Relasi Gempa dan Maksiat

by Etta Adil | Kamis, Okt 11, 2018 | 196 views
Gempa adalah peringatan sekaligus hukuman agar manusia meninggalkan maksiat. (foto: inforelawan)

Gempa adalah peringatan sekaligus hukuman agar manusia meninggalkan maksiat. (foto: inforelawan)

Bagaimana caranya menghentikan gempa? Suatu ketika, Rasulullah SAW saat bersama sahabat-sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan naik ke Bukit Uhud, tiba-tiba Bukit Uhud berguncang. Maka beliau menghentakkan kakinya ke Uhud dan bersabda:

اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلاَّ نَبِىٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ

Artinya:
“Tenanglah wahai Uhud, tidak ada di atasmu kecuali seorang Nabi, Ash Shiddiq dan asy Syahid.” (HR. Bukhari)

Di masa kekhalifahan Umar, tiba-tiba Madinah berguncang. Umar kemudian mengetukkan tongkatnya ke bumi dan mengatakan: “Wahai bumi, apakah aku berbuat tidak adil?” Lalu beliau melanjutkan dengan lantang, “Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian.” Bumi itu tunduk pada ketentuan Allah. Akan memberikan keberkahan jika pemimpin dan penduduknya adalah Orang-orang yang bertakwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Maka untuk menghentikan atau mencegah gempa bumi dan berbagai bencana alam karena peringatan atau hukuman Allah, pemimpin dan penduduknya diajak untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan, memperbanyak silaturrahim dan amal saleh, serta tidak meninggalkan dakwah, amar makruf nahi mungkar, sebagaimana seruan Umar yang diabadikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari tersebut.

Aisyah radhiyallahu anha, istri Nabi, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi. Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.

Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka. Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka? Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.” Anas radhiyallahu anhu berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini. Sangat gamblang dan jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab spiritual gempa.

Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah atau perkara biasa. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat bisa dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.

Umar bin Abdul Aziz yang memerintah Tahun 99-101 H, ketika gempa terjadi di zaman pemerintahannya. Selepas gempa mengguncang, Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat kepada semua gubernur di seluruh negeri kekuasaannya. Dan inilah instruksinya, “Gempa ini adalah sesuatu yang Allah SWT gunakan untuk menegur hamba-hamba-Nya. Saya telah menulis perintah ke seluruh wilayah agar mereka keluar pada hari yang telah ditentukan pada bulan yang telah ditentukan, siapa yang mempunyai sesuatu maka bershadaqahlah karena Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan mengingat Tuhannya, lalu dia Shalat. (Qs. Al-A’la: 14-15)

Dan katakanlah sebagaimana Adam berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk Orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 23)
Dan katakanlah sebagaimana Nuh berkata, “Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk Orang-orang yang merugi.” (Qs. Hud: 47) Dan katakanlah sebagaimana Yunus berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk Orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al-Anbiya’: 87)

Mari mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu, berusaha untuk menshalihkan diri dan keluarga, berusaha ajak ummat ini agar senantiasa beramal shalih, berusaha menjadikan pemimpin atau mngambil pemimpin dr orang yang saleh dan takut kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT berkenan menjadikan kita termasuk dari Orang-orang yang shalih dan menempatkan kita bersama orang-orang saleh pula, serta menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah SWT.

Mari memperbanyak istighfar, senantiasa perbaharui taubat dengan kesungguhan, perbanyak sedekah. Semoga Allah berkenan menerima taubat kita dan membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response