Kolom EGO (8-13)

EGO (8-13)

-

- Advertisment -

Angkot Pete-pete (foto: ist/palontaraq)
Angkot Pete-pete (foto: ist/palontaraq)

Tulisan Sebelumnya: EGO (7-Edisi Khusus: Perjalanan)

EGO (8): “Seandainya laki-laki, aku sudah lama membunuhnya.” Sopir angkot pete-pete yang membawaku dari Maros ke Pangkep itu terus saja berbicara. Aku kaku disampingnya, tak dapat berbuat apa-apa selain harus mendengarnya terus berbicara. Tak ada penumpang lain selain diriku.

Aku iyakan segala keluhannya seraya tetap waspada menghitung segala kemungkinan buruk berada disamping kirinya. Pasalnya, orang yang dia maksud akan dibunuhnya tak lain adalah ibu mertuanya dan ia berkendara setengah mabuk.

Bau alkohol sejak dari Maros menyengat hidungku. Aku mencoba alihkan pembicaraan dan berhasil membuatnya lebih fokus menatap jalanan dan kendaraan yang berlalu cepat didepannya sampai mobil yang kutumpangi tiba di Pangkep.

“Sabbaraki Daeng, Ka Nangaiki antu matoanta punna samata nakalarroi ijaki. Ka ero tongki antu nacini labbi bajipi sedeng tallasata.” (Artinya: Sabar pak, Kalau ibu mertua sering marah-marah sama bapak berarti itu tanda bahwa dia masih sayang karena dia ingin agar kehidupan bapak bisa lebih bagus lagi).

Dalam hati, aku menghardik diri yang sok bijak.  Kehidupanku sendiri tidak lebih baik dari sang sopir dan masih jauh dari harapan mertua, yang juga terkadang curhat ke istri, agar aku mencari pekerjaan yang lebih layak.

Aku turun di pinggir jalan depan rumah seraya melebihkan tarif angkot pete-petenya. “Terima kasih. Ini cukup untuk aku tidak dimarahi,” ujarnya tersenyum. Senyum yang lebar sekali.

Sekejap aku seperti tertipu mendengar ucapannya. Apakah dia mengarang cerita untuk dikasihani?  Tapi akh, sudahlah. Toh, aku juga mendapat sedikit tambahan penghasilan pada hari itu, yang kuyakin akan membuat tersenyum istri dan mertua.

Catatan Ego (8) Etta Adil, Pangkep, 16 September 2012.

EGO (9): Seorang mahasiswa aktivis pro demokrasi datang bertamu ke rumah dan menyodorkanku sebuah majalah dimana terdapat artikel tulisannya. Artikel tersebut cukup menarik, berusaha mengungkap perjalanan demokrasi “prosedural” di Pangkep pasca reformasi nasional 1998.

Membaca artikel tersebut,  aku menduga bahwa sang mahasiswa ini akan melengkapi sumbernya terkait sejarah dan perkembangan Pemilu di Pangkep, tapi yang ditanyakannya kemudian lain. Dia malah meminta tanggapanku soal demokrasi dalam konteks budaya. “Kan,  bapak Budayawan”, ujarnya.

“Terima kasih, aku ini bukan budayawan dan di setiap tulisanku aku tak pernah mengaku budayawan loh,” sanggahku. “Tapi berbicara soal demokrasi lokal, aku ini sangat pantas kau wawancarai terkait perjalanan demokrasi prosedural di Pangkep pasca reformasi nasional Tahun 1998, sekaligus melengkapi artikelmu di majalah itu,” tambahku.

“Kapasitas bapak?” – tanyanya. “Aku ini pelaku dan saksi sejarahnya. Aku ini Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pemilu multipartai pertama pasca reformasi pada Pemilu Tahun 1999 di Kecamatan Pangkajene, memimpin 48 orang perwakilan partai politik sekaligus tim seleksi KPUD pertama pada Pemilu Tahun 2004 lalu,” jawabku terdengar sombong.

Usai wawancara dan sang mahasiswa itu telah pulang, istriku mendekati seraya berujar, “Tadi itu Etta sesumbarnya kelewatan.” Aku menyimak penilaiannya.  “Sesekali memang kita perlu mengenalkan diri pada generasi yang tidak sezaman dengan kita,” ujarku berlalu.

Catatan Ego (9) Etta Adil, Pangkep, 17 September 2012.

EGO (10): Sejak kemarin demonstrasi menentang film “Innocent of Moslem” yang ditayangkan televisi menjadi pembicaraan dimana– mana, termasuk di warkop tempatku mangkal saat membawa seorang kawan berkeliling memotret potensi wisata sungai di daerahku.

Disekitar mejaku, ada satu dua mahasiswa yang kukenali sering “turun ke jalan”, ada anggota DPRD yang saban hari lebih sering kulihat di warkop dibanding berada di kantornya, ada wartawan, ada kontraktor, satu dua pegawai negeri serta pejabat daerah.

“Dimana–mana, umat Islam di berbagai belahan dunia sudah melakukan demonstrasi besar-besaran tidak terima terhadap penghinaan Nabi. Kita juga harus turut ambil bagian dari barisan yang menentang Film bangsat tersebut,” ujar sang mahasiswa berapi-api. Pejabat daerah dan anggota DPRD yang mendengarnya hampir bersamaan, seakan telah bersepakat sebelumnya berujar, “Asal jangan anarkis”.

Sementara sang wartawan tersenyum berujar kepada kontraktor disampingnya, “Bakal dapat berita bagus, nih.” Kawan didekatku terpancing untuk berkomentar, “Setahuku, Film “Innocent of Muslim” itu disutradarai oleh seorang gila bernama Nakoula Basseley Nakoula, bukan Sam Bacile. Film tersebut didukung oleh seorang provokator agama bernama Terry Jones, memang sengaja dibuat untuk memancing amarah umat muslim dunia dan pada akhirnya melakukan tindakan anarkis. Jika terjadi demikian, berarti tujuan mereka tercapai, membuat umat muslim terkesan anarkis dimata dunia,” jelasnya.

Aku sangat puas mendengar penjelasan kawan tersebut. “Nah ini rasional. Terima kasih kawan. Kamu kenali persoalannya. Orang gila bikin ulah, kok kita malah mau bakar rumah sendiri,” ujarku seraya membayarkan kopi kawan itu dan tak peduli lagi segala komentar di warkop tersebut.

Catatan Ego (10) Etta Adil, Pangkep, 18 September 2012.

EGO (11): “Mama, itu Etta … , itu Etta tidur lagi di kamarnya Adil.”  Sayup–sayup kudengar keluhan anakku jika aku tidur di kamarnya. Ini untuk yang kesekian kalinya ia mengeluhkan kehadiranku di kamarnya. “Memangnya kenapa kalau Etta tidur di kamarnya Adil?” tanya mamanya.

Kucoba untuk tetap pura-pura tidur di kamar anakku, meski sedari tadi aku sudah terjaga mendengar perbincangan mereka di ruang tamu. “Etta itu suka masuk kamarnya Adil karena mau lihat Adil belajar. Etta juga masuk di kamarnya Adil supaya Adil tidak nonton televisi dan main PS terus,” jelas mamanya.

“Bukan itu mama. Tidak apa-apa Etta masuk ke kamarnya Adil, asal jangan tidur,” balasnya.

Aku penasaran dan mencoba meraba apa alasannya hingga tak suka melihatku tidur di kamarnya. “Abbebei Etta, mama. Bantalnya Adil penuh leleran liurnya Etta. Mama sendiri itu yang repot kalau setiap hari ganti sarung bantalnya Adil.”

Jawaban yang tak kuduga sama sekali. Aku mencoba sembunyikan tawa, bangkit dan berkacak pinggang diantara keduanya. “Pokoknya terserah Etta mau tidur dimana. Mau tidur di kamarnya Adil atau Mau tidur di kamarnya mama, Terserah Etta. Etta bos di rumah ini,” ujarku seraya melirik mamanya yang juga menahan tawa.

Catatan Ego (11) Etta Adil, Pangkep, 19 September 2012.

EGO (12): “Etta capek, nak!” ujarku saat anak meminta diantar ke sekolahnya. Tiba-tiba saja aku merasa capek sekali. Aku baru merasakannya sekarang. Ternyata selama ini aku menjadi “tukang ojek” sudah memasuki tahun keenam. Setiap pagi mengantar anak ke sekolah dan siangnya menjemputnya. Tak pernah ada perasaan terbebani, semuanya kulakukan dengan senang dan pagi hari ini tiba-tiba saja aku merasa capek sekali mengingat enam tahun melalui jalan yang sama dan kembali lewat di jalan yang sama.

“Mama saja yang antar Adil ya!”

Catatan Ego (12) Etta Adil, Pangkep, 20 September 2012.

EGO (13): “Etta, mana itu komik Kisah Si Lemo?” – tanya anakku. “Cari di rak buku itu, Nak!” jawabku. Tak banyak orang yang tahu kalau aku sangat suka menggambar dan buku komik “Kisah Si Lemo” adalah komik karya pertamaku yang diterbitkan atas pesanan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) bekerjasama dengan Coremap II Pangkep Tahun 2007 lalu.

Komik ini bercerita tentang petualangan Si Lemo dari Pulau Salemo melawan para perusak terumbu karang. “Adil simpan komik ini di kamarku, Etta nah”, ujar anakku.

“Ehh, boleh Adil simpan dengan syarat jangan dicoreti. Itu arsipnya Etta. Itu boleh jadi komik pertama dan komik terakhir yang pernah Etta buat. Adil harus bangga dengan itu”, jawabku.

“Lantas, Adil harus bilang wow gitu”, balasnya lalu berlari masuk ke kamarnya.

Catatan Ego (13) Etta Adil, Pangkep, 21 September 2012.

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan Rapid Test di Makassar akan digratiskan, khususnya bagi mereka yang...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan Sedekah PALONTARAQ.ID - "Apakah saya sudah bersedekah hari ini?" Pertanyaan ini...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Fikih

  Lihat pula: Materi Khilafah digeser dari Fikih ke Sejarah, Untuk Apa? PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Fikih

  PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu Mata Pelajaran Kepesantrenan untuk Kelas XI (Kelas II SMA/Aliyah) yang...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Tahfidz

  Mata Pelajaran : Tahfidz Kelas              : X (Kelas I SMA/Aliyah) Waktu           ...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Al-Qur’an-Hadits

  Mata Pelajaran : Alquran-Hadits Kelas              : XI (Kelas II SMA/Aliyah) Waktu             : – Guru...

Must read

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you