Menengok Taman Sari, Kompleks Permandian Raja Jawa

Tampak depan Kompleks Cagar Budaya Taman Sari (foto: mfaridwm)

Tampak depan Kompleks Cagar Budaya Taman Sari (foto: mfaridwm)

Laporan:  Etta Adil

JIKA  berwisata ke Kota Yogyakarta, maka destinasi pertama yang muncul dibenak untuk dikunjungi adalah Keraton Yogyakarta atau Kedhaton. Kunjungan ke Kedhaton tersebut akan terasa belum lengkap jika belum mengunjungi Kompleks Cagar Budaya Taman Sari, yaitu kompleks permandian Raja Jawa beserta para permaisurinya tersebut yang berada di alun-alun utara keraton.

Untuk mencapainya hanya dibutuhkan waktu tempuh sekitar 5-10 menit dari Keraton Kesultanan Yogyakarta.

Rombongan pengunjung berfoto bersama dalam kompleks Taman Sari bagian depan setelah Gapura (foto: mfaridwm)

Rombongan pengunjung berfoto bersama dalam kompleks Taman Sari bagian depan setelah Gapura (foto: mfaridwm)

Beberapa pengunjung dalam areal Umbul. (foto: mfaridwm)

Beberapa pengunjung dalam areal Umbul. (foto: mfaridwm)

Menurut keterangan pemandu yang menawarkan jasa mengantar penulis, Taman Sari ini diarsiteki oleh Tumenggung Mangundipura dan Demang Tegis atas perintah Sultan Hamengkubowono I, dibangun pada Tahun 1758-1765.

Dari bentuk dindingnya yang tebal dan tinggi, konon “Istana Taman Air” ini selain sebagai tempat rekreasi bagi keluarga kerajaan, juga pernah dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan.

Umbul Binangun dalam Kompleks Taman Sari (foto: mfaridwm)

Umbul Binangun dalam Kompleks Taman Sari (foto: mfaridwm)

Salah satu sisi permandian khusus Raja disamping Umbul Binangun (foto: mfaridwm)

Salah satu sisi permandian khusus Raja disamping Umbul Binangun (foto: mfaridwm)

Hal menarik dari Kompleks Taman Sari ini adalah Umbul Binangun yang merupakan areal kolam pemandian bagi Sultan, Permaisuri dan Putri Sultan. Areal ini dikelilingi oleh tembok tinggi dan disini terdapat tiga menara kisah, dengan kamar tidur Sultan berdiri di sebelah selatan kolam pemandian dan kolam pemandian pribadi Sultan berada di balik menara.

Di bagian selatan istana, ada tempat khusus yang diyakini sebagai tempat pertemuan Sultan dengan penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Salah seorang pengunjung Taman Sari berfoto di depan pintu masuk ke Umbul Binangun (foto: mfaridwm)

Salah seorang pengunjung Taman Sari berfoto di depan pintu masuk ke Umbul Binangun (foto: mfaridwm)

Di tengah Segaran Taman Sari, terdapat Istana Kenongo, yang merupakan danau buatan Taman Sari yang menghubungkannya dengan danau buatan lainnya di dekat keraton.

Disebut Istana Kenongo, karena terdapat banyak pohon/bunga kenanga (kenongo) yang ditanam di halaman depan kompleks Taman Sari. Sebagaimana halnya di Istana, disini juga terdapat ruang keluarga, kamar tidur, ruang untuk membuat Batik, sebuah aula untuk melakukan tarian sakral klasik Bedoyo dan Srimpi, gerbang dan ruang jaga dijaga para prajurit istana.

Sumur Gumuling (foto: mfaridwm)

Sumur Gumuling (foto: mfaridwm)

Penulis pada salah satu sisi sumur gumuling yang menghubungkannya dengan lorong bawah tanah. (foto: ist/mfaridwm)

Penulis pada salah satu sisi sumur gumuling yang menghubungkannya dengan lorong bawah tanah. (foto: ist/mfaridwm)

Dalam kompleks Taman Sari ini, terdapat Pasareyan Ledoksari disisi Umbul Binangun yang merupakan tempat peraduan Raja dianggap sakral. Sumur Gumuling yang berupa bangunan bertingkat dua dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah.

Di masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau tempat sultan melakukan ibadah. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah.

Pada sisi lain, terdapat jalan rahasia yang menurut pemandu wisata Taman Sari, hal itu memang dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bila sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh.

Penasaran dengan kompleks Cagar Budaya Taman Sari. Silakan aja berkunjung kala berada di Yogyakarta. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response