Oleh: M. Farid W Makkulau
Tulisan Sebelumnya: Riwayat Raja Bone (10): We Tenri Patuppu Maddusila
PALONTARAQ.ID – LA Tenri Ruwa Arung Palakka Arung Pattiro naik tahta sebagai Raja Bone XI menggantikan sepupunya, We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng. Ketika Arumpone meninggal dunia, orang Bone sepakat untuk mengangkat La Tenri Ruwa menjadi Mangkau’ di Bone.
Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Tenri Ruwa kawin dengan sepupunya We Baji atau We Dangke LebaE Datu’ Mario Riwawo. Dari perkawinan itu lahirlah We Tenri Sui. We Tenri Sui kawin dengan To Lempe Arung Patojo saudara kandung Datu Soppeng BeowE.
Dari perkawinannya lahirlah We Bubungeng yang berarti bersaudara kandung dengan We Tenri Sui. We Tenri Sui juga kawin dengan La Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle, anak We Cammare Datu Lompengeng MattendumpulawengE dari suaminya bernama To Wawo. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Tatta To Unru Datu Mario Riwawo.
Ada juga yang bernama We Tenri Abang, We Dairi (meninggal diwaktu kecil), We Tenri Wempeng Daunru (meninggal diwaktu kecil), La Tenri Garangi (meninggal diwaktu kecil), dan We Kacimpureng, tidak ada keturunannya.
Belum cukup tiga bulan La Tenri Ruwa memangku Arumpone, datanglah KaraengE ri Gowa membawa Islam ke Bone. Orang Gowa membuat benteng di Cellu dan Palette. Berkatalah Arumpone kepada orang Bone, ”Kalian telah mengangkat saya menjadi Mangkau’ untuk membawa Bone kepada jalan yang baik. KaraengE ri Gowa datang membawa Agama Islam yang menurutnya adalah kebaikan yang harus disebarkan. Sesuai dengan perjanjian kita yang lalu, siapa yang mendapatkan kebaikan, dialah yang menunjukkan jalan. Oleh karena itu saya mengajak kalian untuk menerima Islam”.
Lontaraq Akkarungeng ri Bone juga menceritakan penolakan rakyat La Tenriruwa untuk menerima Islam. KaraengE berkata, ”Menurutku Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi. Kalau engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Dewata SeuwaE (Allah SWT).
Menyambut seruan Raja Gowa tersebut, maka berkatalah Arumpone kepada rakyatnya, “Kalau kalian tidak menerima baik maksud KaraengE padahal dia benar, dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba namanya. Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai. Kalau kita melawan, itu adalah wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya tidak mampu untuk melawannya”.

Ketika itu semua orang Bone menolak Islam. Arumpone La Tenri Ruwa hanya diam, karena dia sudah tahu bahwa orang Bone berpendapat lain. Pergilah Arumpone ke Pattiro dan hanya diikuti oleh keluarga dekatnya.
Sesampainya di Pattiro, ia mengajak lagi orang Pattiro untuk menerima Islam. Ternyata orang Pattiro juga menolak. Akhirnya Arumpone naik ke SalassaE (istana) bersama keluarga dan hambanya. Ketika Arumpone ke Pattiro, orang Bone sepakat menjatuhkan La Tenri Ruwa. Diutuslah La Mallalengeng To Alaungeng ke Pattiro untuk menemui Arumpone.
Kepada Arumpone La Mallalengeng berkata, ”Saya disuruh orang Bone untuk menyampaikan bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak paduka sebagai Mangkaue’, tetapi paduka sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat Bone menghadapi musuh besar, paduka meninggalkannya”.
Arumpone menjawab, “Saya menyangkal kalau saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan cahaya yang terang. Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih jalan kegelapan. Makanya saya pergi meilih jalan kebaikan dan cahaya yang terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya”.
Ketika To Alaungeng kembali ke Bone, Arumpone La Tenri Ruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Pallette untuk bertemu dengan KaraengE ri Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette. Begitu pula KaraengE menyuruh Karaeng Pettu ke Pattiro menemui Arumpone.
Sesampainya Karaeng Pettu di Pattiro dan bertemu Arumpone, tiba-tiba tempatnya bertemu itu dikepung oleh orang Pattiro dan SibuluE. Arumpone sekeluarga bersama Karaeng Pettu meninggalkan tempat menuju ke puncak gunung Maroanging. Masyarakat Bone menolak ajakan rajanya memeluk Agama Islam, karena melihat kenyataan bahwa Raja Gowa datang dengan angkatan perang yang besar berarti pelanggaran atas kedaulatan Kerajaan Bone.
Setelah itu, pergilah Arumpone menemui KaraengE ri Gowa, sementara Karaeng Pettu tinggal menjaga Pattiro. Di Pallette Arumpone La Tenri Ruwa ditanya oleh KaraengE ri Gowa,”Sampai dimana batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”. Arumpone menjawab, ”Yang menjadi milikku adalah Palakka, Pattiro dan Awampone. Kalau Mario Riwawo adalah milik isteriku”.
Berkata lagi KaraengE, ”Ucapkanlah syahadat, biar Palakka, Pattiro dan Awampone saja yang menerima Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”. Arumpone menjawab, ”Karena saya akan mengucapkan syahadat, sehingga saya kemari”.
Selanjutnya KaraengE ri Gowa berkata, ”Saya juga tahu bahwa Pallette ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat berdirinya bentengku. Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun saya berikan kembali kepadamu”. Kemudian KaraengE ri Gowa, Karaeng Tallo dan Arumpone berikrar. Pertama diucapkan oleh KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo”.
“Inilah yang dipersaksikan Dewata SeuwaE bahwa bukanlah turunan KaraengE ri Gowa dan Tallo yang kelak akan mengganggu hak-hakmu. Kalau ada kesulitan, bukalah pintumu untuk kami masuk pada kesulitan itu”.
Arumpone menjawab, ”Wahai Karaeng, ikat padiku tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam pikiranku. Kalau ada kesulitan yang menimpa Gowa, biar sebatang bambu yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.
Setelah ketiganya mengucapkan ikrar, kembalilah Arumpone La Tenri Ruwa ke Pattiro. Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan bersama, dibakarlah Bone oleh orang Gowa. Menyerahlah Orang-orang Bone dan mengucapkan syahadat. Kemudian KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya.
Sejak La Tenri Ruwa meninggalkan Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone tak lagi menganggapnya sebagai Mangkaue’. Kesepakatan orang Bone adalah mengangkat anak dari MatinroE ri Sapananna (addenenna) Arung Timurung La Tenri Pale To Akkeppeang menjadi Arumpone (Tahun 1611).
Sebelumnya La Tenri Ruwa yang terusir sempat pergi ke Su’ (Mangkasar) dan tinggal pada Dato’ ri Bandang. Raja terusir ini pun diberi nama Islam, Sultan Adam dan diberi tempat oleh KaraengE di Bantaeng sampai meninggal disana hingga digelari MatinroE ri Bantaeng. (***).


