan penetrasi pasar yang luas. Itu tiga fokus kalau mau jadi unicorn,” ujar Ignatius Untung.

Setelah penetrasi, adalah bagaimana perusahaan memiliki inovasi produk. Ini yang sulit.  Untuk melangkah menjadi unicorn, startup tidak bisa jika hanya mengekor pada tren yang sudah ada.

“Akan sulit kalau produknya itu program existing, contohnya kayak transportasi. Kita enggak bisa bayangin ada pemain ketiga setelah Gojek dan Grab, jadi udah agak tertutup kalau di transportasi (unicorn),” tambahnya.

Lantas bagaimana  potensi unicorn di marketplace?  Menurut Ignatius,  perusahaan yang menjalankan program marketplace sudah terlampau banyak, bisa dikatakan ada lebih dari 10 pemain.

Untuk masuk dan menjadi unicorn butuh effort dan dana yang besar. Menurutnya, potensi tersebut ada, namun bukan untuk pemain baru. Sementara itu untuk perusahaan yang bergerak di jasa tiket diklaim memiliki potensi, karena gelar unicorn baru digenggam oleh Traveloka. Jasa tiket juga memiliki volume transaksi yang tinggi dan frekuensi yang lumayan besar. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response