Sejarah dan Kultur Perniagaan di Sungai Pangkajene

by Penulis Palontaraq | Senin, Nov 26, 2018 | 149 views
Muara Sungai Pangkajene. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Muara Sungai Pangkajene. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

SETIAP  Orang pasti memiliki ingatan tentang masa lalu yang pernah dilaluinya. Namun sangat sedikit orang yang melakukan pencatatan atas ingatan tersebut. Sejarah, menurut E.H. Carr adalah suatu interaksi berkesinambungan antara sejarawan (atau siapapun yang melakukan studi sejarah) dengan fakta masa lampau yang dimilikinya, berupa catatan fragmentasi sejarah.

Dalam penulisan sejarah, tekanan tidak hanya terletak pada “apa yang sebenarnya telah terjadi atau telah berubah di masa lampau”, tetapi juga pada bagaimana seseorang “berdialog” dengan fakta masa lalu itu. Itulah sebabnya sering dikatakan bahwa penulisan sejarah harus terus dilakukan dan setiap generasi perlu menulis sejarahnya sendiri.

Menuliskan ingatan tentang Sungai Pangkajene saya pandang sebagai upaya cerdas melihat sebuah fragmen sejarah. Diatas sungai ini begitu banyak peristiwa penting yang lalu lalang, yang bukan hanya layak dicatat tetapi sangat layak untuk didialogkan. Pangkajene yang sebenarnya adalah Sungai ini.

“Anjorengpaki Sigappa ri Pangkana Je’neka” (Nanti kita bertemu di Percabangan Sungai) bukan hanya sebuah kalimat janji untuk bertemu diantara para pedagang, tetapi menunjukkan keakraban banyak orang dari berbagai tempat yang meyakini bahwa Sungai Pangkajene memiliki keberuntungan, bukan hanya bagi Orang-orang yang mengadu peruntungan, tetapi juga bagi Orang-orang yang dipersaudarakan dan menemukan saudara di sungai ini.

Karena itu, Sungai Pangkajene bukan hanya akses ekonomi perdagangan tetapi akses silaturahim dan jalinan kekerabatan yang lebih luas. Sebagai pengamat yang segenerasi dengan penulis buku ini, Sungai Pangkajene dan sekitarnya yang diceritakan dalam buku ini juga mengalir di Ingatan penulis.

Beberapa hal yang penulis lupa ada dituliskan dalam Buku ini.  Penulis dilahirkan di Pangkajene—tepatnya di Terminal Kompak, tidak jauh dari Sungai Pangkajene—bersamaan dengan masa kejatuhan TB. Harmonis, toko buku pertama di Pangkep yang dikelola ayah penulis.

Tiga puluh tahun lebih, yang membekas di ingatan saya adalah (juga) sebagaimana yang dituliskan dalam Buku ini : Mistriani, Bioskop Megaria, Pindahnya Lembaga Pemasyarakatan lama yang sekarang ditempati Radio Torani, Pos Polisi dan Patung Ewako, Kuningisasi beberapa bangunan di masa pemerintahan HA Baso Amirullah, Kafe Remaja dan Panggung Corat Coret.

Begitu pula pindahnya Tugu Bambu Runcing di Pertigaan depan Rumah Sakit lama (sekarang Islamic Centre Pangkep) ke Pinggir Sungai, Perpindahan Pasar lama Pangkajene yang sekarang berubah menjadi kawasan niaga Palampang dalam bentuk Ruko-ruko kelas menengah, dihilangkannya bangunan pinggir sungai yang sekarang lebih terbuka dan dimanfaatkan sebagai pusat kuliner di malam hari, hadirnya jembatan kedua Pangkajene di sebelah barat jembatan lama, dan lain sebagainya.

Kalimat ajakan untuk bertemu di Sungai Pangkajene, “Anjorengpaki sigappa ri Pangka’na Je’neka” yang dahulunya hanya merupakan janji serah terima dan tukar menukar barang dagangan kini lebih menemukan makna yang lebih luas, sebagai ajakan untuk mempererat hubungan sosial politik.

Sungai Pangkajene telah lama menjadi saksi sejarah lalu lintas barang dan jasa serta ajang kampanye, begitu pula pergumulan budaya yang terjadi di sekitarnya tetap beriak-riak timbul tenggelam dalam pusaran pembangunan dan kemajuan daerah.

Di sekitaran Sungai Pangkajene, banyak hal yang bisa diingat dan dicatat. Dari Jembatan Pangkajene (Jepang) kita bisa melihat banyak perubahan, bukan hanya perubahan wajah kota Pangkajene tetapi “pertarungan” para pengambil kebijakan bagi mereka yang pernah berkuasa dan memerintah daerah ini.

Karakteristik wajah ibukota kabupaten dan identitas daerah dipertaruhkan di Sungai Pangkajene dan sekitarnya ini, bukan hanya menyangkut bangunan kantor pemerintah, rumah rakyat, tugu dan patung perjuangan, atau nama jalan tetapi juga menyangkut fungsi sosial dan bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari tata ruang kota itu.

Akhirnya, sangat penting bagi kita untuk  membangun “ingatan sosial” masyarakat terhadap kontekstualisasi sejarah daerahnya, khususnya generasi mudanya terhadap perubahan wajah kota Pangkep, baik dilihat dari Jepang (Jembatan Pangkajene) maupun ditemukenali dari Paris (Pangkajene pinggir sungai).

Setidaknya penulis kembali mengajak untuk bertemu (assigappa) dan “mendialogkan” Pangkajene dan Sungainya sebagai aset dan potensi daerah yang sangat layak untuk diingat dan dibanggakan. (*)

 

 

 

Tentang Penulis:
M. Farid W Makkulau, seorang penulis dan peneliti sejarah budaya Sulawesi Selatan, tinggal di Pangkep. Beberapa buku karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Manusia Bissu, Upacara Adat dalam Masyarakat Bugis Makassar, dan lainnya. Penulis bisa dihubungi via email: penulissulsel@gmail.com atau ke: palontaraq@gmail.com

About the Author:
M. Farid W Makkulau, an observer of South Sulawesi culture, wrote a book: Pangkep History and Culture, History of the Kingdom in Pangkep, Bissu Man, and others. Authors can be contacted via email: palontaraq@gmail.com atau ke: penulissulsel@gmail.com

Like it? Share it!

Leave A Response