Laporan: Etta Adil
PALONTARAQ.ID, BULUKUMBA – Setiap berkunjung ke Kabupaten Bulukumba, satu hal yang penulis tak pernah lewatkan adalah blusukan ke Pasar Cekkeng, salah satu sisi selatan pesisir kabupaten penghasil perahu phinisi ini.
Disamping karena pasar rakyat ini dekat dari rumah keluarga, juga karena pasar yang berada di daerah pantai Kampung Ela-ela, Kecamatan Ujung Bulu ini menawarkan begitu banyak olahan kuliner tradisional.
Selain bersih, nikmat, tentu juga mengingatkan penulis akan masa kanak yang akrab dengan kue-kue tradisional yang dijajakan tersebut.
Kenapa pasar ini dinamai Pasar Cekkeng? Puluhan tahun silam di Pasar Cekkeng, dikenang oleh masyarakat setempat hanya beberapa orang yang berjualan sambil jongkok (cekkeng) di lokasi dekat pantai itu, dimulai pada subuh hari dan berakhir paling lambat Pukul 07.00 WITA, dengan perlengkapan menjual hasil kebunnya seadanya.
Lihat juga: Dange’ dan Lanteangoro’, Pelengkap Eksistensi Komunitas Bissu
Umumnya para penjual maupun pembeli hanya memakai pakaian sederhana berkerudung berjalan menembus pagi buta dan melawan hawa dingin di subuh hari.
Bakul hasil kebun biasanya berisi beberapa sisir pisang mentah sebagai bahan jualan, serta hasil kebun lainnya, begitu pula nelayan membawa hasil melautnya.

Darimana asal pedagang di Pasar Cekkeng? Mereka umumnya berjalan kaki dari Kampung Tabbuttu’ menuju pesisir pantai Kampung Ela-ela, Ujungbulu, lalu berhenti dan bertemu di pertigaan jalan, sambil berjongkok (dalam bahasa Bugis setempat disebut cekkeng) terjadilah proses jual beli diantara mereka.
Semakin terang berangsur meninggalkan subuh, semakin banyaklah orang berdatangan dan mereka semua jongkok berjejer di tepi jalan sambil menunggu pembeli. Ada pula yang membawa kue-kue tradisional, sayur-sayuran serta gula merah yang dibungkus daun pisang.

Dari jumlah penjual yang hanya belasan orang, pembeli pun jumlah tidak seberapa. Para pembeli yang datang umumnya baru pulang dari masjid melaksanakan salat subuh berjamaah.
Pada saat masih terbatas jumlah pendatang, tawar-menawar sesama mereka tidak lama, karena dagangan yang ditawarkan oleh penjual juga sangat standar.
Lihat juga: “Kapurung Pangkep”, Citarasa beda dari Kapurung Palopo
Kini, aktifitas jual beli di pasar itu sudah berkembang sampai siang hari, penjual juga semakin banyak berdatangan dan berkumpul, akhirnya Pemerintah Kabupaten Bulukumba sejak 30 tahun terakhir telah menetapkan lokasi ini sebagai pasar rakyat.
Meski kini, penjual dan pembeli tidak lagi berjongkok atau accekkeng karena sudah tersedia lapak-lapak yang bagus dan refresentatif laiknya pasar modern, tetap saja nama “Cekkeng” itu tetap dipakai dan dikenang.
“Saya tidak bisa melupakan masa itu, dimana saat berjualan ma’cekkeng atau berjongkok.” kenang Daeng Da’i, salah seorang penjaja kue tradisional di Pasar Cekkeng.
Pisang mentah ketika itu cukup laris, karena masyarakat setempat senang menggoreng pisang pada pagi hari untuk dijadikan sebagai sarapan bersama kopi panas.
Dari keterangan beberapa pedagang di Pasar Cekkeng, didapatkan informasi bahwa Pasar Cekkeng ini sendiri telah mengalami dua kali berpindah.
Awalnya dagangan digelar di pertigaan jalan Dato Tiro dan jalan menuju pesisir pantai yang melewati SD Inpres 172 Ela-ela, lalu bergeser sekitar 300 meter ke belokan jalan pesisir pantai, yang juga diberi nama “Pantai Cekkeng”.
Penulis menduga penamaan Pantai Cekkeng yang berada di pinggir pantai ini berasal dari kebiasaan penduduk sekitar yang ke pantai “Cekkeng” untuk “accekkeng” (Makassar: buang hajat).

Berburu Kuliner Tradisional
Sejak pemerintahan Bupati Bulukumba, Patabai Pabokori, pasarnya dipermanenkan dan diberi tempat khusus agak ke dalam di tanah tumbuh di pesisir pantai Kampung Ela-ela.
Pasar Cekkeng yang dulunya hanya tempat berjualan kue-kue untuk sarapan itu, kini telah berubah menjadi Pasar Rakyat Cekkeng, salah satu destinasi berburu kuliner tradisional.


Kini, bukan hanya kue-kue yang dijual di Pasar Cekkeng, melainkan hampir semua kebutuhan rumah tangga, mulai dari kue-kue, sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, ayam, dan daging mentah, hingga beras, panci, dan perabot rumah tangga lainnya.
Meski begitu, tetap saja menarik perhatian penulis saat blusukan di Pasar tradisional ini. Ada begitu banyak kue tradisional yang menarik dan masih bertahan, di saat kue-kue tradisional tersebut sudah tak dijajakan lagi di daerah lain.
Meski masih ada juga yang berjualan sambil jongkok pada halaman luar, ini hanya bagi pedagang yang tidak mendapatkan tempat atau lapak semi-permanen dalam pasar.
Jumlahnya hanya beberapa orang, itupun hanya penjual sayuran dan hasil kebun lainnya, sementara penjaja kue tradisional sudah mendapatkan lapak yang lebih layak dalam pasar.
Lihat juga: Menemukan “Lost Paradise” di Apparalang
Perlu Pembenahan

Penulis biasanya membeli kue tradisional di dalam pasar, kemudian membungkus dan membawanya ke pantai. Lebih banyak teman lebih seru!
Saat pagi hari, lebih asyik menikmati kue tradisional tersebut di pantai seraya memandang laut dan perahu nelayan.
Nun di kejauhan, beberapa nelayan sigap memeriksa jaring terapun rumput lautnya. Ada pula yang kembali membawa hasil tangkapan melautnya.
Pantai Cekkeng jika dipoles lebih menarik, sebenarnya bisa menjadi obyek destinasi wisata para pejalan, penikmat wisata kuliner dan para travel blogger.
Selayaknya Pasar semi-tradisional ini memerlukan polesan dan pembenahan pemerintah kabupaten setempat. (*)


