BerandaLiterasiMaha Resi Agatsya

Maha Resi Agatsya

Oleh: Santo Saba Piliang

PALONTARAQ.ID – Ini klarifikasi nama tokoh yang di anggap dari luar Nusantara, sejatinya tokoh ini adalah asli nusantara dan nama ini ada jelas di bukti bukti kesejarahan kita bukan india

Cermati: Nama Agatsya ada pada kitab kitab terdahulu di antaranya Mahabarata

Berdasar penelitian tentang sejarah india kerajaan di india dengan nama mirip dalam Ramayana muncul sekitar tahun 500 SM dan mirip Mahabharata sekitar tahun 400 SM

Jauh setelah “Veda” di bukukan oleh bangsa Saka leluhur bangsa nusantara disana sekitar 1300 SM …bukti ini tidak di temukan pada catatan sejarah “Mainstream” saat ini

Resi Agastya Menurut pustaka Purana dan Mahabharata, dia lahir di Kasi (Benares) , Agastya memiliki seorang istri bernama Lopamudra, Agastya merupakan anak dari Pulastya dalam Mahabharata Lopamudra

Beliau memegang peranan penting dalam penyebaran “Dharma” atau “Dharmic Original “di Asia Tenggara, terutama Jawa, Indonesia, hal ini dikuatkan dengan keberadaan Prasasti Dinoyo yang diperkirakan dibuat pada Tahun Saka 682

Dalam prasasti disebutkan mengenai pembangunan tempat tinggal untuk Rsi Agastya, Prasasti yang mencatat mengenai keberadaan Agastya yakni Prasasti Porong, Prasasti ini berisi tentang beberapa nama lain yang disematkan pada Agastya, selain itu juga nama petapa ini juga tercatat di Ratu Boko.

Terdapat beberapa teks yang memperkuat pengaruh keberadaan Agastya dalam penyebaran “Dharma”, Kakawin Hariwangsa menyebutkan keberadaan Agastya sebagai penuntun dari Raja Jayabaya

Teks Agastyaparwa yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta, isinya berupa pertanyaan Dreshasyu yang mewakili seorang siswa kepada ayahnya yang mewakili seorang guru mengenai alasan manusia naik ke “Svargga”

Masa pemerintahan dan saat tokoh Agatsya ada di Nusantara adalah Gajayanalingga Jagatnata atau Gajayana saja adalah seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman di seluruh negeri

Sang Liswa dari Kanjuruhan atau dikenal
dengan gelar Gajayanalingga Jagatnata atau Gajayana saja adalah seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman di seluruh negeri

Gajayana berkuasa selama 29 tahun (760-789) Gajayana beristrikan Dewi Setrawati, anak pribumi desa Kanjuruhan,di desa itu Gajayana mendirikan istana dan sejak itu pusat pemerintahan pindah ke Kanjuruhan

Gajayana memiliki putri bernama Satyadarmika yang menikah dengan dyah Sangkhara atau Rakai Panangkaran Sri Maharaja Tejahpurnapana Panangkarana, raja Mataram di Jawa Tengah (754-782), Dari pernikahan itu lahirlah Dyah Panunggalan

Rakai Panunggalan yang nama nobatnya Rakai Panunggalan Bhimaparakrama Linggapawitra Jawabhumandala berkuasa di bagian utara Jawa, yaitu di daerah Mamratipura (Medang) selama 18 tahun (782-800)

Jadi nama Resi Markhadya juga Resi Agastya ada pustaka Purana Mahabharata juga Ramayana , selain nama Tokoh Agastya yang bukan dimaksud pada kitab diatas adalah ada di Nusantara dengan bukti :

✓ Nama Resi Agastya Kakawin Hariwangsa menyebutkan keberadaan Agastya sebagai penuntun dari Raja Jayabaya

✓ Teks Agastyaparwa yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta

✓ Isinya berupa pertanyaan Dreshasyu yang mewakili seorang siswa kepada ayahnya yang mewakili seorang guru mengenai alasan manusia naik ke Svargga

✓ Tentang Maha Rshi Agatsya dan nama Gajayanalingga Jagatnata atau Gajayana :

Gajayana adalah seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang sangat dicintai oleh para “Brahmana” , istilah “Brahmanism” ini yang ditulis sejarawan eropa , kaum yang membawa filosofi ajaran “Dharmic Original” yang dikemudian hari menulis “Vedic”

Kebebasan menafsirkan Veda menjadikan lahirnya ajaran baru Buddhism, Jainsm kemudian Hinduism di India, hingga kini tersimpan di Bali dan tergambar di situs situs nusantara

Resi Markhadya juga Resi Agastya, dianggap pembawa “Hindu” india ke Nusantara, kata “Hindu + Isme” baru ada sejak 1830 di masa kolonialis inggris dan tidak ada “Misionaris” india masa pra Islam masuk ke pelosok Nusantara, Salah kaprahnya semua situs yang tidak ada patung orang duduk bersila di labelkan berdasar ajaran ini

INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia, Exploration & Research
By: Santosaba (Revicionist History)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT