
Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – BANYAK orang hobi membaca, tapi tidak semua memiliki minat yang sama untuk menulis.
Pembaca belum tentu penulis, tapi Penulis sudah pasti seseorang yang gemar membaca. Ya, bagaimana bisa menulis kalau tidak gemar membaca?
Pekerjaan menulis adalah pekerjaan ‘membahasakan’ sesuatu: Pikiran, Perasaan dan Pengalaman.
Karena itu, pekerjaan menulis sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah dan oleh siapa saja, tua maupun muda.
Yang membedakannya adalah tingkatan dan teknik menulisnya. Termasuk dalam hal ini, penguasaan terhadap bahasan atau bidang pengetahuan yang dituliskannya.
Menulis itu mudah. Ya, karena semua orang sekarang ini begitu familiar dengan media sosial, facebook, twitter, path, whatsapp, telegram, line, dan lain sebagainya.
Jadi, setiap orang yang aktif bersosial-media, pastilah terbiasa menulis. Ya, minimal menulis status atau menulis komentar.

Di media sosial, setiap orang ingin tampil baik, sehingga belajar menulis yang baik-baik dan memperbaiki logika berpikirnya untuk tidak dibilang kurang cerdas atau basi analisanya.
Secara tidak langsung, ada proses pembelajaran disitu untuk mengetahui bagaimana menulis yang baik, minimal menyenangkan orang atau mengakrabkan diri dengan teman di friendlist.
Lihat juga: Menulis sebagai Interaksi Sosial
Dengan media sosial, banyak orang kemudian berlomba-lomba belajar bagaimana menulis yang baik, minimal untuk sebuah status agar mendapatkan komentar yang seru dari temannya.
Ini tentu hal yang baik karena banyak orang kemudian mencari kata-kata mutiara dan puitis sekedar untuk menarik perhatian dari teman di friendlist, meskipun tidak bisa menghilangkan narzisnya dan kadangkala alay.

Menulis adalah suatu kebutuhan, sama halnya dengan kebutuhan makan. Kalau makan untuk memenuhi kebutuhan fisik-biologis, maka menulis adalah kebutuhan psikis-sosiologis. Menulis dapat membangun suasana kejiwaan yang lebih terbuka dan dewasa.
Menulis adalah sarana interaksi sosial, sebagai sarana mengenal dan dikenal banyak orang. Dalam sehari, kalau makan idealnya tiga kali sehari maka begitupun dengan menulis. Paling tidak, ini bagi saya.
Lihat juga: Saya Menulis, maka Saya (Masih) Ada!
Menulis merupakan kegiatan untuk mendapatkan kepuasan intelektual dan emosional. Jangan pernah ragu atau patah semangat dalam belajar menulis yang baik. Teruslah menulis, menulis, dan tetap menulis. Dengan pembiasaan yang konsisten dan teratur layaknya memenuhi kebutuhan makan dalam sehari, yakinlah tulisan kita akan lebih baik.
PENULIS yang baik adalah pembelajar yang baik. Setiap hari, biasakanlah belajar dari tulisan atau ‘bahasa tulisan’ orang lain, baik lewat media cetak maupun di media online.
Jika terus menerus melatih diri untuk menulis yang baik, saya yakin kegiatan inipun bisa menghasilkan kepuasan finansial. Tidak percaya? Cobalah kirimkan hasil tulisan anda ke media cetak atau penerbit buku.

Lihat juga: Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata
Menulis adalah berbahasa, karena itu berbahasalah yang baik dan benar. Tulisan yang bagus tentu bukan hanya yang dimengerti oleh dirinya sendiri, tapi tulisan yang bahasanya mudah dicerna dan dipahami oleh pembacanya.
Selayaknya kebutuhan makan yang harus dipenuhi sesuai selera, maka menulislah juga sesuai seleramu, entah itu fiksi atau non fiksi, entah itu artikel ataukah esai, entah itu menggunakan cara pandang ataukah sudut pandang, entah itu menggunakan referensi ataukah hanya mengandalkan pemikiran sendiri.
Yang penting, jangan pernah berhenti menulis. Rahasia menjadi penulis adalah, “writing, writing, and keep on writing”.
Karena itu, Mari makan! Ehh, Mari menulis! Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya! (*)


