Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – SETIAP Muslim tentu selalu menginginkan senantiasa berada di jalan yang lurus dan diridhai Allah SWT. Balasan bagi mereka yang dari awal hingga akhirnya berada di jalan lurus adalah surga yang dijanjikan Allah SWT.
Untuk berada di jalan lurus dan istiqamah di jalan yang lurus itu tidaklah mudah. Banyak tantangan, godaan dan rintangan yang setiap saat menghadang.
Setiap ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT harus dipelajari, dikaji, dan didalami. Tak mudah, tetapi harus dimasuki, bersabar dan senantiasa ikhlas menjalani takdirNYA.
Setiap muslim tentu menginginkan untuk berada di jalan yang lurus, namun tak semua dapat melalui ujian, cobaan, dan rintangannya.
Dan karenanya pula, setiap muslim harus berguru dan memahami jalannya, ilmunya untuk mencapai jalan yang lurus dan istiqamah di jalanNYA.
Kitab Irsyadul ‘Ibad bisa didownload: DISINI
Berkenaan dengan upaya seorang muslim menapaki jalan yang lurus, seorang ulama asal Malabar, India, bernama Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin al-Malibari menyusun sebuah kitab sebagai tuntunan menuju jalan yang lurus tersebut.
Nama Kitabnya, “Irsyadul Ibad Ila Sabili al-Rasyad” (Petunjuk Bagi Seorang Hamba Menuju Jalan yang Lurus), sebuah kitab ini berisi masalah fiqih, nasehat juga hikayat.
Syekh Zainuddin mengawali mukaddimah dalam kitab “Irsyadul ‘Ibad” ini dengan mengajak setiap Muslim untuk meluruskan niat perbuatan.
Mengutip hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya, tiap amal perbuatan itu tergantung pada niat. Seseorang akan mendapatkan bagiannya seperti yang diniatkannya. Bila dirinya niat hijrah karena taat pada Allah dan Rasul-Nya, hijrah itu benar-benar kepada Allah dan Rasul-Nya.”
“Dan, siapa yang niat hijrah untuk keuntungan dunia atau wanita yang akan dikawininya, hijrahnya terhenti pada apa yang ia hijrah karenanya.” (HR Bukhari Muslim).

Tak jauh berbeda dengan Kitab-kitab fikih yang disusun para ulama dan shalafush saleh, kitab yang disusun oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari ini juga menitikberatkan pada masalah fikih.
Namun, bila ulama lainnya memulai pembahasan dari cara bersuci (thaharah), Syekh Zainuddin Al-Malibari mengawalinya dengan pembahasan tentang iman (beriman kepada Allah SWT).
Tujuannya agar setiap Muslim bisa mengingatkan dirinya sendiri tentang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dikutipnya sebuah riwayat, bahwa ketika Rasulullah SAW sedang mengajarkan ilmu dan Ayat-ayat Alquran pada para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril menanyakan makna Iman, Islam, dan ihsan.
Nabi SAW menjelaskan, bahwa iman itu adalah percaya kepada Allah yang tertanam dalam hati, kemudian diungkapkan dengan perkataan (lisan), dan dilaksanakan dengan amal perbuatan.
Sedangkan, makna Islam, jelas Rasul, adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, puasa, zakat, dan melaksanakan haji bila mampu.
Makna ihsan adalah menyembah Allah SWT dengan sebenar-benarnya seolah-olah kita sedang melihat-Nya dan apabila kita tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah SWT melihat dan mengetahui setiap gerak-gerik makhluk-Nya.
Siapa Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin al-Malibari?
Pengarang kitab Irsyadul ‘Ibad adalah Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz. Beliau mempunyai nama lain Makhdum tangal/Zainuddin al-tsani. Lahir di Malabar, India Selatan dan wafat di Funnan, Indian pada tahun 972 Hijriyah. Ada pula yang menyebutkan 987 Hijriyah.
Syaikh Zainuddin bin Abdul Azis tidak hanya mengarang kitab Irsyadul ‘Ibad, tapi juga banyak kitab lain, dan banyak dijadikan referensi Ulama, para kyai dan santri di Pesantren, yaitu diantaranya:
– Kitab Quratul ‘Ain , berisi fiqih syafi’i yang berbentuk matan
– Kitab Fathul Mu’in , berisi sarah dari kitab Quratul ‘ain
– Al isti’dad lil Maut wa Su’al Qubur, berisi persiapan bekal menghadapi mati dan pertanyaan ketika di alam qubur
– Kitab Tuhfah al mujtahidi fii ba’adh akhbar al burtughali, kitab sejarah
Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz mengikuti Madzhab Syafi’i dan dikenal di daerah tempat tinggalnya dengan julukan Makhdum tangal, sebagai penghormatan kepada beliau.
Syarah Kitab Irsyadul ‘Ibad Kiai Ihsan Jampes
Di kalangan ulama Nahdlatul ‘Ulama (NU), ada Kitab “Manahijul Imdad” karya Kiai Ihsan Jampes Kediri (almarhum). Kitab “Manahijul Imdad” (Pencapaian yang terus-menerus) merupakan kitab syarah (komentar) dari Kitab “Irsyadul ‘Ibad” karya Syekh Zainuddin Malibari.
Kitab “Irsyadul ‘Ibad” setebal 118 halaman itu diulas kembali oleh Kiai Ihsan Jampes dalam kitab “Manahijul Imdad” setebal 1050 halaman yang terdiri dari dua juz. Kitab ini berada dalam jalur kajian fikih namun berbeda dengan kitab fikih formal lainnya sebab lebih condong ke ajaran tasawuf dan pada bab-bab tertentu banyak menunjukkan fadhilah-fadhilah (keutamaan) melakukan ibadah.

Kitab “Manahijul Imdad” ini merupakan karya besar keempat yang ditulis oleh Kiai Ihsan Jampes sebelum meninggal Tahun 1952 pada usia 52 tahun.
Karya ini sempat mengeram di Perpustakaan Kairo selama bertahun-tahun hanya dalam bentuk manuskrip. Pihak keluarga Kiai Ihsan yang menerbitkan karya itu memperolehnya dari salah seorang murid Kiai Ihsan Jampes yang tinggal di Semarang.
Pada Tahun 1936, Kiai Ihsan Jampes menerbitkan karya dalam bidang tasawuf dengan judul Kitab “Sirajut Thalibin” (Lentera Umat), diterbitkan oleh Penerbit Musthafa Babi Al Halaby, Cairo dan sempat menggemparkan dunia intelektual di Mesir.
Kiai Ihsan Jampes sendiri langsung diminta oleh Raja Faruk untuk menjadi warga kehormatan Mesir sebagai syeikh pengajar di Universitas Al Azhar, tetapi permintaan tersebut tidak dikabulkan, ia lebih senang mengajar di Pesantren Jampes di luar kota Kediri yang sepi.
Sampai sekarang Kitab “Sirajut Thalibin” digunakan sebagai referensi wajib di beberapa universitas di Mesir dan berbagai universitas di Barat seperti Eropa, Amerika dan Canada pada jurusan teologi dan teosofi.
Kiai Ihsan Jampes tidak pernah belajar ke Mekkah tetapi kemampuan berbahasa arabnya sangat sempurna, sehingga bisa menulis kitab dengan bahasa yang indah, padat berisi dan mengagumkan.
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Hasyim Asy’ari sangat mengaguminya dan menempatkannya sejajar dengan ulama mujtahid lainnya.
Karya Kiai Ihsan Jampes lainnya adalah Tashrihul Ibarat dalam bidang ilmu falak (astronomi) yang ditulisnya ketika masih berusia 30 tahun.
Kalau Irsyadul Ikhwan (nasihat untuk para kawan) tentang hal-hal yang remeh seperti minum kopi dan merekok yang hingga saat ini belum diterbitkan secara luas namun sangat dikenal oleh para santri salaf. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh pada Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. Penulis dapat dihubungi via email: immimpangkep@gmail.com


