Imam Malik dan Kitab Al-Muwaththa’ yang Disepakati

Kitab Al-Muwaththa' Imam Malik. (foto: ist/palontaraq)

Kitab Al-Muwaththa’ Imam Malik. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

Related Post: Perkembangan Islam pada Masa Daulah Dinasti Abbasiyah

PALONTARAQ.ID – Di Kalangan Umat Islam, penulis kira tidak ada seorangpun yang tidak mengenalnya. Khususnya di kalangan para ‘alim ulama. Namanya akrab dalam Ilmu Fikih dan Hadits serta menjadi rujukan dan referensi pembelajaran Hukum Islam.

Siapa Imam Malik? 

Imam Malik bernama lengkap Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas atau lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani.

Imam Malik lahir di Madinah pada Tahun 714 M (93 H). Masalah tahun kelahirannya ini sebenarnya terdapat perbedaaan riwayat. Al-Yafii dalam kitabnya “Thabaqat fuqoha” meriwayatkan bahwa Imam Malik dilahirkan pada 94 H.

Ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahwa Imam Malik dilahirkan pada 95 H, sedangkan Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan Imam Malik dilahirkan 90 H.

Imam Yahya bin Bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar Imam Malik pernah berkata, “Aku dilahirkan pada 93 H” dan inilah riwayat yang paling benar (Menurut al-Sam’ani dan Ibn Farhun.

Imam Malik dikenal luas akan kecerdasannya. Suatu waktu ia pernah dibacakan 31 buah Hadis Rasulullah SAW dan mampu mengulanginya dengan baik dan benar tanpa harus menuliskannya terlebih dahulu.

Imam Malik adalah pakarnya Ilmu Fikih dan Hadits, keilmuannya yang luas dan dalam inilah sehingga keseluruhan rujukan pengetahuan yang dimilikinya disebut sebagai Madzhab Maliki.

Guru dan Murid Imam Malik

Imam Malik diketahui sangat jarang keluar dari kota Madinah. Ia memilih menyibukan diri dengan mengajar dan berdakwah di kota tempat Rasulullah SAW wafat tersebut. Beliau sesekali keluar dari kota Madinah untuk melakukan Ibadah haji di Kota Makkah

Di antara guru Imam Malik adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul Majmar,  Amir bin Abdullah bin Az-Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin Dinar, dan lain-lain. Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali di antaranya ada yang lebih tua darinya seperti Az-Zuhri dan Yahya bin Sa’id.

Di antara murid Imam Malik adalah Ibnul Mubarak, Al Qaththan, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qasim, Al Qa’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al-Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Zubairi, Al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. dan lain-lain.

Adapula yang belajar darinya seperti Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.  Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in.

Imam Malik meriwayatkan hadis bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, Az-Zuhri, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.

Kata Para Ulama tentang Imam Malik

Imam An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan hadisnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadis dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.  (Yang dimaksud adalah Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui).

Ibnu Hayyan berkata,” Imam Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.

Imam as-Syafi’i berkata, “Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi’in”.

Yahya bin Ma’in berkata, “Imam Malik adalah Amirul Mukminin dalam (ilmu) Hadits”

Ayyub bin Suwaid berkata, “Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam madinah) dan as-Sunnah,seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya”.

Ahmad bin Hanbal berkata, ” Jika engkau melihat seseorang yang membenci Imam Malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid’ah”.

Imam Abu Hanifah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai tentang sunnah Rasulullah dari Imam Malik.”

Abdurrahman bin Mahdi, ” Aku tidak pernah tahu seorang ulama Hijaz kecuali mereka menghormati Imam Malik, sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umat Muhammad, kecuali dalam petunjuk.”

Ibnu Atsir, “Cukuplah kemuliaan bagi asy-Syafi’i bahwa syaikhnya adalah Imam Malik, dan cukuplah kemuliaan bagi Imam Malik bahwa di antara muridnya adalah asy-Syafi’i.”

Abdullah bin Mubarak berkata, “Tidak pernah aku melihat seorang penulis ilmu Rasulullah lebih berwibawa dari Malik, dan lebih besar penghormatannya terhadap hadis Rasulullah dari Malik, serta kikir terhadap agamanya dari Malik, jika dikatakan kepadaku pilihlah Imam bagi umat ini, maka aku akan pilih Malik.”

Laits bin Saad berkata, “Tidak ada orang yang lebih aku cintai di muka bumi ini dari Malik.”

Lihat pula:  Nasehat Ulama kepada Khalifah Abu Ja’far al-Mansur

Tentang Kitab Al-Muwaththa’

Imam Malik  menyusun kitab Al Muwaththa’, yang disusunnya dalam masa 40 tahun dan selama waktu itu, ia menunjukannya kepada 70 ahli fiqih Madinah dan tidak ada seorangpun yang menyelisihinya.

Disebut “Al-Muwaththa” karena Imam Malik memperhadapkan (menguji) karyanya tersebut diantara begitu banyak Ahli Fikih. Imam Malik menceritakan,  “Aku telah menyodorkan kitabku ini kepada 70 orang faqih Madinah. Semuanya memberikan kesepakatan mereka. Maka aku menamakannya Al-Muwaththa (yang disepakati).”

Kitab Al-Muwaththa menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkannya lebih dari 1000 Ahli Fikih. Karena itu naskahnya berbeda beda dan keseluruhannya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’.

Ketika melukiskan Kitab Al Muwaththa’  ini, Ibnu Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mengetahui bandingannya.

Pandangan Para Ulama tentang Kitab Al-Muwaththa’

Beberapa ulama Ahlussunnah memberikan pandangan mereka seputar kedudukan dan nilai kitab Imam Malik ini:

Imam Syafii: “Al-Muwaththa’ merupakan kitab paling shahih setelah Kitabullah”. Atau dalam perkataan disebutkan, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah Al-Qur`an yang lebih banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa Imam Malik, inilah karangan para Ulama Muaqoddimin.”

Ibnu Al-Arabi: “Al-Muwaththa’ merupakan pokok pertama dan inti sari, sedang shahih Bukhari adalah pokok kedua dalam hal ini. Semua kitab seperti Muslim dan Tirmidzi bertumpu kepada keduanya.”

Ibnu Hajar: “Imam Malik telah menulis kitabnya dengan 10 ribu hadis. Beliau selalu mentelaah di setiap tahunnya dan menghapus sebagiannya hingga menjadi seperti sekarang ini.”

Umar bin Abdul Wahid, orang dekat Auzai mengatakan: “Kami membaca kitab Al-Muwaththa selama 40 hari di hadapan Imam Malik. Kemudian Imam Malik berkata: “Aku menyusun kitab ini selama 40 tahun dan kalian ingin memahami isinya hanya dalam waktu 40 hari? Sungguh pemahaman kalian sangat pendek.”

Imam Bukhari berkata: “Sanad yang paling shahih adalah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.” Oleh karena itu, Bukhari banyak memberikan perhatian kepada hadits-hadits yang dinukil dari jalur tersebut.

Dehlawi berkata: “Ini adalah kitab yang paling shahih, termasyhur, terdahulu dan komprehensif. Penduduk Irak bersepakat dalam mengamalkannya dan menjadikan landasan mazhab Syafii dan Hanbali. Kitab Imam Malik ini juga menjadi penerang mazhab Abu Hanifah, Syaibani, dan Qadhi Abu Yusuf. Hubungan mazhab-mazhab tersebut dengan kitab Al-Muwaththa’ seperti syarah dengan teks aslinya.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku mendengar kitab Al-Muwaththa’ dari lebih 10 orang penghafal lebih yang merupakan murid-murid Imam Malik. Maka aku sodorkan kepada Syafii karena ia yang paling kuat di antara mereka.”

As-Sarqasti (wafat tahun 535 H.) dan Ibnu Atsir menjadikan kitab Al-Muwaththa’ sejajar dengan Shihah Sittah.

Imam Suyuti mengatakan dalam Tanwir Al-Hawaliknya: “Yang tampaknya benar, bahwa seluruh isi dan kandungan kitab Al-Muwaththa’ ialah shahih dan tidak ada pengecualian.”

Jalur Kitab Al-Muwaththa’

Disebutkan bahwa kitab ini memiliki 11 atau 12 atau bahkan 14 jalur. Yang paling terkenal adalah sebagai berikut:

Jalur “Abdurrahman bin Misri” yang dipilih oleh Ahmad bin Hanbal.

Jalur “Tunaisi” yang dipilih oleh Bukhari.

Jalur “Yahya bin Yahya At-Tamimi An-Nisyaburi” yang dipilih oleh Muslim.

Jalur “Qa’nabi” yang dipilih oleh Abu Daud.

Jalur “Qutaibah bin Sa’id” yang dipilih oleh Nasai.

Masing-masing dari 5 jalur ini memiliki perbedaan dengan yang lainnya dalam menukil hadits yang terkadang perbedaannya hingga mencapai 300 hadits.

Dari total hadits dalam Kitab Muwaththa’ yang  mencapai 1.000 hadits,  sebagian naskah lainnya bahkan mencapai 1.720 hadits. Abu Mush’ab Az-Zuhri berkata, “Dari total tersebut, 600 hadits musnad, 200 hadits mursal, 613 hadits mauquf dan 285 hadits dari tabi’in (maqthu’)

Imam Malik menyusun kitab Al-Muwaththa’ tersebut berdasarkan Bab-bab fiqih dan hampir semuanya mengandung mayoritas bab fiqih dan selain itu, sebagian pembahasan tentang Akhlak. Kitab itu mencakup 61 jilid.

Berkenaan dengan hadits-hadits mursal dalam kitab tersebut, Ibnu Abdul Barr menyusun sebuah kitab yang menyebutkan hadits-hadits mursal dan munqathi. Ia berkata, “Aku telah meneliti riwayat Imam Malik dari tsiqah atau ungkapan “بلغنی” yang berjumlah 61 jilid dan aku menemukan sanad-sanadnya, kecuali 4 hadits yang tidak aku temukan sanadnya.

Imam Suyuti dalam rangka membela hadits-hadits mursal dalam Kitab Al-Muwaththa’ berkata, “Setiap hadis yang dimuat dalam kitab ini memiliki dalil dan seluruh haditsnya memiliki sanad. Oleh karena itu, Al-Mu’alliq kitab itu menulis; “Seluruh isi kitab Al-Muwaththa’ adalah shahih dan tidak dikecualikan sesuatu pun darinya.”

Wafatnya Imam Malik

Menjelang wafat, Imam Malik ditanya masalah ke mana ia tak pergi lagi ke Masjid Nabawi selama tujuh tahun, ia menjawab, “Seandainya bukan karena akhir dari kehidupan saya di dunia, dan awal kehidupan di akhirat, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada kalian”.

“Yang menghalangiku untuk melakukan semua itu adalah penyakit sering buang air kecil, karena sebab ini aku tak sanggup untuk mendatangi Masjid Rasulullah. Dan, aku tak suka menyebutkan penyakitku, karena khawatir aku akan selalu mengadu kepada Allah.”

Imam Malik mulai jatuh sakit pada Hari Ahad sampai 22 hari lalu wafat pada hari Minggu, tanggal 10 Rabi’ul Awwal 179 Hijriyyah atau 800 Miladiyyah.

Masyarakat Madinah menjalankan wasiat yang Imam Malik sampaikan, yakni dikafani dengan kain putih, dan dishalati diatas keranda. Imam shalat jenazahnya adalah Gubernur Madinah, Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Hasyimi.

Ketika itu Gubernur Madinah datang melayat dengan berjalan kaki, bahkan termasuk salah satu yang ikut serta dalam mengangkat jenazah hingga ke makamnya. Beliau dimakamkan di Pemakaman Baqi’, seluruh murid-murid dia turut mengebumikan dia.

Informasi tentang kematian dia tersebar di seantero negeri Islam, mereka sungguh sangat bersedih dan merasa sangat kehilangan, seraya mendoakan dia agar selalu dilimpahi rahmat dan pahala yang belipat ganda berkat ilmu dan amal yang dia persembahkan untuk Islam.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response