Kisah Reuni 212: Selamat Berjuang ya, Bu!

by Etta Adil | Rabu, Des 5, 2018 | 64 views
Lautan massa reuni akbar 212 di Monas, Jakarta (2/12/2018). (foto: ist/palontaraq)

Lautan massa reuni akbar 212 di Monas, Jakarta (2/12/2018). (foto: ist/palontaraq)

 

Pengantar

Ini adalah kisah seorang dokter, bernama dr. Asnidar, salah seorang petugas medis peserta Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta (2/12). Kisah ini merupakan satu diantara begitu banyak kisah mengharukan dari peserta Reuni Akbar 212. Palontaraq menuliskan ulang untuk pembaca budiman sekalian, dengan sedikit penyuntingan tanpa mengurangi makna dan pesan yang ingin disampaikan dr. Asnidar, sebagai pengalaman batin yang berkesan dan tak terlupakan dalam peristiwa sejarah reuni akbar 212.

Kisah Pengemudi Grab yang Tak Mau Dibayar

Dokter Asnidar hendak cepat tiba di Monas. Soalnya jika agak larut malam bisa susah masuk ke lokasi tenda ring satu, tempat petugas medis bertugas. “Benar saja, setiba di Monas, As tidak bisa masuk lagi, pintu terdekat menuju tenda sudah ditutup,” – demikian cerita dokter Asnidar yang mengaku berangkat ke Monas dari RS Budi Kemuliaan dengan menyewa Grab.

Pengendara Grab dengan plat B 3799 PEE atas nama Syaiful Syamsuddin lalu melajukan lagi motornya ke pintu lain. Jarum jam sudah menunjukkan Pukul 00.30 dinihari waktu setempat. “Kami muter-muter dari pintu masuk dekat Gedung RRI yang sudah ditutup menuju ke pintu masuk depan Gedung Pertamina,” kata dr. Asnidar.

Suasana subuh hari di Lokasi Monas, saat Reuni akbar 212, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Suasana subuh hari di Lokasi Monas, saat Reuni akbar 212, Jakarta (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Namun, karena akses jalan ditutup sehingga Grab memilih melewati Harmoni. Di sana mereka bertanya kepada petugas dan menemukan informasi jika pintu yang terdekat yang dibuka ada  di Patung Kuda. “Sesudah berputar-putar, dan berbeda dengan tujuan waktu di share di aplikasi grab tadi, akhirnya kami sampai di pintu dekat Patung Kuda,” katanya.

Di atas kendaraan Asnidar awalnya sempat meyakinkan pengemudi Grab untuk tidak khawatir dengan mengatakan bahwa berapapun tambahan biaya Grab akan dibayarnya. “Mas tenang aja ya, nanti bayarannya aku tambahin, soalnya kan jadi jauh, ini tidak sesuai lagi dengan tujuan semula,” kata dr. Asnidar tanpa direspon oleh Pengemudi Grab.

Waktu sudah menunjukkan Pukul 00.01 WIB saat tiba di Patung Kuda. Dokter Asnidar lalu turun, dan bersiap mengambil uang Rp.30 ribuan, dari ongkos awal yang tertera hanya Rp.7.000,- “Bu, ngak usah dibayar. Selamat berjuang, ya bu!” ujar sang pengemudi Grab. “Aduh, As terharu sekali. Weuh hatee, sempat terpana sejenak,” cerita dokter Asnidar.

Sang Pengemudi Grab, yang tak mau dibayar. (foto: asnidar/palontaraq)

Sang Pengemudi Grab, yang tak mau dibayar. (foto: asnidar/palontaraq)

Dokter Asnidar tersadar dan berusaha untuk tetap memberikan ongkos yang memang sudah disiapkan. Tapi, meski sedikit dipaksa, pengemudi Grab itu tidak mau. “Akhirnya spontan As menyatakan doa. Sebelum dia pergi, Semoga Allah membalas kebaikan Mas, dan Allah mudahkan rezekinya, ya Mas. Hati-hati di jalan!” kata Asnidar kepada pengemudi Grab yang terus pergi.

Sejuta Tulus dalam Ukhuwah Islamiyah

Kisah dokter Asnidar hanya salah satu dari sekian banyak cerita mengharukan, seru, asyik, kadang terasa lucu, tapi kesemuanya menunjukkan indahnya persaudaraan dan keimanan.  Jutaan orang menampakkan wajah ceria dengan senyum yang tulus, tersungging tawa penuh persaudaraan dan kasih sayang.  Tak ada teriakan, gertakan, apalagi makian dan hardikan. Yang ada hanya wajah-wajah keimanan yang terpancar indah, semuanya berbagi, tulus memberi makanan dan minuman, serta apa saja yang mereka punya.

Tulus menerima sampah. (foto: ist/reuni212)

Tulus menerima sampah. (foto: ist/reuni212)

Tulus Berbagi. (foto: ist/reuni212)

Tulus Berbagi. (foto: ist/reuni212)

Tak terkecuali kepada aparat keamanan dan prajurit TNI yang berjaga. Tak sedikit diantaranya yang mendapatkan hadiah sorban, ikat kepala dan bendera dari peserta reuni akbar 212.  Ada pula peserta yang berkeliling menawarkan obat dan minyak gosok jika diantara peserta ada yang masuk angin.  Ada pula peserta yang membawa papan kertas, dibawanya terus di panggungnya, bertuliskan, “Saya tidak bisa memberi apa-apa. Hanya bisa menerima sampah”.

Reuni Akbar 212 dihadiri jutaan muslim, supertertib dan superdamai. (foto: ist/reuni212)

Reuni Akbar 212 dihadiri jutaan muslim, supertertib dan superdamai. (foto: ist/reuni212)

Indahnya. Jutaan peserta dengan beradab dengan wajah keimanan terpancar. Jutaan peserta menunjukkan keadaban yang tinggi. Tak ada yang menginjak rumput, semua mengurus sampahnya sendiri dan tak ada yang berceceran dan mengotori Lokasi Monas. Tak ada yang berebut makanan, malahan saling berbagi makanan dan minuman. Sungguh indah sekali. Semua saling lempar senyum dan menjabat tangan. Laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan, saling menghargai dan saling menghormati. (*)

 

Like it? Share it!

1 Comment so far. Feel free to join this conversation.

Leave A Response