Mendekati Ammatoa, Memahami “Akkamase-mase”

by Penulis Palontaraq | Jumat, Jan 11, 2019 | 124 views
Penulis bersama Bapak Andi Nur Alim, SH, MH, Kepala Bidang Industri Non Agro Pemkab Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

Penulis bersama Bapak Andi Nur Alim, SH, MH, Kepala Bidang Industri Non Agro Pemkab Bulukumba saat bertamu di Rumah Kepala Desa Tana Toa, Kajang, Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

SEBELUMNYA NONTON DISINI:

Berkunjung ke Kawasan Adat Ammatoa Kajang Bulukumba Sulsel 

Tulisan Terkait:

Bercermin dari Kearifan Lokal Ammatoa Kajang

ADA  yang tahu Suku Kajang di Sulawesi Selatan? Suku Kajang merupakan salah satu masyarakat terpencil, tradisionil dan unik yang masih bertahan hingga kini di Tana Toa, Daerah Possi Tana dan Balagana, Kabupaten Bulukumba.

Suku Kajang dikenal pula sebagai masyarakat Ammatoa atau Patuntung, dengan prinsip hidup “Akkamase-mase”, yaitu sikap sosial dan hidup yang menerima apa adanya segala sesuatu dari alam dan aturan hidup yang diatur dalam “Pasang”.

Suatu kesyukuran bahwa beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 1 Januari 2019, Penulis dan Tim Palontaraq, tepat pada Pukul 09.30 WITA, terlebih dahulu menyambangi Rumah Kepala Desa Tana Towa untuk mengisi buku tamu dan selanjutnya bertolak menuju kawasan permukiman Adat Suku Kajang.

Tujuan Tim Palontaraq adalah mendekati Ammatoa dan meresapi sikap sosial “Akkamase-mase” sebagai suatu tradisi unik yang bertahan ditengah serbuan modernisasi.

Keunikan yang cukup mencolok ketika mengunjungi Kawasan Adat Kajang adalah pakaian yang serba hitam dan kemanapun masyarakatnya bepergian selama masih dalam kawasan adat, maka diharuskan untuk tidak memakai sendal atau bertelanjang kaki.

Sekilas tampak mistis dalam kawasan adat, namun sebenarnya tersimpan keramahan dan keterbukaan terhadap tamu sebagai balas jasa pertama karena telah juga memakai pakaian serba hitam saat memasuki lingkungannya.

Secara geografis, daerah Tana Toa merupakan daerah perbukitan yang bergelombang, berada di lingkar deretan pegunungan Lompobattang-Bawakaraeng dan Lembah Bantaeng di sebelah Baratnya. Di sebelah Timurnya terlihat Teluk Bone dengan gugusan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai.

Dari segi topografinya, Tana Toa berada antara 50-200 mdpl dengan curah hujan rata-rata 5.745 mm/tahun. Sedangkan suhu udara rata-rata 13-29 derajat celcius dengan kelembaban udara 70% pertahun.

Penulis di Tana Toa, Kajang, Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

Penulis di Tana Toa, Kajang, Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

Secara administratif pemerintahan, Desa Tana Toa berbatasan dengan Desa Batunilamung di sebelah utaranya, Desa Bonto Baji di sebelah selatannya, Desa Malleleng di sebelah timurnya, dan Desa Pattiroang di sebelah Baratnya.

Desa Tana Toa sendiri sebagai pusat permukiman masyarakat Kajang terdiri atas 13 RK (Rukun Keluarga) dan 19 RT (Rukun Tetangga) yang dikelompokkan dalam sembilan wilayah dusun, yaitu Dusun Balagana, Jannaya, Sobbu, Benteng, Pango, Bongkina, Tombolo’, Luraya, dan Balambina. Total luas wilayah Tana Toa adalah 729 hA, termasuk didalamnya luas hutan adat 317, 4 hA.

Berdasarkan pengamatan penulis, berdasarkan wilayah pengikatan tradisi lama yang dianut masyarakat Kajang, wilayah Kajang dibagi atas dua bagian, yaitu Kajang Dalam dan Kajang Luar.

Kajang Luar adalah wilayah Tana Toa yang sudah mendapatkan sentuhan dan pengaruh modernisasi, dibuktikan dengan keberadaan fasilitas umum, pasar, sekolah dan mesjid, kendaraan, dan fasilitas lainnya.

Sedangkan Kajang Dalam ialah wilayah masyarakat yang tetap bertahan dengan apa yang ada di alam serta aturan lama yang dikenal sebagai “Pasang ri Kajang”.

Tim Palontaraq di pintu gerbang kawasan adat Ammatoa, Kajang. (foto: hasbitube/palontaraq)

Tim Palontaraq di pintu gerbang kawasan adat Ammatoa, Kajang. (foto: hasbitube/palontaraq)

Meski banyak masyarakat yang telah hidup di luar kawasan adat, namun mereka tetap mengikatkan diri dengan tradisi dan sikap sosial sebagai “Orang Kajang”. Mereka yang telah berada di wilayah Kajang Luar tetap mengunjungi keluarganya di Kajang Dalam, dan saat berada di wilayah Kajang Dalam, maka yang berlaku adalah aturan “Pasang ri Kajang” dimana Ammatoa (akrab disapa Amma) sebagai pemimpin tertingginya.

Mendekati Ammatoa

Jalan terbaik untuk memahami tradisionalisme Kajang adalah dengan mendekati Ammatoa. Apa yang keluar dari mulut Ammatoa, dianggap sebagai kebijakan dan tafsir hidup dari  Pasang ri Kajang.  Ammatoa sendiri menganggap diri sebagai “Amma”, bapak dan ibu dari semua anak-anaknya, dari menteri-menteri dan pembantunya, dari masyarakatnya, dari bumi dan alam, termasuk dari pemimpin atau tetua yang berada di luar Kajang.

Ammatoa menganggap dirinya sebagai “Pemimpin dari segala pemimpin, baik dalam wilayah Tana Toa Kajang maupun dari luar wilayah Tana Toa”.

Penulis di baruga Pintu Masuk Kawasan Adat Ammatoa Kajang, Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

Penulis di baruga Pintu Masuk Kawasan Adat Ammatoa Kajang, Bulukumba. (foto: hasbitube/palontaraq)

Keberadaan Tana Toa Kajang menurut Ammatoa, dalam perjalanan sejarahnya dimulai dari Tahun 1 (Taun Se’re). Sekarang dirinya sebagai Ammatoa, sudah berada di posisi sebagai Ammatoa ke 22 di Tahun 2019. “Nakke Ammatoa ruangpulo anrua. Ka kamma-kammanne niami ri Taun ruangbilangang salapangpulo se’re, do!”-ujarnya.

Keterpilihan seorang Ammatoa, tidak semata berdasarkan keturunan, tetapi juga kecerdasan “bicara” dan kemampuan lain, yang secara khusus hanya masyarakat Kajang sendiri yang mengetahuinya, khususnya bagi mereka yang terlibat langsung dalam isolasi calon Ammatoa dalam kawasan hutan adat.

Proses pergantian Ammatoa terbilang lama. Butuh waktu paling cepat tiga tahun untuk menentukan siapa pengganti Ammatoa sebelumnya, sementara proses pemilihannya sendiri memakan waktu sekitar tiga bulan, termasuk pembuktian “kelebihan”, sebut saja kesaktian atau daya magis dalam hutan adat.

Seorang Ammatoa terpilih haruslah yang lebih memahami aturan hidup bagi masyarakat Kajang, dalam segala bidang kehidupan sebagaimana diatur dalam Pasang ri Kajang.

Penulis dalam Kawasan Adat Ammatoa Kajang, berada di depan rumah pertemuan (a'borong) bagi masyarakat Kajang. (foto: hasbitube/palontaraq)

Penulis dalam Kawasan Adat Ammatoa Kajang, berada di depan rumah pertemuan (a’borong) bagi masyarakat Kajang. (foto: hasbitube/palontaraq)

Di bawah Ammatoa, ada terdapat 26 galla, semacam menteri yang memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam mengatur urusan masyarakat adat Tana Toa. Seperti Galla Kajang untuk urusan pembinaan agama (sopan santun). Seseorang yang dianggap melanggar etika umum atau sopan santun akan dipersalahkan dan dikenai sanksi oleh Ammatoa melalui Galla Kajang.

Dari 26 galla itu ada pula yang merangkap sebagai kepala desa di luar wilayah Tana Toa, meliputi tugas-tugas sebagai menteri dalam negeri, menteri perhubungan, menteri luar negeri, menteri pertanahan, dan lain sebagainya.

Ammatoa menegaskan bahwa segala sesuatu yang berada di dalam hutan adat tidak boleh untuk dirusak, termasuk menebang kayu, memburu binatang, apalagi membakar hutan. Hutan adat dalam wilayah Tana Toa disebut juga sebagai Borong Karama’, dan Ammatoalah sebagai pemilik borong (tanah atau hutan) yang paling luas.

Selain hutan adat, ada pula tanah/hutan kemasyarakatan yang memang boleh dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Luasnya sekitar 144 Ha dimana diperbolehkan untuk menggarap atau menebang pohon di dalamnya, dengan syarat diwajibkan untuk menanam terlebih dahulu bibit pohon dengan jenis yang sama sebelum ditebang.

Kepemimpinan Ammatoa terbilang cukup demokratis. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan bangunan rumah yang dikhususkan untuk musyawarah. Dalam bahasa Ammatoa, disebut “A’borong” atau “A’sere”. Dari sisi kepercayaan, masyarakat Tana Toa masih menganut kepercayaan monoteisme, yang menyebut Tuhan dengan sebutan Tu Rie’ A’ra’na.

Wawancara terhadap Ammatoa menyangkut kepercayaan terbatasi oleh celetukan beberapa menteri pembantunya pada saat Tim Palontaraq menyambanginya. Meski begitu ditegaskannya bahwa Pasang ri Kajang terdiri dari 40 Djuz dan mereka “sembahyang” sesuai pemahaman yang ditafsirkannya dalam Pasang ri Kajang.

Bahwa mereka sembahyang, dalam keadaan dan posisi yang disukainya, dalam keadaan duduk, berdiri ataupun berbaring. Itulah sebabnya mengapa semua rumah yang ada dalam lingkungan Tana Toa menghadap ke arah barat/kiblat, dianalogikan sebagai arah atau simbol dari nenek moyang To Kajang (Manusia Kajang) berada.

Sebagian besar Manusia Kajang mengenal Agama Islam, namun pada saat yang juga mempraktikkan kepercayaan adat “Patuntung”, yaitu suatu jalan mencari sumber kebenaran, dan menyandarkan diri pada tiga pilar, yaitu Tuhan, Tanah, dan Nenek Moyang. Keyakinan kepada Tuhan adalah kepercayaan yang paling mendasar Patuntung.

Kepercayaan itu kemudian diikat oleh Pasang atau Aturan-aturan hidup yang disepakati bersama sebagai sistem nilai. Masyarakat Tana Toa Kajang sendiri diwajibkan untuk mematuhinya dan jika ada pelanggaran, ada sanksinya tersendiri.

Nilai-nilai “Pasang ri Kajang” dan Filosofi “Akkamase-mase”

Di dalam “Pasang” (Hukum), Manusia Kajang mensejajarkan dirinya dengan lingkungan dan alam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ammatoa “Bila kamu merusak hutan, sama artinya kamu merusak dirimu sendiri”. Sebagai masyarakat yang hidup di Tana Toa yang merupakan tanah kebersahajaan, sehingga harus menjunjung tinggi tata cara pergaulan yang sopan dan santun.

Rumah dalam lingkungan Tana Toa terbangun seragam tanpa ada yang berbeda sedikitpun. Itulah sebabnya sukar membedakan yang mana rumah Ammatoa dengan rumah warganya, karena tak ada ciri tertentu yang membedakannya.

Konsepsi Rumah ini mengungkap nilai kesederhanaan dan simbol keseragaman. Konsepsi ini juga mengungkapkan bahwa tak ada perbedaan penampilan seorang Ammatoa dengan rakyatnya.

Tim Palontaraq saat menuju Rumah Kediaman Ammatoa. (foto: hasbitube/palontaraq)

Tim Palontaraq saat menuju Rumah Kediaman Ammatoa. (foto: hasbitube/palontaraq)

Material yang digunakan untuk membangun rumah bukanlah batu bata atau tanah karena dianggap sebagai pantangan. Menurut mereka, hanya orang mati saja yang diapit oleh liang lahat (butta). Jika masih ada beberapa keluarga Suku Kajang yang menggunakan batu sebagai bahan bangunan rumahnya, walaupun mereka masih hidup, oleh Suku Kajang yang lain keluarga mereka dianggap mati, berkaitan dengan pantangan tersebut.

Mengapa mesti sekeras itu aturannya? Beberapa sumber penelitian menyebutkan bahwa hal ini terkait perlindungan terhadap hutan. Hal ini cukup logis mengingat pembuatan batu bata memerlukan banyak kayu untuk pembakarannya, belum lagi termasuk jumlah pohon yang harus ditebang juga banyak. Larangan untuk membangun rumah dengan batu bata secara tidak langsung juga mengurangi penebangan dan kerusakan hutan.

Masyarakat Kajang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dalam bertutur kata. Bagi mereka, sebuah pantangan besar untuk berbicara kasar dan akan dicela oleh masyarakat, seperti tak boleh bertolak pinggang apabila orang lain berbicara. Mereka dituntun untuk berbicara dengan tangan dilipat di dada sambil membungkukkan badan dan menggulung sarung. Begitu pula dalam hal menyapa, mereka dituntun untuk menggunakan sapaan yang akrab dan mulia seperti menggunakan kata sapaan Puto untuk laki-laki dan Jaja’ untuk perempuan.

Sementara itu, untuk sapaan kepada serumpun mereka dianjurkan untuk menggunakan kata sapaan sesuai tingkat kelahiran, seperti Kak Toa untuk anak sulung, Kak Tengnga untuk anak tengah dan Lolo untuk anak bungsu. Lebih jauh lagi, Suku Kajang juga memberikan penamaan kepada keturunan mereka sesuai dengan nama hewan, nama musim, dan nama mata angin.

Sebagai misal, Jammu, Sappang, Ka’cuppang yang berarti kodok; nama-nama musim seperti Bara’ (musim hujan), Timoro’ (musim kemarau), dan nama mata angin seperti Raja (timur), dan Lau’ (Barat). Sementara itu, mereka diharamkan untuk mempergunakan nama nabi, malaikat, dan nama kebesaran Allah karena dinilai berat dan menimbulkan kedurhakaan sekaligus menanggung dosa.

Dalam lingkungan adat Tana Toa Kajang, pantang untuk mengenakan pakaian selain berwarna hitam dan putih. Warna Hitam dianggap sebagai warna paling tua, sekaligus mengandung arti kesederhanaan. Sarung hitam yang dikenakan laki-laki merupakan hasil tenunan sendiri, kemudian direndam ke dalam larutan yang terbuat dari daun tarum yang menyebabkannya hitam pekat. Pakaian perempuanpun terdiri dari sarung dan baju bodo yang berwarna hitam pekat.

Pasang ri Kajang memuat nilai dan adat istiadat dari hubungan sosial, seperti siri’ (malu/harga diri), kasipali (pantangan), dan kesenian. Nilai kejujuran dan sabar merupakan nilai utama ajaran Pasang ri Kajang.

Selain Nilai-nilai itu, orang Kajang juga meyakini bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara untuk menuju akhirat. Untuk kehidupan akhirat yang baik itulah, diterapkan pola hidup sederhana, sebagai cara mengatur ruang dan cara dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya. Inilah yang disebut Sikap Hidup “Akkamase-mase”.(*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response