Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – ADALAH Haji Tajuk, seorang pengusaha bertabur kekayaan dan aset melimpah, namun ringan tangannya menyantuni fakir miskin dan mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan.
Haji Tajuk adalah pemilik salah satu usaha travel, percetakan, hotel dan bisnis hasil pertambangan di Kabupaten Pangkep. Beliau memang dikenal masyarakat atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya.
Keterkenalan Haji Tajuk setiap hari semakin bertambah. Banyak kemudian wirausahawan, dari yang hanya pemilik usaha kelontong sampai pengusaha ekspor impor memburu Haji Tajuk untuk dimintai rahasia suksesnya.
Haji Tajuk dinilai sebagai sosok nyata orang yang dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. “Semakin kaya, semakin menggila sumbangannya”, begitu kata orang-orang di sekitarnya.
Lihat juga: Hamzah Leo, Hidup untuk Menjadi Wartawan
Karena penasaran dengan rahasia suksesnya, maka beberapa pengusaha muda menjadi bersemangat mendatangi Haji Tajuk. Salah seorang pengusaha yang penasaran tersebut adalah Haji Asran, seorang pengusaha kuliner yang juga sudah mulai dekat dengan mesjid dan pengajian.
“Bagaimana kabarnya Haji Tajuk? Ajarkan pada kami ini Ji, bagaimana caranya agar kami bisa seperti Haji Tajuk. Sukses bisnisnya, tapi juga tak segan membantu siapa saja yang butuh pertolongan?”
“Alhamdulillah. Itu semua karena saya sangat sayang sama harta”, ujar Haji Tajuk.
Lihat juga: Tajuddin, Jurnalis Penyuka ‘Stand Up Comedy’
Spontan jawaban Haji Tajuk ini membuat Haji Asran semakin penasaran. Karena setahunya, Haji Tajuk adalah pengusaha yang gampang sekali mengeluarkan uang kepada orang disekelilingnya, termasuk membantu para relawan yang menggalang donasi dan bantuan bencana.
“Bisa lebih jelas lagi, bagaimana maksudnya Haji Tajuk? Karena yang saya lihat ini, Haji Tajuk bisnisnya maju dan sukses, juga tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan. Haji Tajuk adalah pengusaha yang ringan bersedekah dan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan”, tanya Haji Asran.
“Wah”, sahut Haji Tajuk tertawa,
“Daeng Haji salah alamat!”
“Loh ?”
“Lha iya, Daeng Haji. Haji Asran datang pada orang yang salah. Lah saya ini, Daeng Haji, juga sangat sayang sama harta dan sangat mencintai kekayaan saya. “Saya ini juga sangat mencintai aset yang tersebar di beberapa tempat dan di beberapa daerah”, sahut Haji Tajuk bersemangat.
“Loh ?” – Haji Asran semakin penasaran.
“Kok loh? Lah iya, Daeng Haji. Sebab saking cinta dan sayangnya saya pada harta, sampai-sampai saya tidak rela meninggalkan harta saya di dunia ini. Semua harta, kekayaan, dan aset saya itu akan saya bawa mati sampai di akherat”, tutur Haji Tajuk.
“Saya tidak mau berpisah dengan harta kekayaan saya tersebut. Makanya sementara ini, harta tersebut saya titipkan dahulu. Saya titip di Masjid. Saya titip pada anak yatim. Saya titip pada kaum dhuafa dan fakir miskin. Saya titip pada madrasah. Saya titip pada pesantren. Saya titip pada para pejuang fisabilillah dan para relawan bencana, saya titip pada guru-guru agama, saya titip pada karyawan yang rajin Ibadah, saya titip pada saudara dan karyawan yang dirawat di rumah sakit”, tutur Haji Tajuk.
“Alhamdulillah ada yang berkenan mau dititipi, saya senang sekali, Daeng Haji.”
“Alhamdulillah ada yang sudi diamanahi, saya bahagia sekali, Daeng Haji.”
“Insya Allah di Akherat nanti saya bisa ambil lagi, titipan saja.”
“Saya ingin kekayaan saya itu dapat dinikmati berlipat-lipat di alam kubur dan di akherat nanti!”
“Jadi,,,, Siapa bilang harta, kekayaan dan aset itu tidak dibawa mati?”, kunci Haji Tajuk.
“Benar sekali itu kata Haji Tajuk, terima kasih telah memberikan saya pencerahan. Memang Harta itu dibawa mati, ya!” simpul Haji Asran
“Iya benar sekali, Daeng Haji. Harta itu memang dibawa mati dan dipertanggung-jawabkan. Hanya saja supaya kita tidak berat membawanya dan tidak berat mempertanggung-jawabkannya, harusnya kita ringan dan ikhlas membaginya kepada siapa saja yang membutuhkan”, ungkap Haji Tajuk
Keduanya kemudian sepaham bahwa harta harus dibawa mati dengan cara ikhlas membaginya kepada siapa saja yang membutuhkan. Hanya saja kuncinya jangan bawa sendiri. Minta tolong dibawakan oleh Anak Yatim, Fakir Miskin, Kaum Dhuafa, Janda-janda tua atau ukhti-ukhti yang membutuhkan santunan, serta kepada Orang-orang yg berjuang di jalanNYA.
“Benar sekali itu apa yang Haji Tajuk ungkapkan. Tips bahagia Haji Tajuk sebagai Orang Kaya, sungguh luar biasa. Karena pada akhirnya, anak dan keluarga kita hanya bisa diberi kain kafan putih saja ketika ketika sudah meninggal nanti”, simpul Haji Asran.
Keduanya kemudian saling bergandengan tangan menuju Mesjid Quba untuk Shalat Jamaah Dhuhur. Semoga cerita dan dialog FIKSI antara Haji Tajuk dan Haji Asran ini dapat menjadi renungan buat kita semua, para sahabat Palontaraq yang saleh dan salehah. (*)


