Oleh: Etta Adil *)
Related Post: “Gona”: Sebuah Nama, Sebuah Pertemuan, dan Sebuah Pelajaran tentang Kerendahan Hati
PALONTARAQ.ID – Ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Meski puluhan tahun berlalu, meski kehidupan membawa kita ke begitu banyak kota, lembaga, dan perjumpaan, tempat-tempat itu tetap hidup di dalam ingatan. Ia menunggu saat yang tepat untuk memanggil kita pulang.
Demikianlah yang saya rasakan ketika mendampingi rombongan Study Comparative santriwati Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep berkunjung ke Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) Maccopa, Maros.
Bagi para santriwati, kunjungan ini mungkin adalah bagian dari rangkaian belajar, mengenal lingkungan pendidikan lain, memperluas wawasan, dan memetik inspirasi. Namun bagi saya, langkah kaki yang memasuki gerbang Maccopa sesungguhnya adalah langkah yang sedang kembali menelusuri jejak-jejak masa muda.
Saya tidak sedang mengunjungi tempat yang asing. Saya sedang pulang. Pulang kepada sebuah ruang yang tanpa saya sadari waktu itu, telah menjadi pintu pertama yang memperkenalkan saya kepada dunia pesantren.
Sebelum mengenal Maccopa, saya sesungguhnya tidak memahami apa itu pesantren. Saya hanya mendengar namanya dari cerita orang. Saya belum pernah melihat bagaimana kehidupan santri berlangsung, bagaimana disiplin dibangun, bagaimana ilmu dipelajari dengan adab, dan bagaimana ibadah menjadi denyut kehidupan sehari-hari.

Semua itu pertama kali saya kenal di tempat ini. Ya, di Maccopa. Saya masih duduk di bangku kelas dua menuju kelas tiga SMA ketika seorang sahabat mengajak saya datang ke Maccopa.
Dialah Kak A’mal. Kini media sosial lebih mengenalnya dengan nama Eyank Vhazolle—seorang pegiat teknologi informasi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai sosok kreatif dalam pengembangan digitalisasi pendidikan dan menjadi salah satu arsitek eksplorasi transformasi digital di SPIDI. Kak A’mal juga adalah Leader Google Educator Group (GEG), Sulawesi Selatan.
Namun jauh sebelum semua itu, bagi saya, beliau adalah seorang kakak yang membuka sebuah pintu. Pintu yang mempertemukan saya dengan dunia pesantren.
Barangkali beliau sendiri tidak pernah menyangka bahwa ajakan sederhana kepada seorang anak SMA untuk datang ke Maccopa kelak menjadi salah satu titik yang ikut membentuk perjalanan hidup saya.
Hidup memang sering berubah bukan oleh peristiwa-peristiwa besar, melainkan oleh ajakan-ajakan kecil yang kita iyakan. Di Maccopa inilah saya pertama kali benar-benar merasakan denyut kehidupan pesantren. Saya masih mengingat dengan sangat jelas suasana sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Kami menjalani mabit dan i’tikaf di lingkungan pesantren. Hari-hari terasa begitu panjang, tetapi justru dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Setiap malam kami dibangunkan untuk menunaikan shalat malam. Tidak ada keluhan. Tidak ada keterpaksaan. Yang ada hanyalah kerinduan menunggu imam memulai bacaan.
Saya masih dapat mengingat bagaimana imam membaca Al-Qur’an dengan tenang, panjang, dan penuh kekhusyukan. Imam itu tak lain adalah Gurutta Arif Marzuki, Pendiri dan Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros.
Satu malam. Satu Djuz. Begitulah setiap malam berlalu. Mungkin bagi sebagian orang itu terasa berat. Namun anehnya, ketika hati sedang menikmati ibadah, panjangnya bacaan tidak terasa sebagai beban.
Justru setiap ayat seakan mengajak kami berjalan semakin dekat kepada Allah SWT. Di situlah saya mulai memahami bahwa ibadah tidak selalu diukur dari cepat atau lambatnya selesai.
Ibadah adalah tentang menikmati setiap detik perjumpaan dengan Tuhan. Saya tidak tahu apakah saya akan kembali merasakan kekhusyukan yang sama seperti malam-malam Ramadhan di Maccopa itu. Tetapi saya tahu, kenangan tersebut tetap hidup hingga hari ini. Ia menjadi salah satu fragmen paling indah dalam perjalanan spiritual saya.
Di tempat inilah pula saya pertama kali mengikuti pengajian kitab Riyadhus Shalihin. Kitab yang hingga kini menjadi salah satu rujukan penting dalam pembinaan akhlak umat Islam, dan bahkan dibawakan pula pengajiannya di pesantren tempat saya mengabdi. Yang membacakannya adalah Kak Harits—yang kini dikenal sebagai Ustadz Harits—kakak dari Eyank Vhazolle.
Saya masih mengingat cara beliau membaca teks Arab, menerjemahkan, lalu menjelaskan kandungan hadits dengan bahasa yang sederhana namun mengena. Saat itu mungkin saya belum memahami seluruh isi kitab tersebut.
Tetapi ada satu hal yang saya pelajari sejak awal. Bahwa ilmu agama tidak hanya dipelajari untuk diketahui. Ia dipelajari agar membentuk cara hidup.
Hari ini, ketika puluhan tahun telah berlalu, saya semakin menyadari bahwa banyak sekali nilai-nilai yang tanpa sadar mulai tumbuh sejak masa-masa itu.
Tentang kedisiplinan. Tentang adab. Tentang menghormati guru. Tentang kesungguhan mencari ilmu. Tentang membangun hubungan yang akrab dengan Al-Qur’an.
Dan tentang keyakinan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya melahirkan orang yang cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak. Menariknya, awal perjumpaan saya dengan Eyank Vhazolle bukanlah melalui kegiatan pesantren.
Semuanya bermula dari sebuah bimbingan belajar dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Seperti banyak anak muda pada masa itu, saya juga membawa harapan besar untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Universitas Hasanuddin menjadi salah satu impian yang saya gantungkan. Namun Allah memiliki skenario yang berbeda. Saya tidak lulus di UNHAS. Tentu ada rasa kecewa. Sebab setiap anak remaja pasti pernah membayangkan kebahagiaan ketika namanya dinyatakan diterima di kampus impian.
Tetapi hidup mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Allah membuka pintu lain yang saat itu mungkin belum saya pahami hikmahnya.
Pada tahun 1994, saya diterima sebagai mahasiswa di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Departemen Kesehatan Ujungpandang. Di sanalah perjalanan berikutnya dimulai. Ehh, Beberapa mata kuliah Dasar Keahlian malah membawaku kembali ke Kampus UNHAS. Salah satu mata kuliah favorit saya ketika itu Mikrobiologi, diajarkan oleh Dr Asaad Maidin, M.Sc, kuliahnya harus ke Kampus UNHAS.
Hari ini, ketika saya kembali berdiri di lingkungan Maccopa, saya tersenyum mengingat semua itu. Saya pernah ketemu Kak A’mal di Kampus UNHAS dan sama-sama mengikuti Simposium Nasional Bioteknologi.
Betapa sering manusia menganggap jalan hidupnya melenceng dari rencana, padahal sesungguhnya Allah sedang mengarahkannya menuju takdir terbaik. Ya, waktu kemudian membuktikan bahwa saya dan mungkin juga kak A’mal tidak ditakdirkan sebagai “Orang Kesehatan”, tetapi sebagai orang yang menyehatkan pemahaman tentang “Internet Sehat dan Aman”.
Andaikan dahulu saya diterima di kampus yang saya inginkan, mungkin jalan hidup saya akan berbeda. Mungkin saya tidak akan menempuh perjalanan yang akhirnya mempertemukan saya dengan dunia literasi, sejarah, kebudayaan, dan pendidikan.
Usai meninggalkan kampus AKL Depkes Ujungpandang, saya merantau ke Irian Jaya (sekarang, Papua), lalu ke Kalimantan Timur (Balikpapan dan Samarinda), lalu dinikahkan pasca menuntaskan tugas sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dalam Pemilu 1999 di Era Presiden Habibie.

Perjalanan terus berlanjut. Karena menyukai dunia kepenulisan, saya akhirnya berkelana di dunia jurnalistik kewartawanan, sebagai wartawan hukum dan kriminal, lalu menjadi wartawan ekonomi dan bisnis. Istri membuka jalan untuk kuliah kembali dan dan akhirnya memilih kuliah dengan Jurusan Syariah, Manajemen Sumber Daya Manusia, dan terakhir Sejarah Peradaban Islam di tiga kampus berbeda.
Dengan jalan takdir yang mungkin sengaja dibuat rumit ini, Allah kemudian membuka jalan untuk menjadi wartawan, mengakrabi dunia pendidikan, menjadi guru di Pondok Pesantren, dan akhirnya juga menulis buku.
Jika bukan karena pengalaman di Jurnalistik-Kewartawanan, mungkin saya tidak akan menulis buku. Jika bukan karena pengalaman mengakrabi pesantren, mungkin saya tidak akan mendampingi para santriwati hari ini.
Dan mungkin saya tidak akan kembali ke Maccopa sebagai seseorang yang membawa rombongan santriwati untuk belajar dari lembaga yang pernah membentuk sebagian cara pandang saya terhadap kehidupan. Karena itulah saya percaya bahwa tidak ada pengalaman yang sia-sia.
Setiap perjumpaan adalah pelajaran. Setiap perjalanan adalah proses pembelajaran. Setiap kegagalan adalah belokan menuju jalan yang telah Allah siapkan.
Melihat para santriwati IMMIM berjalan menyusuri lingkungan SPIDI, saya seolah melihat bayangan diri saya puluhan tahun silam. Mereka sedang menanam pengalaman. Mungkin hari ini mereka belum menyadari arti dari setiap kunjungan, setiap dialog, setiap pertemuan dengan guru dan sahabat baru.
Namun dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang, boleh jadi mereka akan kembali ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, lalu berkata dalam hati, “Di sinilah dahulu salah satu mimpi saya mulai bertumbuh.”
Begitulah pendidikan bekerja. Ia tidak selalu langsung terlihat hasilnya. Kadang ia bersembunyi di dalam kenangan.
Lalu tumbuh perlahan menjadi cara berpikir, menjadi karakter, menjadi pilihan hidup, bahkan menjadi jalan pengabdian.
Terima kasih, Maccopa.

Terima kasih kepada Kak A’mal—Eyank Vhazolle—yang dahulu mengajak seorang anak SMA mengenal dunia yang sama sekali baru baginya. Terima kasih kepada Ustadz Harits yang memperkenalkan indahnya duduk di majelis ilmu melalui lantunan hadits-hadits Riyadhus Shalihin.
Dan terima kasih kepada semua guru yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa setiap ilmu, setiap nasihat, dan setiap keteladanan yang mereka tanamkan dapat hidup begitu lama dalam ingatan murid-muridnya.
Hari ini saya datang bukan lagi sebagai seorang remaja yang sedang mencari arah. Saya datang sebagai seorang pendidik yang mendampingi generasi berikutnya menapaki jalan ilmu.
Dan saya pulang dari Maccopa dengan keyakinan yang semakin kuat: setiap langkah kecil menuju tempat yang baik dapat menjadi awal dari perjalanan hidup yang luar biasa.
Barangkali itulah sebabnya Allah mempertemukan saya kembali dengan Maccopa. Bukan sekadar untuk bernostalgia. Melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang pernah singgah dalam hidup kita memiliki tanggung jawab untuk diteruskan kepada generasi sesudahnya. (*)
(* Etta Adil, Blogger dan Jurnalis Independen


