Beranda Narasi Sejarah Riwayat Raja Bone (19): La Pareppa To Sappewali

Riwayat Raja Bone (19): La Pareppa To Sappewali

sumpang labbu, bone (foto: liputan6)
Sumpang labbu, bone (foto: liputan6)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya: Riwayat Raja Bone (18): La Padassajati To Appaware

PALONTARAQ.ID – La Pareppai To Sappewali menggantikan saudaranya La Padassajati menjadi Mangkau’ di Bone. Inilah anak tertua dari La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng dari istrinya We Mariama Karaeng Pattukangang.

Selain sebagai Arumpone, La Pareppai To Sappewali juga memangku sebagai Somba Gowa dan Datu Soppeng. Dia menggantikan neneknya sebagai Somba Gowa dalam Tahun 1709.

Dalam suatu khutbah jum’at, Arumpone ini disebut Sultan Ismail. Sampai masa pemerintahannya, masih sangat kuat hasil politik kawin mawin Bone-Luwu-Gowa yang digagas Arung Palakka Petta Torisompae mendominasi pemegang tahta Gowa dan Bone.

Lontaraq Akkarungeng ri Bone tak banyak mengungkap tentang perjalanan kekuasaannya ketika menjadi Karaeng Gowa dan Arumpone. Hanya disebutkan bahwa saat La Pareppai To Sappewali memangku Karaeng Gowa, ia bermusuhan dengan ayahnya dan permusuhan tersebut berakhir dengan kekalahan Gowa dari serangan Bone.

Disebutkan pula sedikit tentang ketidakcakapan La Pareppai To Sappewali dalam mengendalikan pemerintahan, maka dalam Tahun 1711, Ia meletakkan kasombang (takhta) di Gowa, Bone dan Soppeng.

Nampaknya penulis Lontaraq Akkarungeng ri Bone lebih menitik-beratkan uraiannya tentang Salasila (silsilah) dari Arumpone yang pernah memangku Tahta Gowa ini.

Dalam Lontaraq tersebut disebutkan anak dari La Pareppai To sappewali kawin dengan We Gumittiri yang melahirkan La Muanneng Arung Pattiro. Inilah cucu La Pareppai To Sappewali yang kemudian kawin dengan sepupu satu kalinya We Pakkemme’ Arung Majang, anak dari MatinroE ri Malimongeng dari istrinya bernama Sitti Abiba.

La Muanneng dengan We Tenri Pakkemme’ melahirkan anak bernama La Pajarungi Daeng Mallalengi Arung Majang. Selanjutnya La Muanneng dengan We Gumittiri melahirkan La Massellomo Ponggawa Bone. Inilah yang dinamakan Ponggawa Bone LaoE ri Luwu.

Bola Soba Petta Punggawae, Watampone, Bone. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Bola Soba Petta Punggawae, Watampone, Bone. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sementara itu, secara berurut Lontaraq Akkarungeng ri Bone menyebutkan bahwa La Massellomo kemudian kawin dengan Petta ri Batu Pute, melahirkan La Massompongeng Arung Amali.

Kemudian kawin lagi dengan We Camendini Arung Sumaling yang melahirkan La Mappesangka Daeng Makkuling. Inilah yang kawin dengan Besse Tanete Karaeng Bulukumba. Selanjutnya La Massellomo kawin lagi dengan Arung Tajong.

Dari perkawinannya lahirlah La Mappapenning To Appaimeng Daeng Makkuling yang kawin dengan sepupu satu kali ayahnya I Mida Arung Takalara anak dari MatinroE ri Malimongeng dari isterinya We Mommo Sitti Aisyah.

Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Tappu To Appaliweng Daeng Palallo, We Yallu Arung Apala, We Oja dan We Banrigau.

La Massellomo memiliki saudara perempuan bernama We Senradatu Sitti Amira Arung Palakka MatinroE ri Lanna. Saudarinya inilah yang kawin di Mangkasar dengan Makasuma yang kemudian melahirkan I Sugiratu.

Karena bercerai dengan Makasuma, maka kawin lagi dan melahirkan We Besse Karaeng Leppangeng. Dengan demikian I Sugiratu dengan We Besse Karaeng Leppangeng bersaudara, tetapi lain ayahnya.

Selanjutnya, I Sugiratu kemudian kawin dengan Arung Ujung anak dari To Marilaleng Pawelaiye ri Kariwisi dengan isterinya Karaeng Pabbineya. Dari perkawinan itu, lahirlah La Umpu Arung Teko.

Selanjutnya We Besse Karaeng Leppangeng kawin dengan sepupu satu kalinya bernama La Massompongeng Arung Sumaling. Dari perkawinannya itu, lahirlah We Rukiyah. We Rukiyah kawin dengan sepupu dua kalinya La Umpu Arung Teko Arung Ujung.

Dari perkawinannya itu, lahirlah We Bau Arung Kaju yang dikawinkan dengan sepupu dua kalinya La Mappasessu Arung Palakka anak dari La Tenri Tappu dari istrinya We Padauleng Arung Timurung. Dari perkawinannya itu, lahirlah We Baego Arung Macege. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).

Makam Raja - raja Bone di Bukaka, Watampone (foto: ist/palontaraq)
Makam Raja – raja Bone di Bukaka, Watampone (foto: ist/palontaraq)

Silsilah ini terus berlanjut, disebutkan bahwa We Besse kemudian kawin lagi dengan To Appo Arung Berru Addatuang Sidenreng MatinroE ri Sumpang Minangae’.

Dari perkawinan kedua ini melahirkan To Appasawe Arung Berru yang dikawinkan dengan Hatijah Arung Paopao, anak dari La Maddussila To Appangewa Karaeng Tanete dari istrinya bernama Sitti Abiba.

To Appasawe dengan Arung Paopao melahirkan Sumange’ Rukka To Patarai yang dikawinkan dengan anak sepupunya We Baego Arung Macege, anak dari We Bau Arung Kaju dari suaminya bernama La Mappasessu To Appatunru MatinroE ri Laleng Bata.

Sebagaimana disebutkan dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone, Dari perkawinan Sumange’ Rukka dengan We Baego Arung Macege, lahirlah We Pada Arung Berru dan Singkeru’ Rukka Arung Palakka.

Arumpone La Pareppa To Sappewali meninggal di Sombaopu, itulah sebabnya digelari MatinroE ri Somba Opu (1718 -1721) digantikan oleh saudaranya yang bernama La Panaongi To Pawawoi untuk menjadi Arung Mangkaue’ ri Bone (Raja yang berkedudukan di Bone). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT