Oleh: Etta Adil
Di depan cermin, aku malu
Sungguh aku telah menua bersama dosa
Setiap detil langkah sepanjang tahun tak terarah
Berlagak sombong pertontongkan kejahilan
Di depan cermin, aku hilang
Terpenjara dalam keangkuhan
Tak terbilang kata terumbar lukai banyak hati
Tak tersentuh kalbu ke jalan ilahi.
Di depan cermin, aku tak berbentuk
Potretku hitam tak berciri
Ternoda dalam ruang maksiat
Kelam dan tenggelam dalam sumur kemunafikan.
Di depan cermin, wajahku retak
Tertusuk sembilu dalam langkah ragu dan kaku
Tertelan malu tak temukan cahaya
Berjuta pilu mencaci tanpa agama
Di depan cermin, tak temukan senyum
Terlihat nafsu bergerak bebas Mengkhayalkan segala kenikmatan semu
Mencari mangsa baru seiring khianat
Di depan cermin, aku lupa
Seakan hidup di dunia tanpa perhitungan
Selalu membusung pongah tanpa resah.
Pada jejak bernoda di lorong hati.
Di depan cermin, terperangah gelisah
Menggila menyayat rasa pada duka lara
Masihkah sanggup berjalan penuh dosa
Tampilkan diri bijak diatas kehinaan.
Di depan cermin, aku ego
Tengadah kepala yang berisi pikiran busuk dan perilaku haram
Terlanjur berpijak pada kejahatan
Tak pernah peduli dan berbagi
Di depan cermin, aku angkuh
Segala ujaran sumbang itu turut menyiksa.
Sombong tinggalkan simpati dan empati.
Bangga pada kebanggaan yang tak pantas.
Di depan cermin, aku pendosa
Segala aib terlihat jelas
Pada pandangan yang terpantul
Sungguh butuh waktu untuk sadar
Taubat tak tunggu waktu pada kematian yang tak teraba.
Sampai suatu saat,
Di depan cermin, pada Tuhan kubercakap,
Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Terimalah taubat hamba berpeluh keringat dosa dan noda ini.
Aku tak pantas mendapat surgaMu, tapi sungguh kutakut akan nerakaMU.
—-
Puisi Etta Adil, Minasatene, 17 Februari 2018.


