BerandaAkademiaWebinar, Workshop dan Diskusi Daring tentang Jalur Rempah Nusantara

Webinar, Workshop dan Diskusi Daring tentang Jalur Rempah Nusantara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Salah satu hal yang menarik perhatian penulis dari sejak Tahun 2020, dari sejak masa Pandemi Covid-19 adalah webinar, workshop dan diskusi daring tentang Jalur Rempah Nusantara. Mengapa?

Tahu kan apa yang dimaksud Rempah-rempah? Ya, Rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bumbu, penguat cita rasa, pengharum, dan pengawet makanan yang digunakan secara terbatas (FAO, 2005). Rempah adalah tanaman atau bagian tanaman yang bersifat aromatik dan digunakan dalam makanan dengan fungsi utama sebagai pemberi cita rasa.

Ternyata Rempah-rempah ini ada sejarahnya, bahkan sangat mewarnai perjalanan kehidupan bangsa kita. Karena alasan rempah ini pula, Bangsa-bangsa Eropah berdatangan ke berbagai penjuru kepulauan nusantara dan kemudian menjadi awal sebab kolonialisme itu terjadi.

Di nusantara rempah beragam jenisnya, yaitu Lada, Tanaman rempah yang banyak tersebar di Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan ini menjadi komoditas rempah utama Indonesia, Begitu pula dengan rempah lainnya, seperti Cengkeh, Kayu manis, Vanili, Kapulaga, Andaliman, Pala, dan lain sebagainya.

Dari mana asal rempah-rempah itu?  Rempah-rempah telah dikenal di Eropa sekitar 70 SM dan digunakan sebagai obat serta penyedap makanan. Maluku–yang saat itu tidak diketahui–menjadi sumber utama rempah-rempah dunia, dari Selat Malaka rempah-rempah dibawa oleh pedagang Arab dan Gujarat ke India serta China melalui Jalur Sutra.

Apa itu jalur rempah nusantara? Selain sumber kemakmuran berupa rempah-rempah, wilayah Nusantara dahulunya menjadi salah satu jalur pelayaran dunia yang sangat penting. Tercatat kita memiliki empat dari tujuh selat utama pelayaran dunia.

Apa latar belakang terbentuknya jalur rempah? Hal tersebut terjadi karena komoditi rempah yang berasal dari banyak kepulauan di Nusantara terlibat lalu lalang dalam perniagaan masa lalu sehingga menjadi salah satu rute budaya yang dikenal sebagai Jalur Rempah.

Siapa penemu jalur rempah? Karaeng Pattingalloang adalah Tokoh Intelektual di Jalur Rempah Nusantara. Tidak ada tokoh yang paling dikenal oleh orang-orang Eropa dari kota-kota pelabuhan di Jalur Rempah Nusantara selain Karaeng Pattingalloang (1600-1654) dari Makassar.
Saking pentingnya jalur rempah nusantara ini dikaji dan diteliti ulang, sampai-sampai Kemdikbud-Ristek memantik banyak kegiatan budaya untuk mengungkap kembali peta perdagangan, potensi dan jalur rempah nusantara, sebagaimana telah dibuatkan pula websitenya, dengan alamat: Selengkapnya lihat: https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/
Dalam Website tersebut, Kemdikbud-Ristek telah memetakan jalan untuk mengungkapkan kembali sejarah yang terlupakan tersebut, yaitu Jalur rempah nusantara, dengan Timeline kegiatan sebagai berikut:

2016-2019 – Diskusi

Berbagai diskusi intensif mengenai peran Jalur Rempah dari sudut pandang Indonesia dan Luar Negeri. Pertempuan kelompok terfokus pada pembahasan definisi dan ruang lingkup nominasi Jalur Rempah, termasuk kemungkinan untuk mengajukan nominasi bersama dengan negara lain.

2020 – Diskusi dan Identifikasi

Kegiatan:
– Melaksanakan berbagai diskusi intensif tentang Jalur Rempah di berbagai daerah secara daring.
– Bekerjasama dengan ANRI untuk mengidentifikasi berbagai dokumen VOC yang terkait dengan lokasi, komoditas, dan kebijakan perdagangan rempah.
– Karavan Budaya Jalur Rempah dengan menggunakan kapal Arka Kinari yang menelusuri jalur perdagangan rempah di Sorong, Banda Neira, Kepulauan Selayar, Makassar, dan Bali.

2021 – Penelitian dan Festival

Kegiatan:
– Melakukan penelitian terhadap Obyek-obyek terkait jalur rempah yang dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia
– Melaksanakan Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia di 13 daerah, diantaranya Banda Neira, Maluku Utara, Makassar, Banjarmasin, Sumatera Utara (Belawan), kepulauan Riau (Pulau Bintan), Aceh (Lhokseumawe).

2022 – Muhibah Budaya

Kegiatan:
Melaksanakan Muhibah Budaya Jalur Rempah bekerjasama dengan TNI AL-KRI Dewaruci dan melibatkan 149 pemuda-pemudi terpilih dari 34 provinsi di Indonesia yang disebut Laskar Rempah untuk menelusuri titik rempah nusantara di Surabaya, Makassar, Bau-bau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Naira, dan Kupang. kegiatan ini berupaya untuk menegaskan kembali keindonesiaan dan ketersambungan budaya melalui kehangatan rempah.

2023 – Pencantuman dan Muhibah Budaya

Kegiatan:
– Pencantuman Jalur Rempah sebagai Calon Daftar Sementara (Tentative List) baru
– Melaksanakan kembali Muhibah Budaya Jalur Rempah dan bekerjasama dengan TNI-AL KRI Dewaruci dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri dari pemuda pemudi, peneliti, pegiat media sosial, dan media untuk menelusuri titik Jalur Rempah.

2024 – Pengajuan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia.

Penulis sendiri secara tidak langsung telah melibatkan diri mempelajari, membahas dan mengkaji tentang Jalur Rempah Nusantara ini, baik dari beberapa tulisan yang sudah terpublikasi di media online maupun dari webinar yang diikuti sejak Tahun 2020 tersebut.

Berikut ini beberapa kegiatan webinar, workshop dan diskusi daring yang diikuti penulis terkait potensi dan jalur rempah nusantara:

24 Oktober 2020 – Diskusi Daring Seri Webinar Jalur Rempah, “Jalur Rempah dan Kontak Budaya di Banten” yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (Wilayah Kerja Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung), Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemdikbud RI.

7 November 2020 – Seri Webinar Jalur Rempah, “Warisan Budaya Jalur Rempah di Banten”, diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Kemdikbud RI.

16 November 2020 – Webinar Jalur Rempah #1, “Jalur Rempah dan Kontak Budaya di Sungai Carang Tanjungpinang”, diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) via Zoom Meeting dan Live Youtube. (No.Sertifikat: 757/F7.23/KP/2020).

20 November 2020 – Webinar Jalur Rempah #2, “Jalur Rempah dan Warisan Budaya di Sungai Carang Tanjungpinang” via Zoom Meeting dan Live Youtube, diselenggarakan oleh: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau, Kemdikbud RI. (No. Sertifikat: 767/F7.23/TU/2020).

27 November 2020 – Webinar, “Kuasa Rempah: Masa lalu untuk Masa Depan”, diselenggarakan oleh: Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Aceh, Kemdikbud RI.

8 September 2021 – “Workshop Edukasi Jalur Rempah”, diselenggarakan oleh BPCB Kaltim, Pukul 08.00 WITA s.d. selesai. (No.Sertifikat: 1434/F7-12/KB.04.06/2021).

9 September 2021 – Diskusi Buku, “Rempah Nusantara Merajut Dunia”,  diselenggarakan oleh BPCB Kaltim, Pukul 08.00 WITA s.d. selesai. (No.Sertifikat: 1435/F7.12/KB.04.06/2021).

12 September 2021 – “Workshop Desain Poster Jalur Rempah” via Zoom Meeting dan Live Youtube, diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur, 10 s.d. 12 September 2021. (No. Sertifikat: 1436/F7.12/KB.04.06/2021).

Demikian catatan singkat mengenai potensi dan jalur rempah nusantara ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru, penulis dan peneliti sejarah budaya nusantara/Pimred Ettapedia dan Media Palontaraq Group .

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT