Program Tonasa Bersahaja dan Keswadayaan Masyarakat

Peresmian Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo”.Direktur Produksi, Joko Sulistiyanto menyerahkan Piagam Penyelesaian Pembangunan Baruga Sanggar Seni kepada Tokoh Adat Simpuang Ago disaksikan Bupati Pangkep H.Syamsuddin Hamid. (foto: mfaridwm)

Peresmian Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo”.Direktur Produksi, Joko Sulistiyanto menyerahkan Piagam Penyelesaian Pembangunan Baruga Sanggar Seni kepada Tokoh Adat Simpuang Ago disaksikan Bupati Pangkep H.Syamsuddin Hamid. (foto: mfaridwm)

Salah satu kegiatan CSR PT. Semen Tonasa di Desa Biringere, salah satu desa dalam lingkar perusahaan adalah Pembangunan Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” dengan biaya Rp.86 juta dari RKAPM 2016. Anggaran CSR PT. Semen Tonasa ini dikelola oleh Forum “Mitra Amanah” (FITRAH) dengan masa pembangunan selama tiga bulan, tahun lalu. Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” ini diresmikan oleh Bupati Pangkep, H. Syamsuddin Hamid, SE dan dari pihak Direksi diwakili oleh Direktur Produksi Djoko Sulistiyanto. Peresmian ini setahun lalu, tepatnya 16 November 2016 dirangkaikan dengan Upacara Adat Menre Baruga yang dipimpin langsung tokoh adat Biringere, Simpuang Ago yang dihadiri oleh Ketua DPRD Pangkep, Anggota DPRD Sulsel, Tokoh-tokoh adat, perwakilan organisasi dan lembaga kemasyarakatan serta ratusan warga dan tamu undangan.

Pembangunan Sanggar Seni ini telah lama dicita-citakan masyarakat Borong Untia Desa Biringere sebagai pelengkap pelaksanaan upacara adat yang setiap tahunnya dilaksanakan. Sebelumnya, Bantuan CSR secara terorganisir dan berkala setiap tahunnya sejak Tahun 2012 melalui Forum Multi-Pihak di wilayah Ring 1 (satu) PT. Semen Tonasa di Desa Biringere adalah Program Pengadaan Sarana Air Bersih, Bedah Rumah, Pengadaan Alat-alat Kesenian, Beasiswa, Penguatan Forum, Penghijauan, dan Program Comdev (Penguatan Kelompok UKM).

Simpuang Ago, Tokoh Adat Biringere. (foto: mfaridwm)

Simpuang Ago, Tokoh Adat Biringere. (foto: mfaridwm)

Tokoh sentral Adat di Biringere, Simpuang Ago mengungkapkan bahwa Pembangunan Sanggar Seni “Budaya Turiolo” telah lama dicita-citakan dan diimpikannya. Bahkan sebenarnya kami tak berharap Sanggar Seni tersebut terbangun atas partisipasi dan kontribusi pihak ketiga, karena kami menganggap bahwa sudah kewajiban kami masyarakat Borong Untia untuk mengembalikan perangkat dan pranata adat yang pernah ada sejak masa kekuasaan “Puang Tellue ri Borong Untia”.
Apa yang disampaikan oleh Tokoh Adat Masyarakat Biringere, Simpuang Ago tersebut diwujudkannya dengan penyiapan tanah untuk bangunan Baruga Sanggar Seni dimaksud, yang masih terhitung tanah adat. Atas desakan Forum Multi-Pihak Mitra Amanah yang menjadi mitra CSR PT. Semen Tonasa dan Pemerintah Desa setempat dengan didampingi Pendamping Desa(Local Community Organizer) yang memprogramkan Pembangunan Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” sehingga impian Masyarakat Borong Untia tersebut lebih cepat terwujud.

Baruga Sanggar Seni "Budaya Turiolo" Desa Biringere. (foto: mfaridwm)

Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” Desa Biringere. (foto: mfaridwm)

Bentuk rumah adat pada masa kekuasaan “Puang Tellue ri Borong Untia” telah diadopsi secara sederhana dalam bentuk bangunan pintu gerbang dan sanggar seni “Budaya Turiolo”. Bangunan Sanggar Seni ini merupakan bangunan rumah kayu sebagaimana umumnya rumah Adat Bugis Makassar, hanya saja arsitektur sedikit berbeda, terdiri atas satu ruang pertemuan dan satu ruang khusus untuk penyimpanan perlengkapan/alat seni tradisional.

Tari Paduppa (foto: ikah)

Tari Paduppa (foto: ikah)

Bangunan Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” yang berdiri diatas lahan seluas 9×6 meter mencerminkan jejak rekam kekuasaan “Puang Tellue ri Borong Untia”. Bangunan ini dicirikan dengan tiga tangga yang berdampingan pada bagian depannya dan bubungan atapnya juga bersusun tiga. Ruang pertemuan dalam Sanggar Seni dipenuhi dengan walasuji sebagai simbol bangunan kebangsawanan.

Foto bersama stakeholders usai Peresmian Baruga Sanggar Seni di Borong Untia, Biringere. (foto: ikah)

Foto bersama stakeholders usai Peresmian Baruga Sanggar Seni di Borong Untia, Biringere. (foto: ikah)

Jauh sebelum dibangunnya Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo” ini sudah hidup berbagai seni tradisi dan pertunjukan budaya yang diwariskan secara turun temurun, seperti Seni Mappadendang, Mangngaru, Tari Paduppa, Genrang atau Gendang, serta Seni Musik Gambus-Mandoling. Dengan adanya bangunan Baruga Sanggar Seni “Budaya Turiolo”, masyarakat semakin bersemangat untuk tetap mempertahankan adat dan tradisinya.

Dari kiri ke kanan: Mursalam (Ketua Forum Mitra Amanah), Chasiyanto (Konsultan Madya CFCiD), M.Farid W Makkulau (LCO Biringere), dan Abdul Azis Tahir (Manager CSR PT.Semen Tonasa). (foto: ikah)

Dari kiri ke kanan: Mursalam (Ketua Forum Mitra Amanah), Chasiyanto (Konsultan Madya CFCiD), M.Farid W Makkulau (LCO Biringere), dan Abdul Azis Tahir (Manager CSR PT.Semen Tonasa). (foto: ikah)

Kepala Desa Biringere, Andi Alam mengungkapkan bahwa kesenian tradisional masih lestari di wilayah pemerintahannya. “Usai panen padi biasanya masyarakat melaksanakan Upacara Adat Mappadendang (pesta panen padi), ada tradisi Angngaru atau Mangngaru (melakukan pernyataan sumpah setia kepada pemimpin), ada Seni Tari Paduppa sebagai tari penyambutan tamu penting dan tamu kehormatan adat, ada Seni Musik Tradisional Genrang dan Mandali’ sebagai kesenian musik asli khas bugis Makassar, dan juga Seni Musik Gambus sebagai seni musik tradisional dengan nuansa islami.

Baca Tulisan sebelumnya:
Sekilas Sejarah dan Budaya Biringere

Like it? Share it!

Leave A Response