Oleh: M. Farid W Makkulau
PALONTARAQ.ID – INILAH untuk pertama kalinya Kerajaan Bone dipimpin oleh seorang perempuan. We Banrigau Daeng Marowa Makkaleppie’ naik takhta menggantikan ayahnya Arumpone La Saliyu Karampelua. We Banrigau digelari pula Bissu Lalempili. (Makkulau, 2009).
Di masa pemerintahan Arumpone I Benri Gau Daeng Marowa Arung Matajang, Kerajaan Bone mencapai stabilitas dalam negeri yang mantap serta pertanian yang berhasil. Raja perempuan pertama Kerajaan Bone (1470-1489) ini tidak meneruskan pendahulunya dalam perluasan wilayah kekuasaan tetapi aktif dalam upaya mengintensifkan perluasan lahan pertanian. “Membeli bulu’ (gunung) Cina dengan menukarnya 90 ekor kerbau, dan sawah di sekitar Kampung Laliddong dengan menukarnya 30 ekor kerbau”. (Kasim, 2002).
Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone, Arumpone ini memerintahkan Arung Katumpi menempati dan menjaga gunung tersebut. Karena jennang (penjaga) gunung Arumpone dibunuh oleh orang Katumpi, maka digempurlah Katumpi oleh Orang Bone sehingga dirampaslah sawahnya yang ada di sebelah timur dan barat Kampung Laliddong.
Saudara Arumpone I Benri Gau Daeng Marowa Arung Matajang yang bernama La Tenri Gora, diserahkan Majang dan Cina, maka La Tenri Gora disebut sebagai Arung Majang dan Arung Cina. Sedangkan anak pertamanya yang bernama La Tenri Sukki dipersiapkan untuk menjadi Arung Mangkau’ (Raja utama) di Bone.
Dengan membeli lahan pertanian padi tersebut berarti suatu upaya peningkatan produksi beras padi yang sangat penting artinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Bone, karena beras itulah yang menjadi makanan pokok penduduk Bone.
Hingga tahun 1489, Bone belum pernah terlibat dalam perang baik yang bersifat ofensif maupun yang bersifat defensif dengan kerajaan tetangganya. Bone selama itu benar-benar mampu menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat yang mantap. (Kasim, 2002).
Setelah kurang lebih 18 tahun lamanya dipersiapkan menjadi Arung Mangkaue ri Bone (Raja yang berkedudukan di Bone), maka dilantiklah La Tenri Sukki dan menempati Saoraja Bone. Makkaleppie’ bersama anak bungsunya yang bernama La Tenri Gora memilih bertempat tinggal di Cina.
Suatu waktu berada di Cina, Makkaleppie’ naik ke atas loteng rumahnya. Tiba-tiba ada api yang menyala di atas loteng (menurut keyakinan To Bone disebut api dewata). Setelah api itu padam, Makkaleppie’ tidak nampak lagi di tempat duduknya. Oleh karena itu, We Banrigau Daeng Marowa dinamakan Mallajange’ ri Cina, artinya yang menghilang di Cina. (***)
Catatan: Cina yang dimaksud disini adalah salah satu negeri kecil dalam wilayah Kerajaan Bone, sekarang disebut Kecamatan Cina Kabupaten Bone



