Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – Seiring berjalannya waktu, berita ‘beras plastik’ lambat laun tenggelam dan pada akhirnya semua orang melupakannya. Benarkah ada beras plastik?
Dapatkah beras dipalsukan? Barangkali hanya orang yang benar-benar pernah memakannya, yang yakin dan meyakini bahwa beras memang dapat dipalsukan.
Mungkin tidak seratus persen, namun yang dimaksudkan oleh pemberitaan media beberapa waktu lalu itu adalah beras asli yang mendapat campuran unsur plastik.
Berita ‘beras palsu’ itu begitu menghentakkan kesadaran kita. Ini tidak bisa ditawar-tawar. Ini kasus nasional, meski pemerintah menanggapinya tidak seheboh pemberitaan media dan kegelisahan di tingkat masyarakat akar rumput.
Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita dan mengonsumsinya setiap hari, adalah hal yang harus dipersoalkan sampai tuntas. “Tak ada orang yang mau mengonsumsi beras plastik, kan?”
* * *
Begitu besar perhatian kita terhadap apa yang kita makan. Ini hal penting, tetapi kita terlupa dan melupakan hal lain yang tak kalah pentingnya.
Sesuatu yang palsu sudah berlangsung sekian lama, namun tidak menjadi perhatian kita. Apa itu? Apalagi kalau bukan muka-muka palsu yang menghiasi pergaulan keseharian kita?
Begitu banyak kepalsuan yang tanpa kita sadari dan malahan kita menikmatinya, termasuk “akun palsu” di situs jejaring sosial.
Kita seringkali menyebut ‘tentara plastik’ sebagai sebutan untuk tentara palsu dan ‘polisi tidur’ untuk polisi yang benar-benar kerjanya hanya tidur.
Menurutku, guru yang tidak memahami kompetensinya adalah guru palsu.
Di kantor pemerintahan, ‘pegawai’ yang honorer seringkali disebut sebagai ‘pegawai palsu’ dan yang mengkhawatirkan (semoga tidak terjadi) adalah sebutan ustadz palsu, bagi ustadz yang tidak menyelaraskan apa yang dikhotbahkannya dengan perbuatannya.
Untuk yang terakhir ini, sebenarnya bukan ditujukan kepada ustadz, tetapi lebih merupakan sebutan bagi artis atau selebritas yang mendadak jadi ‘ustadz’ dan ‘ustadzah’ kala Ramadhan.
Tanpa kita sadari, kita sudah lama hidup dalam kepalsuan. Alamat palsu, barang palsu, produk palsu, merk palsu, janji palsu, keterangan palsu, kebijakan palsu, KTP palsu, uang palsu, gigi palsu, tanda tangan palsu, dan akhir-akhir ini terungkap pula: ijazah palsu yang dikeluarkan perguruan tinggi palsu.
Semua orang ingin terlihat sempurna di lingkungannya, dan tanpa disadari penampilannya sudah tidak lagi mencerminkan identitas dan karakter dirinya.
Ingatlah bahwa kepalsuan itu adalah salah satu bentuk penipuan dan itu hanya akan berujung pada kehancuran pada diri sendiri. “Ah, kawe!” Mengapa banyak terjadi kepalsuan? Telisiklah dalam diri dan perhatikanlah lingkungan sekitar.
Ada begitu banyak orang yang menginginkan ‘menjadi sesuatu’, namun dia tidak memiliki kemampuan.
Terciptalah kemudian sarjana palsu, karena tak memiliki kemampuan menyusun skripsi sebagai persyaratan akademik yang mesti dilalui. Otomatis, skripsinya juga palsu, karena dibuatkan orang lain.
Terciptalah sogok menyogok, kontraktor palsu, karena ingin mendapatkan proyek tertentu namun dia tidak memiliki kemampuan mengikuti semua prosedur yang dibutuhkan untuk ikut tender proyek.
Terciptalah banyak pejabat karbitan yang naik pamornya hanya karena faktor kedekatan, hubungan emosional dan kekeluargaan. Di kantor pemerintahan, banyak sekali tercipta kepalsuan.
Setiap hari, bahkan hampir setiap saat yang kita lakukan adalah pemalsuan-pemalsuan. Jujur, saya sering mengalaminya dan suatu kesyukuran, bahwa saya ditakdirkan meninggalkan kantor pemerintahan, tempatku dahulu pernah mengabdi sebagai ‘pegawai palsu’. Tanda tangan palsu, diatas kertas ada di kantor namun faktanya bergembira ria di warung kopi dan cafe.
Dari atasan sampai staf rendahan melakukan kepalsuan. Semuanya tak luput dari pemalsuan-pemalsuan, dari daftar hadir sampai surat perjalanan dinas. Pekerjaan yang seharusnya selesai sehari, karena absensi palsu, pekerjaan selesai sepekan. Beberapa pegawai betah di kantor kalau ada orderan pekerjaan yang menguntungkan. Ah basi!
Pemalsuan yang sudah lestari dan dinikmati. Bukan hanya di kantor pemerintahan, di lembaga parlemen juga demikian.
Dana konstituen masuk kantong pribadi dan rakyat tak lagi dikenal. Ah Penipu! Hadir dalam rapat hanya untuk tanda tangan karena ada uangnya, bukan dengan tujuan ingin berkontribusi terhadap masalah rakyat yang dirapatkan.
Ah palsu! Wakil rakyat kok lebih senang studi banding daripada menengok kehidupan rakyat yang diwakilinya, giliran rapat, eh tidur. “Ah, dasar palsu. Legislatif penipu!”
“Tidak semua begitu, tapi sebagian besar begitu kan?” Semakin lestarilah segala bentuk pemalsuan itu jika wartawan yang seharusnya kritis, ternyata juga adalah wartawan palsu. Ciri-cirinya: kartu persnya palsu, tak memahami kode etik jurnalistik, sibuk mengejar angpao dan tak pernah dibaca beritanya, hanya sibuk bersafari ria bersama pejabat namun tak pernah memberitakan segala bentuk penyimpangan yang terjadi di depan matanya. “Ah, gelap. Palsu!”
Kepalsuan ada di depan mata kita dan sekali lagi, tanpa sadar menikmatinya. Ataukah memang kita menikmatinya karena turut mendapatkan keuntungan dari segala macam bentuk pemalsuan itu.
Setiap hari menulis status palsu di jejaring sosial dan kita menikmatinya. Ada pula yang bangga dengan copy paste hasil karya orang lain. “Ah, bangga dengan kepalsuannya!”
Ah, di facebook banyak sekali kepalsuan. Wajah bisa dipermak photoshop sebelum diupload. Pesek jadi mancung, Hitam jadi putih, bungkuk jadi tegap, muka ndeso jadi keren tampilannya.
“Ah, biasalah itu! Dari akun palsu, status palsu, sampai foto-foto palsu. Kita semua menikmatinya, kan?”
Semoga hari dan waktu yang kita jalani, lebih bisa mengikhlaskan diri kita sebagaimana apa adanya, Syukuri apa yang ada.
Semoga segala macam bentuk palsu itu ditanggalkan dan seharusnya ditinggalkan. (*)


