Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Tujuh tahun terakhir, saya lebih senang menghadiri “pesta kedua” dalam perkawinan adat Bugis Makassar. Pesta kedua itu lazim disebut “Kaddo Caddi” dalam Bahasa Makassar, meskipun sebenarnya tidak dalam wujud ‘pesta’ yang sebenarnya, tetapi lebih kepada menikmati jamuan tuan rumah bagi tamu dan undangan yang tidak sempat hadir pada pesta perkawinan adat anaknya.
Menghadiri “Kaddo Caddi”, selain suasananya lebih santai, para tamu dan undangan juga dapat bercengkerama dengan tuan rumah yang punya hajatan perkawinan.
Sambil makan dan menikmati segala macam penganan tradisional, para tamu dan undangan juga bisa hadir tanpa mengenakan pakaian jas lengkap, tapi cukup dengan berpakaian bebas, rapi dan sopan.
Pakaian kantoran pun tidak menjadi soal. Suasana santai dalam “Kaddo Caddi” meskipun tetap banyak orang dan ramai, membuat saya lebih memerhatikan kue-kue tradisonal yang tersaji. Mata penulis tak lepas memandang “Nennuq-nennuq” (Bugis) atau orang Makassar menyebutnya “Bannang-bannang”.
Menurut Ince Diah Daeng Ngunga, salah seorang maestro pembuat kue tradisional di Pangkajene Pangkep, dalam bahasa Makassar yang kental menyebutkan bahwa Kue Tradisional “Nennu-nennuq” merupakan salah satu kue yang harus ada dalam jamuan adat perkawinan Bugis Makassar, selain Cucuru Bayao, Seroq-seroq dan Ajoa (Ajoka).
Menurut Nenek yang sudah berumur sekitar 80 tahun ini, semua kue tradisional dalam jamuan adat perkawinan Bugis Makassar merupakan simbol dan harapan bagi kedua pengantin serta bagi kelangsungan rumah tangganya kelak.
* * *

Kue Tradisional “Nennuq-nennuq” terbuat dari tepung beras dan gula merah. Bentuknya menyerupai benang yang saling kait berkait seperti benang kusut. Rasanya gurih dan agak manis.
Kue “Nennuq-nennuq” atau “Bannang-bannang” ini merupakan simbol dari benang kusut sebagai satu kesatuan yang saling kait mengait dan mustahil untuk diuraikan.
Makna yang terkandung dalam Nennuq-nennuq atau Bannang-bannang ini adalah sebagai simbolkesatuan dalam ikatan yang satu sama lain saling kait-mengait sehingga tak dapat lagi dipisahkan. Makna ini memberikan pesan kepada pasangan suami-istri agar saling kait mengait (saling membutuhkan dan bekerjasama) dan hanya maut yang dapat memisahkan mereka.
Kue tradisonal “Nennuq-nennuq” ini bahan utamanya dari tepung beras ketan dan gula merah yang memiliki rasa manis dan renyah. Bentuknya yang unik kayak tumpukan serabut-serabut halus dengan beratnya yang sangat ringan membuat penasaran untuk mencicipinya.
Kue ini dapat bertahan selama sebulan dan karena alasan inilah sekarang kue tradisional ini sudah banyak dibuat untuk kebutuhan ‘buah tangan’ dari daerah Bugis Makassar, dan tidak lagi dibuat sekedar sebagai pelengkap jamuan adat perkawinan Bugis Makassar. (*)


