BerandaBeritaDaerah“Kapurung Pangkep”, Citarasa beda dari Kapurung Palopo

“Kapurung Pangkep”, Citarasa beda dari Kapurung Palopo

 

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – SELAMA  ini, orang mengenal Kapurung sebagai salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu dan Sabbang (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur).

Keterkenalan Kapurung ini sebagai kuliner khas, tak hanya dikenal di daerah asalnya, tapi sudah meluas sampai di Kota Makassar, bahkan ada yang secara khusus membuka Warung dan Rumah Makan dengan Menu tunggal: Kapurung.

Di daerah asalnya sendiri, Luwu dan Palopo, nama lain yang dilekatkan untuk Kapurung adalah Pugalu, sedang di Maluku, ada juga kuliner yang berbahan dasar sagu, sedikit mirip dengan Kapurung, namanya Papeda.

Persentuhan Budaya Bugis dan Makassar yang terkadang sulit untuk digambarkan perbedaannya, termasuk dalam hal penyajian kuliner khas, membuat penyajian makanan berbahan dasar sagu ini semakin beragam, sesuai selera dan citarasa penikmatnya.

Kreasi penyajian makanan seperti tak pernah ada habisnya, menyesuaikan dengan bahan pelengkap yang terbanyak ada di daerah itu.

Kapurung Pangkep (foto: mfaridwm)
Kapurung Pangkep (foto: mfaridwm)
Kapurung Khas Palopo Hj Fatma (foto: tribunnews.com)
Kapurung Khas Palopo Hj Fatma (foto: tribunnews.com)

Berbeda dengan Kapurung di Luwu dan Palopo, orang Pangkep menciptakan kreasi sendiri dalam penyajian makanan berbahan dasar sagu ini.

Meski tetap namanya Kapurung, namun “Kapurung Pangkep” sangat berbeda dengan Kapurung Palopo atau Luwu, yang lebih tampak layaknya sayur pada umumnya. Kapurung dimasak dengan campuran ikan, udang atau daging ayam dan aneka sayuran.

Menurut Ibu Masati di Samalewa Kecamatan Bungoro, Kapurung Palopo biasa dicampur dengan ikan masak dan air ikan tersebut, sementara Kapurung Pangkep lebih banyak campuran sayurnya.

“Macam-macam bahan sayurlah yang melengkapi banyaknya Bola-bola sagu, kelihatan banyak oleh air sayur yang menyatu dengan sagu, bukan oleh air ikan”, ungkapnya.

Sebagaimana halnya Ibu Masati yang sudah jago membuat Kapurung, Ibu Nur di Minasatene, mengungkapkan hal yang juga berbeda dari caranya membuat Kapurung dari Kapurung Palopo.

“Kalau Kapurung Palopo biasa ditemani ikan masak, justru Kapurung Pangkep lebih nikmat dengan ikan kering. Sayurnya pun pilihan dan banyak macamnya. Kapurung Pangkep jarang dicampur dengan udang, apalagi daging ayam, sebagaimana Bugalu Ayam di Palopo”, ungkapnya.

Pugalu Ayam, Kapurung khas Palopo. (foto: ist/?)
Pugalu Ayam, Kapurung khas Palopo. (foto: ist/?)

Hampir semua Kapurung Pangkep yang penulis nikmati, sebagaimana adanya yang dituturkan Ibu Masati di Bungoro dan Ibu Nur di Minasatene itu. Apapun itu, kuliner Kapurung nampaknya tercipta dari kreatifitas mencampur bahan yang tersedia.

Selalu ada sagu sebagai bahan dasarnya, namun bahan pelengkapnya itulah yang membuatnya berbeda sesuai selera penikmatnya atau sesuai citarasa pemesannya.

Kapurung Pangkep (foto: mfaridwm)
Kapurung Pangkep (foto: mfaridwm)

Nampaknya, kuliner khas Kapurung akan segera meluas dan bukan hanya menjadi selera orang Luwu dan Palopo.

Tidak menutup kemungkinan nanti akan tercipta branding sajian Kapurung sesuai asal daerah pembuatnya, seperti Kapurung Palopo, Kapurung Luwu, Kapurung Barru, Kapurung Soppeng, Kapurung Pangkep, Kapurung Makassar, dan lain sebagainya.

Apapun itu namanya, yang jelas sajian kuliner khas Kapurung dapat menjadi alasan untuk ngumpul dan silaturrahim, apalagi jika memang kita menyukai dan menikmatinya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT