Laporan: M. Farid W Makkulau
PALONTARAQ.ID – Di Tompobulu, sebuah desa pegunungan Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan selama 10 terakhir mengeksplorasi kearifan lokal masyarakatnya menjadi sebuah Peraturan Desa (Perdes) yang harus diikuti dan ditaati oleh penduduk setempat.
Desa pegunungan yang terletak sekitar 800 meter diatas permukaan laut (mdpl) itu berada dibawah kaki Gunung Bulusaraung, suatu gunung yang pada puncaknya berbentuk ‘saraung’ (tudung petani).
Di desa yang masih dikelilingi ‘hutan perawan’ ini mensyaratkan perkawinan penduduknya, pada proses ijab kabulnya, dengan masih mengenakan pakaian pengantin adat Makassar, kedua mempelai harus bersama-sama menanam pohon disaksikan penghulu dan para saksi pernikahan.
Aturan desa yang mensyaratkan kedua mempelai masing-masing 5 pohon ini sebagai salah satu menjaga penghijauan dan kearifan ekologis penduduk setempat. Begitu pula halnya bagi setiap keluarga yang melahirkan, dipersyaratkan menanam pohon untuk sang bayi di areal rumahnya.

Aturan desa tersebut mengikat semua warga Desa Tompobulu Kecamatan Balocci tersebut. Di luar acara perkawinan dan kelahiran tersebut, tentu saja masyarakat tetap bisa menanam pohon kapan saja untuk kelangsungan hidup dan kelestarian lingkungannya.
Awalnya Desa Tompobulu sebelum terbangunnya betonisasi jalan di masa pemerintahan Bupati HA Gaffar Patappe merupakan desa yang sangat terpencil, jaraknya sekitar 80 km dari Kota Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep atau sekitar 20 km dari ibukota Kecamatan Balocci.
Masyarakat Desa Tompobulu selain dikenal dengan kearifan ekologisnya yang senantiasa menjaga hutan agar tetap lestari, juga dikenal dengan ketaatannya menjalankan perintah agama. Itulah sebabnya beberapa tahun terakhir Desa ini oleh Pemerintah Kabupaten setempat dijadikan pula sebagai Desa Percontohan Penerapan Syariat Islam.
Masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari berladang (padi kering), budidaya madu, dan gula aren (enau) merupakan masyarakat yang terbuka terhadap pendatang.

Tidak kurang dari 300 orang per bulan wisatawan domestik mengunjungi Desa ini, dan pada event tertentu menjadi destinasi wisata yang menarik minat wisatawan mancanegara. Dinding-dinding batu pada pegunungan karst yang melingkupi desa dibawah kaki Gunung Bulusaraung ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemanjat tebing dan kelompok pencinta alam.
Dengan potensi kehutanan dan perkebunan yang dimilikinya, masyarakat Desa Tompobulu adalah masyarakat yang rajin (pekerja keras). Desa ini pernah menjadi Juara I Lomba Desa Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan dan mantan Kepala Desanya, Drs Jabir pernah terpilih sebagai Kades Peduli Kehutanan Tingkat Nasional.

Untuk mencapai desa sejuk dan damai ini, pengunjung dapat mencapainya dengan motor maupun mobil, karena jalanan menuju puncak kaki Gunung Bulusaraung ini sudah bagus, maka perjalanan dapat ditempuh sekira sejam melewati kawasan hutan dan pegunungan karst yang melingkupinya. (*)
Tentang Penulis:
M. Farid W Makkulau, seorang penulis dan peneliti sejarah budaya Sulawesi Selatan, tinggal di Pangkep. Beberapa buku karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Manusia Bissu, dan lainnya. Penulis bisa dihubungi via email: penulissulsel@gmail.com atau ke: palontaraq@gmail.com
About the Author:
M. Farid W Makkulau, an observer of South Sulawesi culture, wrote a book: Pangkep History and Culture, History of the Kingdom in Pangkep, Bissu Man, and others. Authors can be contacted via email: palontaraq@gmail.com


