Oleh: Santo Saba Piliang
Related Post: Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah?
PALONTARAQ.ID – Apa itu “Logika ilmiah”…? Pahami, Berkat pertolongan “logika ilmiah” inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman, Manusia dalam menjalani kehidupan
Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir, logika dibagi menjadi dua:
1. Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif
2. Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran, Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi
Logika terbalik memandang sesuatu jauh melampaui batas lahiriyah, Sebut saja dengan sudut pandang ruhiyah. Karena ia menggunakan kekuatan ruhiyah, kebersihan nurani, ketajaman iman, sebagai kacamatanya.
Orang yang biasa menggunakan logika ini tidak semata mengandalkan akal nya yang terbatas, tapi berusaha berfikir menyambungkan nya dengan yang tidak terbatas
Pencapaian kerja fikir tentang alam berdasar tafsir kitab suci, adalah upaya pencapaian usaha yang mendekati benar, asalkan kita tidak menafsirkan di atas tafsir terdahulu, agar tidak terjebak dalam “Pemaknaan sesa’at”, masuk dalam kesimpulan dangkal
Oleh karena itu, “Hermeneutik” pada akhirnya diartikan sebagai “Proses mengubah sesuatu atau situasi “Ketidak tahuan” menjadi “Mengerti”….
Benar “Mengerti” memahami alam dan penciptanya untuk melakukan kerja sadar melakukan hidup sesuai hukum ketetapan jagat raya dan isinya
Pada saat ini kebenaran kitab suci yang oleh science di akui kebenaran nya dalam mengungkap fakta alam…..tengah mengalami pendistorsian melalui cara menjungkir balikan fakta kitab suci ” seolah dibenturkan dengan science”
Hasil akhir nya orang tergiring masuk pada area “Anti Tuhan” melalui alat science sebagai media nya, ini kerja propaganda “Konspirasi Global” yang anak panahnya di fokuskan tepat pada area di mana “Manusia” yang sudah sejak dahulu telah berkonsep pada “Yang Maha Mutlak” dengan sebutan “Hyang” dimasa terdahulu
Melakukan “Sembah” kepada “Hyang”, dua kata menjadi satu kesatuan kalimat utuh “Sembahyang”, Kata ini sudah ada lama di Nusantara sebelum ada yang bernama “Agama”
Post hoc ergo propter hoc….. Bahasa Latin untuk ” setelah ini, oleh karena itu karena ini”, adalah sebuah kesesatan logis (penyebab berbagai dipertanyakan) yang menyatakan “Sejak peristiwa Y mengikuti peristiwa X, peristiwa Y pasti
disebabkan oleh peristiwa X.”
Hal ini sering disingkat menjadi hanya “Post Hoc”
Hal ini agak berbeda dari kesalahan “Cum hoc ergo propter hoc” , di mana dua hal atau peristiwa terjadi bersamaan atau urutan kronologis tidak signifikan atau tidak dikenal, juga disebut sebagai penyebab palsu, korelasi kebetulan, atau korelasi tidak sebab-akibat
Post hoc adalah kesalahan yang sangat menggoda karena urutan temporal tampaknya integral kausalitas
Kesalahan terletak pada datang ke suatu kesimpulan hanya berdasarkan urutan peristiwa, daripada memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin menyingkirkan sambungan peristiwa tersebut
Bentuk Pola hoc fallacy pos dapat dinyatakan sebagai berikut:
A terjadi, maka B terjadi.
Oleh karena itu, A menyebabkan B.
Ketika B tidak diinginkan, pola ini sering diperluas secara terbalik:
Menghindari A akan mencegah B.
Jika anda faham tulisan di atas… Maka tdk ada lagi polemik yang menghabiskan energy untuk berfikir apakah bumi itu bulat atau datar…
Yang kemudian di kawatirkan tergelincir masuk dan bekerja dalam mempromosikan usaha dari sebuah skenario besar pada pemahaman “Anti Tuhan”
Juga, Menafsirkan sesuatu di atas “Tafsir” sebelumnya, yang menjadikan semuanya “Tafsir” di atas “Tafsir”
Berfikir “Anti Tesis” lepas dari “Tafsir” di atas “Tafsir”, lepas dari “Nama” dan “Bentuk” mengantarkan kita keluar dari “Belenggu” kerangkeng “Pemikiran dan Pemaknaan Sesaat” masuk dalam “Samudera Kesadaran Semesta”, Membawa kedamaian diri dan jagat raya
…itulah kelebihan manusia Nusantara…
(* Santo Saba Piliang, Revicionist History ~ INDONËSIARYĀ, True Back History of Indonesia, Exploration & Research


