Berhati-hatilah terhadap Hati

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Ummu ‘Adil

BERHATI-HATILAH  jika hati kian mengeras dan tak bisa mengenali kebenaran.Segera koreksi diri! Takutlah jika  hati susah menerima nasihat, namun sangat pandai menasihati.Takutlah jika muncul ego merasa diri paling benar sehingga mudah merendahkan yang lain.

Berhati-hatilah jika ego terlalu tinggi hingga merasa paling baik di antara yang lain.  Segera hisab diri! Jangan sibuk berprasangka buruk kepada yang lain sementara seringkali lupa bercermin. Takutlah jika ilmu membuatku menjadi sombong sehingga mudah memandang rendah orang lain yang berbeda.

Berhati-hatilah jika  lidah makin lincah membicarakan aib saudara,  namun lupa dengan aib sendiri  yang menggunung dan tak sanggup dibenahi. Segera evaluasi diri!  Takutlah jika hanya hebat dalam berkata, namun buruk dalam bertindak. Takutlah jika hanya pintar dalam berdakwah, namun susah untuk mentaati.

Lihat juga: 2o Tipe Hati Manusia dalam Al-Qur’an

Berhati-hatilah jika  hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengintrospeksi diri sendiri.  Segera benahi diri!  Jangan mudah membenci dosa orang lain namun sudah membenci dosa dan kesalahan sendiri. Jauhkan diri dari sifat berbangga diri, hasad, iri dan dengki.

Demikianlah hati, tak mudah diperbaiki. Sangat sulit dibenahi dan lebih banyak ingin menang sendiri.  Rawatlah hati dengan baik, karena ia  tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan.

Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.

Hati juga bisa menjadi sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotoran dan noda yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang empunya gemar mengotorinya.

Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen lain juga akan turut mati.

Lihat juga: 12 Tipe Hati yang Sakit menurut Al-Qur’an

Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”

Ilustrasi - Jagalah Hati

Ilustrasi – Jagalah Hati

Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati, diantaranya ialah:

1.  Taarikush Shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (Qs. Maryam: 59). Shalat lima waktu wajib dilakukan sepanjang hayat dan sengaja meninggalkan satu shalat saja pun maka dosanya sangat besar dan bergelar ia dengan nama  “fasiq”. Orang yang tidak shalat akan diazab di dalam kubur, di padang mahsyar dan di dalam neraka.

Orang yang telah mati hatinya tidak merasa bimbang sedikit pun dengan azab yang sedang menungggunya.Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa.

Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.

2.  Alfarh bi Addzanbi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (Qs al-A’raf: 3).

Orang yang sudah merasa tenang walaupun setiap hari melakukan dosa adalah pertanda Allah SWT telah menutup hati mereka.

Firman Allah SWT:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya:

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya segala dosa yang selalu mereka lakukan telah menutup hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin: 14)

Lihat juga: Mendidiklah dengan Hati, Niscaya Guru juga Dapatkan Hati

3. Karhul Qur’an was Sunnah, benci pada Al Quran dan Rasulullah SAW. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Al Qur’an dan al Hadits.

Tidak ada masa dalam hidupnya untuk membuka Qur’an, membaca dan memerhatikan maknanya. Sepanjang masa sibuk dengan perkara lain yang dianggap lebih baik dari membuang masa membaca dan memerhatikan makna Al-Qur’an.

Firman Allah SWT:

 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

 

Artinya:

“Maka kenapakah mereka tidak mau memerhatikan Al-Qur’an bahkan hati mereka sebenarnya telah terkunci.” (QS Muhammad: 24)

Orang yang hatinya mati, ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan Al-Qur’an.  Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang memikirkan perkara agama, berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW.

Firman Allah SWT:

 

أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 

Artinya:

“Mereka itulah orang-orang yang hati mereka, telinga mereka dan mata mereka telah dikunci oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS An-Nahl: 108)

4.  Hubbul Ma’aasi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.

Lihat juga: Merawat dan Menjaga Fungsi Hati

5.  Asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci.

Firman Allah SWT:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا

 

Atinya:

“Wahai orang-orang yang beriman. Tinggalkan perangai suka sangka buruk kerana sangka buruk itu adalah dosa dan jangan kamu mencari-cari salah orang lain.” (Qs. Al-Hujuraat: 12)

6.  Ghodbul ‘Ulama, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.

Firman Allah SWT:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا

وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ :١٧٩

Artinya:

“Dan sungguhnya akan Kami isikan dalam neraka Jahanam ramai dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai dari mendengar kebenaran.” (QS Al-A’raf: 179)

Lihat juga: Ciri Orang Sombong dan Tak Mau Dinasehati

7.  Himmatuhul Bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. ada beberapa cabang dari gila dunia, diantaranya adalah Penyakit Hati yang disebut Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain.

Orang yang hatinya mati, Keluarganya saja menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki.Mereka ini tidak takut lagi dengan mati dan siksa adzab kubur.

Firman Allah SWT:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Artinya:

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya (mereka berkata), “Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal solih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin (tetapi mereka sudah terlambat).” (Qs. As-Sajadah:12)

Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati. Aamiin.

Wallahua’lam ‘alam bish-shawab. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response