Kisah Reuni 212 dan Kesaksian Siem Mei Hwa.

Lautan massa umat Islam dalam Reuni Akbar 212, di Monas dan sekitarnya, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Lautan massa umat Islam dalam Reuni Akbar 212, di Monas dan sekitarnya, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Cerita ini lagi-lagi merupakan kisah yang dihimpun Palontaraq terkait keseruan, kebersamaan, dan persaudaraan yang tinggi dari peristiwa reuni akbar 212. Cerita kali ini berasal dari kesaksian seorang non muslim bernama Siem Mei Hwa atau Susi Meliana Waty yang turut hadir menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut.

Kisah ini menjadi satu diantara sekian banyak kisah mengharukan, yang sama sekali tidak dilirik oleh media mainstream pada umumnya disebabkan kebencian yang mereka sembunyikan terhadap ulama dan ummat Islam. Untuk tulisan ini, penulis juga melakukan penyuntingan sekadarnya tanpa mengurangi makna dan pesan yang ingin disampaikan Siem Mei Hwa. Selamat menyimak!

Massif. Jutaan massa yang hadir dalam Reuni Akbar 212. (foto: ist/palontaraq)

Massif. Jutaan massa yang hadir dalam Reuni Akbar 212, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Kesaksian Siem Mei Hwa

Awalnya aku hanya ingin tahu dan ingin melihat saja. Tentang Reuni 212 yg katanya di hadiri jutaan manusia. Pukul 06.oo WIB, aku sudah berangkat dari Depok menuju Monas, titik tempat berkumpulnya alumni 212. Sekitar Pukul 07.00 WIB, aku sudah sampai. Aku terkejut dan takjub karena memasuki Bundaran Hotel Indonesia (HI), jutaan manusia sudah berjubel. Mobilkupun berjalan merayap diantara jamaah yang rata-rata berbaju dan berpeci putih. Mereka begitu ramah mempersilahkan mobilku lewat.

Karena sesaknya lautan manusia yang terus bergerak menuju Monas, aku tak bisa meneruskan. Aku sudah tidak bisa masuk lebih jauh lagi karena jalanan sudah sangat padat.

Seorang jamaah dengan sopan bertanya padaku, “Mau kemana Bu..?”.
“Mau cari parkir, Pak”, jawabku tersenyum.
“Ibu mutar ke kanan terus lurus sekitar 100 m dari sini ada tempat parkir di halaman gedung itu, masih bisa parkir”, katanya santun sekali.

Setelah berjalan terseok akhirnya sampai juga aku di gedung yang di tunjukan bapak tadi.

Massa Reuni Akbar 212, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Massa Reuni Akbar 212, di Monas, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Selesai memarkir aku dan keluarga keluar dari halaman gedung. Aku terkejut bahkan terperangah. Jalanan semakin penuh sesak dengan lautan manusia. Mereka kompak tanpa dikomando membaca sholawat dan mengibarkan ratusan bendera tauhid berwarna warni. Aku tahu bendera tauhid dari sosial media. Aku dan keluarga pesimis, apakah mereka akan menerima kami untuk ikut nimbrung, ataukah sebaliknya mereka akan mengusir kami? Dan aku pun berpikir bagaimana bila terjadi rusuh!?

Dalam situasi yang pesimistis dan kebimbangan, tiba-tiba beberapa jamaah menghampiri kami dan memberikan topi yang bertuliskan kalimat Tauhid. Anggota keluargakupun diberikan beberapa slayer. Kami dipersilahkan ikut bergabung. Rasa euforia menghinggapi keluarga. Kami rela berdesakan dengan orang lain yang tak saling mengenal tapi jiwanya ada rasa kebersamaan. Akupun tak dapat menahan tangis haru begitu juga anggota keluargaku.

Aman dan Terharu ditengah kerumunan massa Umat Islam. (foto: ist/palontaraq)

Aman dan Terharu ditengah kerumunan massa Umat Islam. (foto: ist/palontaraq)

Jutaan rasa yang menghinggapi kami membuat aku terisak. Beberapa jamaah memberikan tissue kepadaku. Aku mengusap air mataku, belum pernah perasaan ini berkecamuk sebegitu dahsyatnya. Rasa takjub dan bangga belum pernah aku lihat manusia sebanyak ini begitu tertib. Puji Tuhan…!!! Ini sungguh luar biasa, apalagi saat mendengar lantunan sholawat yang begitu kompak. Tak henti-hentinya aku mengusap air mata yang menggenangi mataku.

Setelah berjalan sekian puluh meter. Aku bertemu dengan rekan-rekan yang juga adalah non muslim. Rupanya mereka merasakan hal yang sama denganku. Dan aku semakin lebih takjub, karena banyak yang non muslim pun berdatangan. Ikut membaur dengan jutaan jamaah. Mereka pun tak membedakan kami, kami dapat snack dan minuman seperti jamaah yang lain. Mereka memandang kami sebagai saudara. Yang lebih mengharu-birukan seorang nenek tua memelukku sambil menangis memberikan sebungkus nasi uduk. Ya Tuhan …

Terharu - Diberi topi tauhid oleh jamaah. (foto: ist/palontaraq)

Terharu – Diberi topi tauhid oleh jamaah. (foto: ist/palontaraq)

Ya Tuhanku… Rasanya lutut ini lemas tak berdaya. Air mata ini semakin deras membanjiriku. Begitupun yang menyaksikan peristiwa ini. Mereka seakan terbawa arus yang ku alami. Aku yang tadinya sempat menilai negatif thinking tentang ini semua, jadi mendapatkan suatu pelajaran dan nilai moral yang luar biasa. Aku dan keluarga besarku yang biasa dengar Pasteur khotbah di gereja, atau denger Bhikkhu di vihara. Tak pernah sampai seharu ini…

Puji Tuhan….!!! Di sinilah, di Reuni Akbar 212 lah aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Bahwa merekalah Orang-orang yang mempunyai hati terpilih, yang mempunyai pesan moral yang tiada ternilai untuk menyikapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

#salamdamai #semogaindonesiaadildanmakmur.

Siem Mei Hwa (Susi Meliana Waty)

 

Cerita Mengharukan Lainnya dari Reuni 212 bisa dibaca disini:

Sepenggal Kisah Penyedia Live Streaming dari Reuni 212: Allah Maha Penolong!

Kisah Reuni 212: Selamat Berjuang, ya Bu!

Like it? Share it!

Leave A Response