Beranda Sosial Budaya Seni Pertunjukan Idris, Pemandoling “Kamasea” di Buknea

Idris, Pemandoling “Kamasea” di Buknea

Idris atau Daeng Diri. (foto: mfaridwm)
Idris atau Daeng Diri. (foto: mfaridwm)

Laporan:  M. Farid W Makkulau

Namanya Idris, familiar dipanggil Diri’ atau Daeng Diri’, seorang pemusik tradisional yang penulis temu-kenali setahun yang lalu. Sekilas berhadapan dengan Daeng Diri’, siapapun akan merasa iba karena keterbatasan penglihatannya.

Namun saat diperlihatkannya  kepiawaiannya memainkan beberapa alat musik tradisional maka rasa kasihan itu akan berubah menjadi rasa kagum. Betapa cacat matanya tidak mengakibatkan hilangnya jiwa seni dan kreatifitasnya dalam berkesenian.

Adalah beberapa anggota Forum Aspirasi Masyarakat (FAM) Bulu Tellue yang mengantarkan penulis menyambangi rumahnya yang terbilang jauh. Butuh perjuangan keras menempuh jalan mendaki dan menurun dengan jalanan ekstrim untuk sampai di Raja’a, Buknea, salah satu kampung terpencil di Desa Bulu Tellue Kecamatan Tondong Tallasa.

Lihat juga:  Daeng Ramli, Pelestari Kharisma Musik Tradisional Mandali’

Karena penasaran, penulis akhirnya membuktikan sendiri kabar yang selama tersebar bahwa Diri’ atau Daeng Diri’ dapat membangun dan memperbaiki sendiri rumahnya meski ia dalam keadaan tak dapat melihat.

Penulis bersama Ketua dan Bendahara FAM Bulu Tellue. (foto: bagas)
Penulis bersama Ketua dan Bendahara FAM Bulu Tellue. (foto: bagas)

Menikmati kesegaran air kelapa muda di Raja'a, Buknea, Bulu Tellue (foto: bagas)
Menikmati kesegaran air kelapa muda di Raja’a, Buknea, Bulu Tellue (foto: bagas)

Pemandangan Persawahan di depan rumah Daeng Diri di Raja'a, Buknea, Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)
Pemandangan Persawahan di depan rumah Daeng Diri di Raja’a, Buknea, Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

***

Daeng Diri dilahirkan di Raja’a, Buknea, 1 Juni 1970. Sebenarnya Daeng Diri’ ini merupakan anak kedua dari enam bersaudara, namun kini ia tinggal sendiri di rumahnya. Saudaranya lebih memilih keluar dari Buknea dan mencari kehidupan di daerah lain.

Meski begitu, Daeng Diri’ tak pernah merasa kesepian. Rumahnya tak pernah dikuncinya, sehingga tetangganya bisa masuk dan menjenguknya kapan saja. Begitupun dengan alat musik tradisional buatannya, disimpan begitu saja di teras rumahnya yang lazim disebut “dego-dego”, sehingga siapapun tetangganya, umumnya anak muda di kampung itu, bebas belajar memainkan alat musik hasil karyanya.

Lihat juga:  Patahuddin, Berjuang Sendiri Mempertahankan Mandali’

Tak mudah mengorek keterangan tentang kisah hidup Daeng Diri’ sampai kemudian ia ‘menikmati’ takdirnya sebagai seorang yang buta.

Daeng Diri’  bukanlah sosok yang mudah terbuka terhadap orang yang baru dia kenali suaranya, tetapi daun telinga sangat awas terhadap bunyi-bunyian yang menyimpang dari harmoni. “Pasiguppai rong”, ujarnya kepada anggotanya kala mengetes harmonisasi suara dari alat musik gambus, mandoling dan tennong-tennong.

Daeng Diri’ adalah sosok disabilitas yang unik. Punya keterbatasan, namun keterbatasannya itulah yang melejitkan kemampuannya mengenali harmonisasi suara dan musikalisasi yang apik.

Menurut Syarifuddin (25 tahun), Daeng Diri diketahuinya dari orang tuanya sudah belajar memainkankan alat musik tradisi sejak umur 5 tahun dari seorang yang mahir, yang disebut Langsa (almarhum). Langsa juga inilah yang diketahui sebagai orang yang pertamakali membawa Mandoling dan alat musik tradisi lainnya ke Buknea.

Kepiawaiannya Daeng Diri’ memainkan gambus, mandoling, dan tennong-tennong tidak dinikmatinya sendiri. Ia terbuka mewariskan kemampuannya itu kepada anak muda tetangganya.

Sebagaimana diungkapkan Syarifuddin (25 tahun) bahwa dirinya bisa memainkan alat musik tradisi Mandoling karena sering mengunjungi rumah Daeng Diri’.

Umumnya Daeng Diri diundang untuk memainkan gambus kala ada acara syukuran, aqiqah, dan pernikahan. Lagu yang sering diperdengarkan antara lain: Muri-muria, Rindu malam, Galle-gallena, Jamengma Sayang, dan Kamasea.

Andi Baso Amir, Kaur Implementasi Program CSR PT. Semen Tonasa yang mencoba berkolaborasi dengan Daeng Diri' dalam mendendangkan kelong-kelong Turiolo. (foto: mfaridwm)
Andi Baso Amir, Kaur Implementasi Program CSR PT. Semen Tonasa yang mencoba berkolaborasi dengan Daeng Diri’ dalam mendendangkan kelong-kelong Turiolo. (foto: mfaridwm)

Harmonisasi yang apik dari musik Tennong-tennong, Mandoling, dan Gambus yang dimainkan oleh Daeng Diri' bersama murid-muridnya. (foto: mfaridwm)
Harmonisasi yang apik dari musik Tennong-tennong, Mandoling, dan Gambus yang dimainkan oleh Daeng Diri’ bersama murid-muridnya. (foto: mfaridwm)

Syarifuddin yang akrab dipanggil Bang Gassing (Bagas) ini mengakui bahwa Daeng Diri’ adalah sosok fenomenal. Hal yang sama diungkapkan Andi Baso Amir, Kaur Implementasi Program CSR PKBL PT. Semen Tonasa ini. “Saya sangat kagum akan kemampuannya. Orang seperti Daeng Diri’ langka, punya keterbatasan namun lebih banyak lagi kelebihannya”, ujarnya didampingi Abdul Azis Thahir, Manajer CSR dan 11 pendamping desa dalam wilayah Ring 1 PT. Semen Tonasa yang turut menyaksikan kemahiran Daeng Diri memainkan alat musik tradisional.

Di gambusnya tertulis “Kamasea” yang artinya miskin atau sederhana, sebuah pengakuan yang jujur akan fisik tentang dirinya, meski menurut penulis, dari lagu yang dinyanyikannya sangat kaya akan pesan dan makna kehidupan.

“Kamasea” sendiri sebenarnya adalah judul lagu andalan dari Daeng Diri’, namun secara keseluruhan dari musik dan lagu (kelong turiolo) yang dibawakannya, Daeng Diri ingin membawa pesan kepada pendengarnya bahwa biarlah dirinya saat ini “kamase”, namun dikehidupan selanjutnya, ia berharap “malebbi” (mulia), sebagaimana syair kehidupan yang dinyanyikan tentang janji perbuatan baik atau kebaikan pasti diganjar kehidupan yang lebih baik di kehidupan selanjutnya. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...