Menyoal Kontroversi Istilah “Infrastruktur Langit”

(Foto: Azmiry/tek.id)

(Foto: Azmiry/tek.id)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – ADALAH KH. Ma’ruf Amin membuat geger jagad perpolitikan tanah air pasca debat Cawapres, antara dirinya sebagai Capwapres 01 dengan Cawapres 02 Sandiaga Salahuddin Uno, beberapa waktu lalu, khususnya terkait pemakaian istilah “Infrastuktur Langit” yang diucapkan kyai sepuh tersebut.

Apa sebenarnya yang dimaksud kyai sepuh NU itu dengan istilah “Infrastuktur Langit”. Ternyata penyebutan istilah itu terkait dengan kehadiran Palapa Ring.

Bagi kubu 01, Jokowi-Ma’ruf Amin, tentu menganggap bahwa ungkapan KH Ma’ruf Amin itu dengan alasan yang rasional dan ilmiah, apapun itu nanti alasannya yang mengucapkan itu adalah kyai dan profesor.

Benarkah “infrastuktur langit” adalah kosa kata baru. Dalam KBBI, kata ini, “infrastuktur” dan “langit” tentu sudah lama dikenal, namun terdengar aneh karena digabungkan jadi “infrastuktur langit”.

Bagi seorang penulis, penggabungan kata seperti itu adalah hal yang biasa untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih mudah, sebagai suatu istilah, idiom, atau ungkapan.

Kata langit juga dipakai para odojer (Komunitas One Day One Juz) dalam semangatnya ‘Membumikan Alquran, Melangitkan Manusia’, yang dimaksudkan untuk mengakrabkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari dan pengamalannya mengangkat derajat, harkat, dan akhlakulqorimah manusia.

Apakah pemakaian istilah tersebut tidak merusak kaidah Bahasa Indonesia ataukah tidak tepat dalam kenyataannya? Kata infrastruktur seringkali dimaknai benda atau fasilitas. Benarkah diksi ini sama saja jika dibandingkan dengan ungkapan “Membumikan Al-qur’an”?

Penulis beranggapan bahwa  untuk kata “Membumikan Al-qur’an” bisa dipahami pemakaiannya karena Al-qur’an itu memang dari langit, Alqur’an itu wahyu, dari Allah SWT, kemudian mau dibumikan, karena memang peruntukannya untuk manusia di bumi.

Jadi, Al-qur’an yang dimaksud bukan sekadar sebagai sebuah benda (musyhaf), tetapi yang dimaksudkan adalah kandungan nilai dan pedoman hidup yang terkandung didalamnya.

Idiom ‘Infrastruktur Langit’ memang menarik untuk diperbincangkan, bukan untuk membully atau membantah pernyataan seorang professor dan ulama besar, tapi lebih kepada kajian bahasa, literasi, dan penafsiran realitas. Kita nafikan sejenak bahwa ini diucapkan dalam konteks Pilpres 2019.

Pertama-tama, data yang penulis dapatkan terkait Palapa Ring, adalah kenyataan bahwa itu “barang lama”, sudah 12 tahun dibangun. Terus, barunya apa? Barunya karena baru akan selesai sekarang. Ya, karena memang jadwal pembangunannya seperti itu.

Kedua, mengaitkan Palapa Ring ke  “infrastruktur langit”  itu sangat tidak cocok. Kata “Palapa” ini dipakai mengingat jejak sejarah Sumpah Palapa, Patih Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara.

Tentu kata ini diambil agar nantinya sesuai dengan tujuan pemanfaatan satelit tersebut, yaitu menyatukan nusantara. Ya, Satelit Palapa nama satelit komunikasi kita.

Diambil dari Sumpah Palapa-nya Gajah Mada. Indonesia termasuk dalam jajaran pertama negara-negara di dunia yang punya sistem komunikasi satelit. Bukan apanya, negara kita yang berbentuk kepulauan, saat itu tentu sangat pas diinterkoneksi dengan satelit.

Namanya Satelit, ya di langit. Terus, Satelit Palapa yang di langit. Kalau Palapa Ring? Palapa Ring itu sendiri bukan satelit, tapi sabuk serat optik.

Kalau berbicara serat optik tentu bukan di langit, paling tinggi melintas beberapa meter di atas kepala kita. Digantung di tiang telkom, tapi sebagian besar malah di tanam di bawah tanah atau di dasar laut.

Palapa Ring Project, Pembangunan Serat Optik. (foto: kbr.id)

Palapa Ring Project, Pembangunan Serat Optik. (foto: kbr.id)

kabel fiber-optic (foto: ist/palontaraq)

kabel fiber-optic (foto: ist/jambitribunnews)

Jadi, Palapa Ring itu sendiri keunggulannya justru karena serat optiknya melintas di bawah laut. Jadi, Palapa Ring dan Satelit Palapa adalah dua hal yang berbeda.

Sampai saat ini dan hampir pasti sampai seterusnya, internet via satelit itu tidak akan pernah sama kecepatannya dengan internet via serat optik.

Menurut ahlinya, ada hambatan alam yang tak bisa di atasi sistem komunikasi satelit. Yaitu, bentang jarak antara bumi-satelit. Ada waktu-tempuh dalam skala detik antara keduanya, apalagi sinyal dalam bentuk gelombang elektromagnetik.

Untuk ukuran telekomunikasi, itu sangat lama. Hal ini berbeda untuk komunikasi telegram dan telepon konvensional, itu sudah masalah.

Itulah sebab “konsumen” komunikasi satelit terbanyak adalah perbankan. Dipakai untuk mengoneksikan mesin-mesin ATM ke pusat data. Berapa kecepatan yang dibutuhkan ATM? 64 kbps, paling banyak 254 kbps.

Kalau dibawa ke komunikasi data (internet), harus sabar sebelum satu halaman bisa terbuka, apalagi jika dipake game online, bisa game over karena jaringan yang lambat loading.

Jadi, sekali lagi, ini menurut Ahlinya, beda dengan komunikasi via serat optik. Sinyal berbentuk cahaya. Jadi, kecepatan rambatnya adalah kecepatan cahaya, kecepatan tercepat di jagad raya, hanya beberapa mili-detik Banda Aceh ke Jayapura. Kesimpulannya, itu barang bukan dari “langit”.

Sebagaimana halnya “Infrastuktur Langit”, pemakaian istilah “tol langit” dipakai Presiden Jokowi untuk menggambarkan sambungan bebas hambatan bagi sinyal internet di langit Indonesia, yang akan menghubungkan seluruh wilayah di bumi Nusantara juga salah kaprah. Penjelasannya sama dengan diatas.

Harus diakui bahwa memang jaringan internet belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia, masih banyak daerah tanpa signal (blank-spot).

Selama ini operator telekomunikasi swasta tidak masuk kesana, alasannya tidak ekonomis dan potensi pemasukan tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.

Nah, tentu kita patut memberi apresiasi kepada pemerintah yang menggagas isolasi tersebut dengan nama Palapa Ring.

Tapi, sekali lagi, Palapa Ring sangat tidak cocok untuk dapat disebut sebagai “Infrastruktur Langit” atau “Tol Langit”. Pertanyaannya, “Akh itu, kan hanya sebuah istilah atau idiom?” Benar itu hanya istilah dan istilah itu tidak tepat untuk menggambarkan kenyataannya.

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist/teknokompas)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist)

Galian jaringan kabel serat optik. (foto: ist/analisadaily)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist/palontaraq)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist)

Pembangunan jaringan kabel serat optik. (foto: ist/techno.id)

Jika kita melihat sepanjang jalan poros ada galian kabel optik sepanjang 22.000 km yang ditanam di darat maupun di dasar laut untuk menghubungkan titik-titik blank-spot tersebut, ya itulah Palapa Ring. Tujuannya untuk menyambungkan backbone dengan broadband kecepatan tingggi.

Saat ini sekitar 57 kota dan seluruh wilayah terisolir, seperti Ranai di Natuna, Sangihe di ujung utara Sulawesi, Rai Juha di Laut Sabu, Alor, Wetar, Saumlaki, Tual, Timika, Nabire, dan puluhan kota lain di Indonesia Timur, tersambungkan jaringan kabel optik ini.

Proyek dengan skema kerja sama pemerintah-swasta (private public partnership) ini direncanakan akan sepenuhnya rampung Juli-Agustus 2019 mendatang.

Jadi, kesimpulannya, Pemakaian istilah “infrastuktur langit” atau “tol langit” terkait keberadaan proyek Palapa Ring, itu tidak tepat dan malahan tidak mencerdaskan, berujung kepada pembodohan publik. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response