Ngabuburit ala Palontaraq

by Etta Adil | Kamis, Mei 31, 2018 | 526 views
Memotret eksotisme Sungai Pangkajene kala jelang buka puasa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Memotret eksotisme Sungai Pangkajene kala jelang buka puasa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tulisan Sebelumnya:

Ngabuburit di Wirsal Pangkajene

Nikmatnya Berbuka Puasa dengan Pisang Ijo Khas Makassar

Arti Ngabuburit dalam KBBI. (foto: sc.etta/palontaraq)

Arti Ngabuburit dalam KBBI. (foto: sc.ettaadil/palontaraq)

NGABUBURIT bukan lagi istilah yang asing bagi kebanyakan orang, malahan kata ini akan lebih sering terucap di Bulan Suci Ramadhan.  Setiap orang yang update informasi seringkali menggunakan istilah ini untuk menunjukkan eksistensi dirinya. “Nggak Ngabuburit, nggak gaul”, kira-kira seperti itu ungkapan kekinian saat Bulan Ramadhan. Istilah Ngabuburit menjadi lebih identik dengan eksistensi dan mendapatkan tempat tersendiri di lingkungan atau komunitas sekitar kita.

Saking populernya istilah Ngabuburit di Bulan Ramadhan, istilah ini bukan hanya menjadi ungkapan orang per orang untuk memancing kegiatan bertemu di sore hari jelang buka puasa, tapi juga sudah menjadi tema acara tersendiri bagi komunitas dan bahkan acara stasiun teve. Dampaknya luar biasa, ada puluhan acara Ngabuburit dalam suatu daerah. Bahkan ada yang mengemasnya menjadi obrolan santai terhadap tema tertentu sampai diskusi panel untuk persoalan serius, dari skala kedaerahan sampai membahas trending topik nasional.

Mencipta dan Membaca Puisi, kegiatan asyik saat jelang buka puasa. (foto: hasbihtc/palontaraq)

Mencipta dan Membaca Puisi, kegiatan asyik saat jelang buka puasa. (foto: hasbihtc/palontaraq)

Istilah Ngabuburit pada akhirnya menjadi milik semua orang, organisasi dan komunitas, NGO maupun pemerintah. Di kalangan pegiat sosial media dan blogger, istilah Ngabuburit bukan hanya dimaknai bertemu di dunia nyata, tapi bercengkerama di dunia maya. Istilah Ngabuburit menjadi NgabuburIT (IT terakhir singkatan dari information technology). Ngabuburit juga menjadi alasan untuk bertemu bagi pegiat jappa-jappa, travelers, adventurers, komunitas road race, sepeda santai, sampai komunitas remaja.

Sebenarnya Istilah Ngabuburit itu sendiri berasal dari Bahasa Sunda di Jawa Barat. Kata “burit” itu merepresentasikan waktu  sore, senja, atau menjelang Maghrib. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Arti Ngabuburit adalah menunggu azan magrib menjelang waktu berbuka puasa pada Bulan Ramadan. Contoh kalimat: Anak-anak biasanya ngabuburit sambil bermain.  Kini, Istilah Ngabuburit lebih umum diucapkan sebagai ungkapan kegiatan menunggu waktu berbuka puasa, dimulai dari waktu setelah Ashar. Ngabuburit saat ini sudah menjadi tren atau sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari Bulan Ra­ma­dhan karena fenomenanya sudah begitu memasyarakat.

Mengajar anak-anak menulis adalah ngabuburit yang mengasyikkan. (foto: ist/palontaraq)

Mengajar anak-anak menulis adalah ngabuburit yang mengasyikkan. (foto: ist/palontaraq)

Ngabuburit di kampung atau di desa biasanya dihabiskan dengan melakukan permainan tradisional bersama teman sebaya. Bermain petak umpet, bentengan, meriam-meriaman dari bambu dan diisi dengan karbit lalu disulut api sehingga menghasilkan dentuman suara keras atau sekadar naik sepeda bersama, ataupun kegiatan positif lainnya yang khas kebiasaan di kampung.

Di kota, biasanya ngabuburitnya  jalan-jalan ke taman bersama kerabat keluarga atau sahabat atau teman. Ada juga yang ke pusat kuliner atau ke cafe dan mall. Namun ada pula yang menghabiskan waktu dengan beritikaf di masjid.  Sebagiannya lagi hang-out bersama dengan sahabat, teman, atau dengan anggota komunitasnya. Kadang pula yang mengemuka menjadi alasan ngumpul bukan ngabuburitnya, tapi buka bersama (bukber). Hanya saja itu juga acara Ngabuburit namanya, karena harus ngumpul dan cerita-cerita sebelum bukber.

Bagi Palontaraq, Ngabuburit adalah istilah untuk belajar, berkreasi dan berkarya di sore hari jelang buka puasa. Mencipta dan membaca puisi, menelusuri berbagai jajanan buka puasa di pusat-pusat keramaian, observasi obyek wisata sejarah dan destinasi wisata alam, atau mengisi materi pelatihan kepenulisan sampai jelang buka puasa. Banyak hal asyik yang bisa dilakukan jelang buka puasa, termasuk diantaranya menelusuri sejarah sosial dan perkembangan Islam di suatu daerah.

Jelang Buka Puasa, baca Puisi di tempat umum (foto: hasbihtc/palontaraq)

Jelang Buka Puasa, baca Puisi di tempat umum (foto: hasbihtc/palontaraq)

Jelang Buka Puasa, baca Puisi di tempat umum (foto: hasbihtc/palontaraq)

Jelang Buka Puasa, baca Puisi di tempat umum (foto: hasbihtc/palontaraq)

Ke depan, Palontaraq akan mengorganisir kegiatan positif secara berkala bertajuk Ngabuburit ala Palontaraq, berkumpul dan berdiskusi tentang topik-topik tertentu, terkait tulisan yang sudah terpublish di Web Blog Palontaraq atau tentang membahas isu —kedaerahan atau nasional–yang lagi hangat. Palontaraq terbuka untuk bekerjasama dengan Event Organizer (EO) yang ada, sebagaimana halnya kegiatan “Palontaraq Camp” atau “Palontaraq Goes To Schools” yang sudah dilaksanakan.

Ngabuburit akan semakin asyik dan seru jika diisi dengan kegiatan positif dalam skala lebih luas dan melibatkan banyak orang serta komunitas seide.  Meski begitu, karena kondisinya dalam suasana Bulan Suci Ramadhan, tetap berkegiatan dalam bingkai tidak merusak ibadah puasa kita. Ngabuburit saat kita berpuasa sejatinya  tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar saja, tapi juga belajar mengendalikan emosi dan nafsu serta  hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa.

Mari Ngabuburit, Mari Berbagi dan Peduli! (*)

Like it? Share it!

Leave A Response