Beranda Edukasi Menggagas Pendirian “Museum Polobessi” di Makassar

Menggagas Pendirian “Museum Polobessi” di Makassar

Salah satu referensi tentang Polobessi (foto: mfaridwm)
Salah satu referensi tentang Polobessi (foto: mfaridwm)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Banyaknya fragmen sejarah dan budaya yang terlupakan selama ini, salah satunya disebabkan tiadanya tempat belajar untuk mengenal khazanah masa lampau.

Beberapa waktu lalu, saya menerima kiriman buku “Pamor dan Landasan Spiritual – Senjata Pusaka Bugis” langsung dari pakar senjata pusaka Bugis sekaligus penulis utama buku tersebut, Dr Ahmad Ubbe, SH. MH.

Penulis kemudian berpikir bahwa Senjata Pusaka Bugis yang lazim disebut Polobessi adalah salah satu fragmen budaya yang kurang dipahami dengan baik filosofi, pamor dan landasan spiritualnya terkait kehidupan sosiokultur masyarakat Bugis Makassar sehingga layak untuk dibuatkan museum tersendiri.

Dalam istilah Bugis, polo bessi adalah senjata tradisional dari besi dan diperlakukan sebagai senjata pusaka. Bentuknya bisa berupa badik (kawali), keris (gajang atau tappi), pedang (kelewang, alameng, atau sinanangke, parang (bangkung), tombak (bessi), anak panah, dan mata sumpit (seppu).

Itu pula sebabnya pemahaman tentang polo bessi mengacu kepada semua besi mulia atau besi yang bernilai yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, khususnya sebagai kharisma pertahanan diri, keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Polobessi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai senjata tikam tradisional, tetapi sebagai benda seni atau benda budaya. Di Sulawesi Selatan (Sulsel) sendiri belum ada satupun pusat informasi yang lengkap tentang Polobessi.

Karena itu, tidak ada salahnya jika pihak Pemerintah Propinsi Sulsel mulai memikirkan untuk membangun satu tempat tersendiri yang refresentatif sebagai bentuk kepedulian akan pelestarian Polobessi.

Katakanlah itu “Museum Polobessi”, tempat dimana semua orang dapat mengenal berbagai bentuk Polobessi, pamor dan filosofinya.

Tentu saja hal ini harus menjadi program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Propinsi (Pemprop) Sulawesi Selatan dan sebaiknya Museum tersebut dipusatkan di Kota Makassar, sebagai ibukota Propinsi Sulsel.

Ketika ide pendirian “Museum Polobessi” ini penulis komunikasikan dengan dua pakar Polobessi, Ahmad Ubbe dan Andi Irvan Zulfikar via chat facebook, beliau berdua menyetujui dan mendukung sepenuhnya.

Kenyataannya, hampir setiap rumah orang Bugis Makassar masih memiliki polobessi. Hanya saja, bagi generasi mudanya, mereka mewarisinya dari orang tua dan leluhurnya sehingga kurang memahami Polobessi itu dalam makna yang sebenarnya.

Umumnya mereka mengetahuinya hanya sebagai senjata tikam tradisional. Polobessi sebagai benda seni atau benda budaya sangat layak untuk menjadi obyek wisata budaya, salah satu fragmen budaya untuk memahami sejarah dan socio-kultur masyarakat Bugis Makassar.

Saat ini sebagian besar generasi muda hanya memperlakukan Polobessi hanya sebagai “ajang pamer” sekaligus kesombongan terhadap warisan leluhur meski mereka tidak paham filosofi dan landasan spiritual dari polobessi yang dimiliki.

Untuk isi museum, dapat dihadirkan berbagai macam bentuk polobessi seperti badik (kawali), keris (gajang atau tappi), pedang (kelewang, alameng, atau sinanangke, parang (bangkung), tombak (bessi), anak panah, dan mata sumpit (seppu).

Begitu pula senjata pusaka kerajaan atau Raja-raja di sulsel, buku pustaka sejarah dan budaya sulsel, lontaraq gajang, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan polobessi serta proses pembentukan pamornya, foto dan dokumentasi ragam upacara adat dan seni tradisional yang juga tak lepas dari penggunaan Polobessi, dan lain sebagainya.

Semakin banyaknya kolektor dan peminat Polobessi ditambah kehadiran “Museum Polobessi” nantinya bisa menjadi obyek wisata budaya menarik bagi wisatawan dan peneliti, baik domestik maupun mancanegara.

Polobessi terlebih lagi dapat berfungsi sebagai media pengembangan ekonomi kreatif, bukan hanya bagi panre bessi (pandai besi), tetapi juga akan mengikutkan pabanua, pa pangulu, panre salaka, pengumpul (kolektor), pemasaran, pemodal serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Semua bisa diberdayakan dan mengambil manfaat dari pengembangan ekonomi kreatif “polobessi’ itu.

Akhirnya, ide pendirian “Museum Polobessi” ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Pemprop Sulsel, terkhusus Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel untuk mewujudkannya sehingga satu fragmen budaya dari Budaya Bugis Makassar dapat ditemukenali dengan baik oleh masyarakat pendukungnya.

Upaya pendirian museum Polobessi ini juga sekaligus upaya menyambung pesan leluhur yang mengatakan, “Taniya Ugi, narekko de’na punnai kawali” (Bukanlah seorang Bugis jika tidak memiliki kawali) atau “Teai Mangkasara punna tena ammallaki badik” (Bukanlah orang Makassar jika dirumahnya tidak ada badik) dapat lebih dipahami makna kedalamannya.

Museum tersebut juga nantinya menjadi media pembelajaran dan jembatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk lebih mengenal budaya Sulsel. (*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT